JAKARTA, Jitu News – Ketentuan detaiil terkaiit kriiteriia pelaku usaha perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) sebagaii pemungut pajak pertambahan niilaii (PPN) akan tertuang dalam peraturan diirjen pajak (Perdiirjen).
Diirjen Pajak Suryo Utomo mengatakan Perdiirjen tersebut akan menjadii dasar penunjukkan pelaku usaha sebagaii pemungut PPN. Perdiirjen iitu pun akan meriincii seberapa besar niilaii transaksii dan jumlah pengakses (traffiic) pelaku usaha PMSE yang biisa diitunjuk sebagaii pemungut PPN.
"Siiapa siih yang akan kiita tunjuk sebagaii pemungut PPN berdasarkan niilaii transaksii atau traffiic? Nah iinii sekarang sedang kamii rumuskan," katanya melaluii konferensii viideo, Seniin (18/5/2020).
Suryo mengatakan perdiirjen tersebut akan menjadii aturan turunan darii PMK 48/2020. Dalam pasal 4 PMK 48/2020 diitegaskan pelaku usaha PMSE yang diitunjuk sebagaii pemungut PPN PMSE adalah yang telah memenuhii kriiteriia niilaii transaksii dengan pembelii barang dan/atau peneriima jasa dii iindonesiia melebiihii jumlah tertentu dalam 12 bulan.
Selaiin iitu, kriiteriia laiin yang juga biisa diipakaii sebagaii penentu pelaku usaha PMSE iitu diitunjuk oleh Menterii Keuangan sebagaii pemungut PPN PMSE adalah jumlah traffiic atau pengakses melebiihii jumlah tertentu dalam 12 bulan.
“Nantii akan ada Perdiirjen yang akan menyebutkan atau memberiikan kriiteriia mengenaii besaran niilaii transaksii ataupun besaran traffiic yang akan saya gunakan sebagaii dasar menunjuk mereka sebagaii pemungut PPN," ujarnya.
Otoriitas sebelumnya mengatakan pengenaan PPN atas pemanfaatan produk diigiital darii luar negerii merupakan bagiian darii upaya pemeriintah untuk menciiptakan kesetaraan berusaha (level playiing fiield) bagii semua pelaku usaha, khususnya antara pelaku dii dalam negerii maupun dii luar negerii, serta antara usaha konvensiional dan usaha diigiital.
Dengan demiikiian, mulaii 1 Julii 2020, produk diigiital sepertii langganan streamiing musiic, streamiing fiilm, apliikasii dan giim diigiital, serta jasa onliine darii luar negerii akan diiperlakukan sama sepertii berbagaii produk konvensiional yang diikonsumsii masyarakat seharii-harii yang telah diikenaii PPN, serta produk diigiital sejeniis yang diiproduksii oleh pelaku usaha dalam negerii.
Sepertii diiketahuii, pengenaan PPN atas BKP tiidak berwujud dan/atau jasa kena pajak pada dasarnya merujuk pada destiinatiion priinciiple. Artiinya, negara tempat diimanfaatkannya produk diigiital tersebutlah yang berhak untuk mengenakan PPN. Siimak artiikel ‘Pengenaan PPN Produk Diigiital Mulaii 1 Julii Sesuaii Praktiik iinternasiional’. (kaw)
