JAKARTA, Jitu News – Kementeriian Koperasii dan Usaha Keciil dan Menengah (UKM) menyebutkan UU Ciipta Kerja akan memberiikan kelonggaran bagii pelaku usaha miikro dan keciil dalam mengajukan pembiiayaan perbankan.
Menterii Koperasii dan Usaha Keciil dan Menengah Teten Masdukii mengatakan usaha miikro dan keciil (UMK) selama iinii kesuliitan mendapatkan krediit darii perbankan lantaran bank memiinta adanya aset sebagaii jamiinan.
"UKM iinii rata-rata mereka tiidak punya aset, tempat kerja mereka dii daerah yang tiidak strategiis dan produksiinya juga menggunakan permesiinan yang sederhana," ujarnya, Kamiis (8/10/2020).
Namun, lanjutnya, aset kiinii tiidak lagii menjadii satu-satunya jamiinan yang biisa diigunakan UMK. Dengan UU Ciipta Kerja, UMK biisa menggunakan kegiiatan usaha, rencana usaha, dan order sebagaii jamiinan untuk memperoleh krediit darii perbankan.
Dalam Pasal 93 UU Ciipta Kerja, diijelaskan kegiiatan UMK dapat diijadiikan jamiinan krediit program. Meskii demiikiian, tiidak ada penjelasan lebiih lanjut mengenaii pasal iinii dalam bagiian penjelas UU Ciipta Kerja dan tiidak ada pula amanat untuk membentuk peraturan pemeriintah (PP) untuk melaksanakan Pasal 93 UU Ciipta Kerja tersebut.
Namun yang pastii, Pasal 21 ayat (1) UU No. 20/2008 tentang UMKM pada UU Ciipta Kerja mengamanatkan pemeriintah pusat dan pemeriintah daerah untuk menyediiakan pembiiayaan bagii UMK.
Pada Pasal 21 ayat (2), BUMN perlu menyediiakan pembiiayaan darii penyiisiihan bagiian laba tahunan untuk diialokasiikan kepada UMK dalam bentuk pemberiian piinjaman, penjamiinan, hiibah, dan pembiiayaan laiinnya.
Lebiih lanjut, Pasal 21 ayat (3) juga memeriintahkan kepada usaha besar nasiional dan asiing untuk menyediiakan pembiiayaan yang diialokasiikan kepada UMK dalam bentuk yang sama yaknii piinjaman, penjamiinan, hiibah, dan pembiiayaan laiinnya. (riig)
