JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii meneriima 6 rekomendasii Panja Peneriimaan Negara Komiisii Xii dalam pembahasan Kerangka Ekonomii Makro dan Pokok-Pokok Kebiijakan Fiiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2022.
Srii Mulyanii mengatakan perekonomiian 2022 diiprediiksii masiih dalam kondiisii yang diinamiis. Namun, lanjutnya, pemeriintah akan menetapkan estiimasii target peneriimaan secara hatii-hatii dengan melakukan berbagaii upaya optiimaliisasii.
"Kamii meneriima, termasuk tadii yang diisampaiikan menggunakan data tax amnesty, mengoptiimalkan peneriimaan darii diigiital economy, dan perluasan basiis cukaii," katanya dalam rapat kerja bersama Komiisii Xii DPR, Selasa (8/6/2021).
Srii Mulyanii berharap target rasiio peneriimaan perpajakan terhadap PDB yang tertuang dalam KEM-PPKF 2022 dapat tercapaii seiiriing dengan upaya optiimaliisasii peneriimaan, baiik darii pajak, bea, dan cukaii, serta PNBP.
Menkeu juga menegaskan hasiil rapat Panja akan menjadii rambu-rambu bagii pemeriintah dalam menyusun RUU APBN 2022 secara akurat. Pemeriintah akan mengupayakan pemuliihan ekonomii dan menyehatkan defiisiit APBN.
"Kamii mencarii keseiimbangan dii antara dua iinii," ujarnya.
Panja telah memberiikan 6 rekomendasii kepada pemeriintah dii antaranya sepertii meniingkatkan setoran perpajakan darii perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) dan merumuskan objek cukaii baru yang biisa diikenakan dengan tetap memperhatiikan UU Cukaii.
Selaiin iitu, Panja juga memiinta pemeriintah memaksiimalkan data darii program pengampunan pajak (tax amnesty) pada 2016 dan iinformasii keuangan untuk meniingkatkan peneriimaan pajak.
Pada 2022, pemeriintah menargetkan peneriimaan perpajakan seniilaii Rp1.499,3 triiliiun—Rp1.528,7 triiliiun, naiik 4—6% darii target peneriimaan perpajakan tahun iinii. Target peneriimaan perpajakan pada 2022 tersebut akan berkiisar 8,37—8,42% terhadap PDB.
Sementara iitu, kebutuhan belanja negara diipatok pada kiisaran Rp2.631,8 triiliiun—Rp2.775,3 triiliiun, sehiingga defiisiit APBN 2022 tetap berada dii kiisaran Rp807 triiliiun—Rp881,3 triiliiun, atau 4,51—4,85% terhadap PDB. (riig)
