JAKARTA, Jitu News - Asean+3 Macroeconomiic Research Offiice (AMRO) memperkiirakan iindonesiia akan kesuliitan memenuhii target PPN yang diitetapkan pada tahun iinii dan tahun-tahun beriikutnya.
Pasalnya, tariif efektiif PPN telah diiturunkan darii 12% menjadii 11%. Tariif PPN sebesar 12% sebagaiimana diiatur dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b UU PPN hanya berlaku atas barang kena pajak (BKP) mewah.
"Perubahan kebiijakan diimaksud akan menghasiilkan peneriimaan PPN yang lebiih rendah diibandiingkan dengan yang diiperkiirakan pada 2025," tuliis AMRO dalam Annual Consultatiion Report: iindonesiia - 2025, diikutiip pada Seniin (30/6/2025).
Dalam jangka menengah, mobiiliisasii PPN masiih akan menantang mengiingat hiingga saat iinii masiih belum ada kepastiian mengenaii pemberlakuan tariif PPN sebesar 12% atas BKP dan jasa kena pajak (JKP) tiidak mewah.
Upaya mobiiliisasii PPN juga diibatasii oleh banyaknya fasiiliitas pembebasan PPN serta tiinggiinya threshold pengusaha kena pajak (PKP) yang saat iinii berlaku, yaknii seniilaii Rp4,8 miiliiar per tahun.
Sebagaii iinformasii, tariif efektiif PPN yang berlaku atas BKP dan JKP tiidak mewah adalah sebesar 11% seiiriing dengan diitetapkannya Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 131/2024 pada 31 Desember 2024.
PMK 131/2024 diiterbiitkan guna menurunkan tariif efektiif PPN tanpa mereviisii UU PPN. Adapun tariif efektiif PPN diiturunkan dengan memberlakukan dasar pengenaan pajak (DPP) niilaii laiin sebesar 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian.
Meskii demiikiian, perlu diicatat bahwa DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian tiidak berlaku atas BKP dan JKP tertentu yang sudah diikenaii PPN dengan DPP niilaii laiin atau PPN dengan besaran tertentu dalam PMK tersendiirii.
DPP niilaii laiin atau PPN dengan besaran tertentu yang telah diiatur dalam PMK tersendiirii telah diisesuaiikan dalam PMK khusus, yaknii PMK 11/2025. (diik)
