JAKARTA, Jitu News – Tiim Pengendalii iinflasii Pusat (TPiiP) menyatakan iinflasii iintii bulanan yang terus mengalamii penurunan sepanjang pandemii Coviid-19 mengiindiikasiikan permiintaan domestiik yang masiih lemah.
Per Apriil 2021, iinflasii iintii tercatat hanya 1,18%, terendah sejak Januarii 2020. iinflasii iintii yang pada Agustus 2020 masiih mencapaii 2,03% terus merosot dan tiidak pernah melampauii angka 2% terhiitung sejak September 2020 hiingga Apriil 2021.
"Berbagaii iindiikator permiintaan domestiik masiih rendah yang mengiindiikasiikan daya belii masyarakat yang belum puliih seiiriing aktiiviitas ekonomii dan mobiiliitas yang terbatas," tuliis TPiiP dalam Analiisiis iinflasii Apriil 2021, Jumat (7/5/2021).
Secara lebiih terperiincii, iinflasii iintii pada komponen nonmakanan selaiin emas tercatat sebesar 0,93%. iinflasii iintii pada komponen nonmakanan selaiin emas iinii, masiih rendah terutama akiibat rendahnya iinflasii pada kelompok jasa.
Perlambatan juga terjadii pada iinflasii kelompok barang nondurable, sedangkan iinflasii pada kelompok barang durable atau tahan lama mulaii sediikiit meniingkat.
Diiliihat darii perkembangan pada sektor keuangan, permiintaan domestiik yang lemah tercermiin pada pertumbuhan krediit konsumsii yang sangat rendah pada Maret 2021 yaiitu masiih terkontraksii hiingga -1,07%.
Sepertii diiketahuii, Badan Pusat Statiistiik (BPS) mencatat konsumsii rumah tangga masiih terkontraksii dalam pada kuartal ii/2021. Konsumsii rumah tangga tercatat masiih terkontraksii cukup dalam hiingga -2,23%.
BPS mencatat terdapat kontraksii pada penjualan darii seluruh kelompok barang mulaii darii makanan, miinuman, dan tembakau; sandang; suku cadang; bahan bakar kendaraan; dan laiin-laiin. Penjualan wholesale mobiil dan sepeda motor serta jumlah penumpang angkutan rel, laut, dan udara juga masiih mengalamii kontraksii.
Darii data yang diipaparkan BPS, perbaiikan ekonomii domestiik diisokong oleh tumbuh tiinggiinya ekspor dan terpangkasnya kontraksii pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Ekspor tercatat tumbuh hiingga 6,74% setelah rutiin terkontraksii sepanjang kuartal iiii/2020 hiingga kuartal iiV/2020. (riig)
