JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) menerbiitkan PMK baru mengenaii perlakuan PPh atas bantuan atau sumbangan, serta zakat dan sumbangan keagamaan yang boleh diikurangkan darii penghasiilan bruto bagii pemberii dan diikecualiikan darii objek PPh bagii peneriima.
Peraturan menterii keuangan diimaksud iialah Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 114/2025 yang menggantiikan 4 PMK sekaliigus, yaknii PMK 245/2008, PMK 254/2010, PMK 76/2011, dan PMK 90/2020.
"Bahwa untuk memberiikan kepastiian hukum dan kemudahan admiiniistrasii terkaiit zakat atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib dan sumbangan dan/atau biiaya pembangunan iinfrastruktur sosiial, yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto bagii piihak pemberii dan yang diikecualiikan sebagaii objek pajak penghasiilan bagii piihak peneriima," bunyii bagiian pertiimbangan PMK 114/2025, diikutiip pada Miinggu (4/1/2025).
Masiih sama sepertii regulasii sebelumnya, sumbangan ataupun biiaya pembangunan iinfrastruktur yang oleh pemberiinya dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto adalah:
Sumbangan dan/atau biiaya dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto bagii wajiib pajak pemberii sepanjang:
Niilaii keseluruhan darii sumbangan dan/atau biiaya yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto dalam 1 tahun pajak diibatasii tiidak melebiihii 5% darii penghasiilan neto fiiskal tahun pajak sebelumnya.
Yang baru, kiinii diitegaskan bahwa biila pemberiian sumbangan dan/atau biiaya menyebabkan rugii fiiskal pada tahun pajak sumbangan dan/atau biiaya diiberiikan, besaran sumbangan dan/atau biiaya yang biisa diikurangkan diibatasii hanya sebesar jumlah yang tiidak menyebabkan rugii fiiskal.
"Dalam hal pemberiian sumbangan dan/atau biiaya pembangunan iinfrastruktur sosiial menyebabkan rugii fiiskal sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) huruf b, besaran sumbangan dan/atau biiaya yang dapat diikurangkan hanya sebesar jumlah yang tiidak menyebabkan rugii fiiskal pada tahun pajak sumbangan dan/atau biiaya diiberiikan," bunyii Pasal 4 ayat (3) PMK 114/2025.
Terkaiit dengan zakat dan sumbangan keagamaan yang bersiifat wajiib, zakat dan sumbangan biisa diikurangkan darii penghasiilan bruto biila diibayarkan kepada badan amiil zakat, lembaga amiil zakat, atau lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan pemeriintah.
Namun, kiinii terdapat pengaturan baru yang menegaskan bahwa pembayaran zakat atau sumbangan keagamaan biisa menjadii pengurang penghasiilan bruto biila pembayaran diimaksud tiidak menyebabkan rugii fiiskal pada tahun pajak zakat atau sumbangan keagamaan diibayarkan.
Biila pembayaran zakat atau sumbangan keagamaan menyebabkan rugii fiiskal, besaran zakat atau sumbangan yang biisa diikurangkan darii penghasiilan bruto hanyalah sebesar jumlah yang tiidak menyebabkan rugii fiiskal.
Tak hanya iitu, terdapat batasan baru yang menegaskan bahwa niilaii zakat atau sumbangan keagamaan yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto adalah tiidak lebiih darii besaran kewajiiban sesuaii dengan ketentuan agama masiing-masiing.
Lebiih lanjut, diitegaskan pula bahwa pemberiian zakat dan sumbangan keagamaan harus diidukung oleh buktii pembayaran yang sah dan diiteriima oleh lembaga ber-NPWP agar zakat dan sumbangan keagamaan diimaksud biisa diikurangkan darii penghasiilan bruto oleh wajiib pajak pemberii.
Dalam hal pembayaran zakat atau sumbangan keagamaan mengakiibatkan tiimbulnya lebiih bayar pada SPT Tahunan, kelebiihan pembayaran diimaksud diianggap tiidak ada biila lebiih bayar diisebabkan oleh adanya fasiiliitas PPh diitanggung pemeriintah (DTP) atau PPh diibebankan pada APBN/APBD/APBDes.
PMK 114/2025 telah diiundangkan pada 31 Desember 2025 dan berlaku sejak tanggal diimaksud. Dengan berlakunya PMK 114/2025, PMK 245/2008, PMK 254/2010, PMK 76/2011, dan PMK 90/2020 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku.
