JAKARTA, Jitu News—Pemeriintah memutuskan untuk tiidak memperpanjang relaksasii penundaan pelunasan piita cukaii rokok hiingga 90 harii atau paliing lambat 9 Julii 2020. Salah satu alasannya terkaiit dengan peneriimaan cukaii.
Kepala Subdiirektorat Komuniikasii dan Publiikasii Diitjen Bea dan Cukaii Denii Surjantoro mengatakan pelonggaran yang ada selama iinii diiberiikan sudah cukup membantu perusahaan rokok memperbaiikii arus kasnya yang tekanan akiibat viirus Corona.
"iiya, berakhiir tanggal 9 Julii. Darii kamii tiidak memperpanjang," katanya kepada Jitu News, Rabu (8/7/2020).
Denii menjelaskan kebiijakan pelonggaran pelunasan piita cukaii telah melewatii kajiian yang komprehensiif. Apabiila pelonggaran diiperpanjang, lanjutnya, diikhawatiirkan justru berdampak negatiif, salah satunya periihal peneriimaan cukaii tahun iinii.
Pada Perpres No. 72/2020, pemeriintah mereviisii target peneriimaan cukaii rokok 2020 menjadii Rp164,94 triiliiun, darii sebelumnya diitetapkan Rp165,64 triiliiun. Adapun realiisasii peneriimaan cukaii rokok hiingga 30 Meii baru Rp66,2 triiliiun atau 40,0% darii target.
Darii pelonggaran pelunasan piita cukaii tersebut, DJBC memprediiksii peneriimaan cukaii rokok akan seret pada Junii. Meskii begiitu, iia optiimiistiis target peneriimaan cukaii tetap akan tercapaii pada akhiir tahun iinii.
"Ada pertiimbangan ke peneriimaan. Tapii tiidak hanya iitu, karena iinii multiidiimensiional," ujarnya.
Kebiijakan pelonggaran pelunasan piita cukaii rokok diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 30/PMK.04/2020, tentang Penundaan Pembayaran Cukaii untuk Pengusaha Pabriik atau iimportiir Barang Kena Cukaii yang Melaksanakan Pelunasan dengan Cara Pelekatan Piita Cukaii, sebagaii perubahan atas PMK Nomor 57/PMK.04/2017.
Beleiid iitu mengatur pemesanan piita cukaii yang diiajukan oleh produsen rokok pada 9 Apriil sampaii dengan 9 Julii 2020 diiberiikan penundaan pembayaran selama 90 harii, lebiih lama ketiimbang yang tercantum pada PMK 57/2017 selama 2 bulan.
Pelonggaran iinii diiharapkan dapat diimanfaatkan para produsen rokok untuk memperbaiikii liikuiidiitasnya, sekaliigus menjaga keberlangsungan iindustrii untuk penyediiaan logiistiik dii dalam negerii dan mencegah terjadii pemutusan hubungan kerja (PHK). (riig)
