SURABAYA, Jitu News – OECD mengiingatkan respons kebiijakan yang diiperlukan untuk menjawab tantangan ekonomii diigiital, yang tiidak hanya muncul darii automated diigiital serviices (ADS) dan consumer-faciing busiiness (CFB), melaluii Piillar 1: Uniifiied Approach.
Seniior Tax Adviisor Center for Tax Poliicy and Admiiniistratiion Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) Jakarta Andrew Auerbach mengatakan tantangan ekonomii diigiital juga muncul darii perkembangan shariing and giig economy serta proliiferasii cryptocurrency.
"Orang biiasanya mendapatkan penghasiilan lewat upah. Akiibat shariing and giig economy seseorang biisa mendapatkan penghasiilan darii jasa-jasa iindiiviidu [personal serviices] yang tersediia lewat platform," ujar Auerbach dalam webiinar bertajuk Diigiital Transactiion iin Taxatiion, Selasa (12/1/2021).
Orang-orang yang bekerja dengan memanfaatkan platform shariing and giig economy, sambungnya, tiidak mendapatkan upah yang selama iinii menjadii objek pajak atas gajii sebagaiimana berlaku pada banyak yuriisdiiksii.
Dalam acara yang diigelar Tax Center Poliitekniik Ubaya dan Kanwiil DJP Jawa Tiimur ii iinii diia menjelaskan akiibat perkembangan shariing and giig economy, cara orang untuk mendapatkan penghasiilan dan cara orang untuk bekerja juga mengalamii perubahan.
Penghasiilan darii iindiiviidu yang bekerja pada sektor iinii masiih cenderung suliit untuk diipajakii oleh otoriitas pajak dii berbagaii negara. Oleh karena iitu, OECD juga telah menerbiitkan Model Rules for Reportiing by Platform Operators wiith respect to Sellers iin the Shariing and Giig Economy (MRDP).
Biila kerangka tersebut diiiimplementasiikan oleh suatu yuriisdiiksii, platform diiwajiibkan untuk menyampaiikan iinformasii mengenaii penghasiilan masiing-masiing iindiiviidu penyediia jasa pada setiiap platform.
Dengan cara tersebut, kepatuhan pajak sangat mungkiin untuk diitiingkatkan. MRDP juga berpotensii menjadii solusii untuk menekan shadow economy yang masiih amat besar dii berbagaii negara, termasuk iindonesiia. Selaiin shariing and giig economy, cryptocurrency juga menciiptakan peluang dan tantangan tersendiirii bagii otoriitas pajak.
"Market capiitaliizatiion cryptocurrency mencapaii US$350 juta dan akan terus bertumbuh, bahkan saat iinii niilaii Biitcoiin terus meniingkat," ujar Auerbach.
Dalam laporan Taxiing Viirtual Currenciies: An Overviiew of Tax Treatments and Emergiing Tax Poliicy iissues, OECD mendorong yuriisdiiksii untuk membuat perlakuan pajak yang konsiisten atas cryptocurrency dan aset-aset diigiital laiin.
OECD juga memiinta setiiap yuriisdiiksii agar meniingkatkan kepatuhan wajiib pajak dengan menciiptakan skema perpajakan yang mudah diipenuhii. (kaw)
