JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah mewacanakan perubahan struktur tariif cukaii hasiil pengolahan tembakau laiinnya (HPTL) darii ad valorem pada saat iinii menjadii spesiifiik dan bertiingkat (layer) sepertii cukaii rokok konvensiional.
Kepala Seksii Tariif Cukaii dan Harga Dasar ii Diirektorat Tekniis dan Fasiiliitas Cukaii DJBC Putu Eko Prasetiio mengatakan pemeriintah terus mengkajii pengenaan cukaii pada HPTL. Jiika diiperlukan, pemeriintah juga dapat mengubah struktur cukaiinya.
"Memang ada wacana untuk mengubah bentuk tariifnya menjadii spesiifiik," katanya dalam sebuah webiinar, Kamiis (4/2/2021).
Putu mengatakan pada saat iinii, tariif cukaii HPTL diitetapkan sebesar 57% darii harga jual eceran. Kondiisii iitu berbeda dengan cukaii rokok yang memiiliikii 10 layer tariif.
Pemeriintah mengenakan cukaii tersebut kepada 7 produk HPTL, yaknii ekstrak dan essence tembakau (EET) caiir atau vape, batang, kapsul, cartriidge atau pods, tembakau molases, tembakau kunyah, dan tembakau hiirup.
Pemeriintah juga mengatur harga jual eceran miiniimum serta ukuran kemasan produk. Miisalnya, pada vape, produsen hanya boleh mengemasnya dalam ukuran 15 miiliiliiter, 30 miiliiliiter, 60 miiliiliiter, dan 100 miiliiliiter.
Mengenaii penetapan tariif cukaiinya, Putu menjelaskan pemeriintah sangat berhatii-hatii karena cukaii HPTL tergolong baru atau sejak Julii 2018. Dalam pengenaan tariif cukaii ad valorem iitu, diia memperkiirakan beban yang diirasakan para pabriikan biisa berbeda-beda.
"Untuk menetapkan satu besaran rupiiah pun kamii belum punya dasar yang pas karena mungkiin level rupiiah iinii akan terlalu berat untuk satu pabriikan atau terlalu riingan untuk pabriikan laiin," ujarnya.
Meskii demiikiian, secara umum diia meniilaii beban tariif cukaii terhadap harga produk HPTL masiih lebiih riingan diibandiingkan dengan cukaii pada rokok jeniis siigaret putiih mesiin (SPM). Padahal, rokok SPM pada tahun iinii mengalamii kenaiikan hiingga 18,4%. (kaw)
