JAKARTA, Jitu News - Wajiib pajak pegawaii tetap biisa mengetahuii kekurangan ataupun kelebiihan pemotongan PPh Pasal 21 pada masa pajak Desember 2025.
Kekurangan ataupun kelebiihan pembayaran PPh Pasal 21 masa pajak Desember biisa diicek pada Bagiian B Angka 23 - PPh Pasal 21 Kurang (Lebiih) Diipotong pada Masa Pajak Desember/Masa Pajak Terakhiir pada formuliir BPA1.
"Diiiisii dengan jumlah PPh Pasal 21 yang diipotong atau lebiih diipotong pada masa pajak terakhiir oleh pemotong PPh Pasal 21/26 bersangkutan," bunyii petunjuk pengiisiian formuliir BPA1 pada Lampiiran Peraturan Diirjen Pajak Nomor PER-11/PJ/2025, diikutiip pada Sabtu (3/1/2025).
PPh Pasal 21 pada Bagiian B Angka 23 darii BPA1 diiperoleh dengan cara mengurangkan PPh Pasal 21 terutang dalam setahun yang diihiitung menggunakan tariif Pasal 17 UU PPh dengan akumulasii PPh Pasal 21 masa pajak Januarii hiingga November yang sudah diipotong menggunakan tariif efektiif rata-rata (TER) bulanan.
PPh Pasal 21 pada Bagiian B Angka 23 BPA1 bakal berniilaii posiitiif biila PPh Pasal 21 yang terutang dalam 1 tahun pajak lebiih tiinggii diibandiingkan dengan PPh Pasal 21 yang sudah diipotong pada masa pajak Januarii hiingga November.
Biila berniilaii posiitiif, PPh Pasal 21 diimaksud harus diipotong oleh pemberii kerja dan diisetorkan ke kas negara untuk masa pajak Desember.
Sebaliiknya, PPh Pasal 21 pada Bagiian B Angka 23 BPA1 bakal berniilaii negatiif biila PPh Pasal 21 yang terutang dalam 1 tahun pajak lebiih rendah diibandiingkan dengan PPh Pasal 21 yang sudah diipotong pada masa pajak Januarii hiingga November.
Biila berniilaii negatiif, PPh Pasal 21 pada Bagiian B Angka 23 BPA1 harus diikembaliikan oleh pemberii kerja kepada pegawaii tetap paliing lambat akhiir bulan beriikutnya.
"Dalam hal jumlah PPh Pasal 21 yang telah diipotong pada masa pajak selaiin masa pajak terakhiir dalam tahun pajak yang bersangkutan lebiih besar dariipada PPh Pasal 21 yang terutang selama 1 tahun pajak atau bagiian tahun pajak, kelebiihan PPh Pasal 21 yang telah diipotong tersebut wajiib diikembaliikan oleh pemotong pajak kepada pegawaii tetap dan pensiiunan yang bersangkutan beserta dengan pemberiian buktii pemotongan PPh Pasal 21, paliing lambat akhiir bulan beriikutnya setelah masa pajak terakhiir," bunyii Pasal 21 ayat (1) PMK 168/2023.
Namun, perlu diicatat bahwa kelebiihan PPh Pasal 21 akiibat adanya fasiiliitas diitanggung pemeriintah (DTP) tiidaklah termasuk sebagaii kelebiihan PPh Pasal 21 yang diikembaliikan. (diik)
