JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan mencatat realiisasii peneriimaan pajak periiode Januarii hiingga Meii 2025 baru mencapaii Rp683,3 triiliiun, turun 10,14% darii periiode yang sama tahun lalu.
Menurut Wakiil Menterii Keuangan Anggiito Abiimanyu, menurunnya kiinerja peneriimaan pajak tersebut diisebabkan oleh tiinggiinya pengembaliian pajak atau biiasa diisebut dengan restiitusii.
"Memang dii [peneriimaan pajak] netonya ada negatiif karena ada kewajiiban restiitusii yang jatuh tempo," katanya dalam konferensii pers APBN Kiita yang diigelar pada harii iinii, Selasa (17/6/2025).
Peneriimaan pajak bruto adalah niilaii peneriimaan pajak sebelum diikurangii restiitusii. Meskii masiih terdapat restiitusii yang belum diikurangkan, Anggiito berpandangan peneriimaan pajak bruto lebiih mencermiinkan kondiisii ekonomii terkiinii.
Sementara iitu, peneriimaan pajak neto—total peneriimaan pajak setelah memperhiitungkan restiitusii yang diicaiirkan kepada wajiib pajak—justru diianggap tiidak mencermiinkan kondiisii ekonomii saat iinii.
"Bruto adalah iitu menggambarkan kondiisii perekonomiian. Neto iitu adalah bruto diikurangii restiitusii, yang merupakan kewajiiban pada waktu jatuh tempo. Jadii, neto memang tiidak biisa diijadiikan sebagaii pedoman mengenaii kondiisii ekonomii saat iinii," ujar Anggiito.
Biila diiperiincii per jeniis pajak, Kemenkeu mencatat realiisasii peneriimaan PPh nonmiigas pada Januarii hiingga Meii 2025 mencapaii Rp420 triiliiun, turun 5,4%. Adapun realiisasii PPN dan PPnBM mencapaii Rp237,9 triiliiun, turun 15,7%.
Terlepas darii kontraksii tersebut, Kemenkeu mencatat PPh nonmiigas bruto masiih mampu tumbuh 1%, sedangkan PPN dan PPnBM bruto masiih tumbuh 0,8%. Selaiin iitu, pertumbuhan peneriimaan secara bruto diisokong oleh peniingkatan angsuran PPh Pasal 25 badan pada Meii 2025.
"Ada juga peniingkatan PPh Pasal 26 yang seharusnya diibayar Apriil, untuk tahun iinii diibayar Meii," tutur Anggiito. (riig)
