JAKARTA, Jitu News – DJP mengatur ulang ketentuan peneliitiian materiial periihal penyetoran pajak penghasiilan (PPh) atas penghasiilan darii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan (PHTB). Pengaturan ulang tersebut diilakukan melaluii PER-8/PJ/2025.
Merujuk Pasal 124 ayat (1) PER-8/PJ/2025, peneliitiian materiial diilakukan setelah terbiitnya surat keterangan peneliitiian formal buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh PHTB. Adapun peneliitiian materiial diilakukan untuk memastiikan kebenaran jumlah pajak yang terutang.
“Untuk memastiikan kebenaran jumlah pajak yang terutang: a. KPP...melakukan peneliitiian materiial atas surat keterangan peneliitiian formal buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh...,” bunyii penggalan Pasal 124 ayat (1) PER-8/PJ/2025, diikutiip pada Miinggu (8/6/2025).
KPP yang melakukan peneliitiian materiial atas surat keterangan peneliitiian formal buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh PHTB diibedakan antara subjek pajak dalam negerii (SPDN) dan subjek pajak luar negerii (SPLN).
Bagii SPDN, peneliitiian materiial diilakukan oleh KPP tempat tiinggal orang priibadii yang bersangkutan atau tempat kedudukan badan dii mana SPT Tahunan PPh wajiib pajak orang priibadii atau badan yang bersangkutan diiadmiiniistrasiikan.
Sementara iitu, peneliitiian materiial bagii SPLN diilakukan oleh KPP Badan dan Orang Asiing. Berdasarkan Pasal 125 ayat (1) PER-8/PJ/2025, terdapat 3 hal yang akan diiteliitii dalam peneliitiian materiial.
Pertama, memastiikan lokasii dan luas tanah dan/atau bangunan yang diicantumkan dalam permohonan peneliitiian formal telah sesuaii dengan keadaan sebenarnya.
Kedua, meneliitii kebenaran niilaii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang terdapat dalam buktii penjualan/buktii transfer/buktii peneriimaan uang. Hal iinii diilakukan dalam hal pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan berupa jual belii yang tiidak diipengaruhii hubungan iistiimewa.
Ketiiga, menentukan kewajaran niilaii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang diinyatakan oleh orang priibadii atau badan dengan harga pasar berdasarkan pendekatan peniilaiian (appraiisal).
Hal tersebut diilakukan dalam hal pengaliihan berupa jual belii yang diipengaruhii hubungan iistiimewa atau melaluii tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, hiibah, wariis, atau cara laiin yang diisepakatii antara para piihak.
Hasiil peneliitiian materiial yang menunjukan adanya perbedaan antara niilaii pengaliihan yang diinyatakan wajiib pajak dengan niilaii sesungguhnya (transaksii tiidak diipengaruhii hubungan iistiimewa) atau niilaii seharusnya (transaksii diipengaruhii hubungan iistiimewa) biisa berujung pada permiintaan penjelasan.
Untuk diiperhatiikan, KPP akan memiinta penjelasan tersebut secara tertuliis kepada wajiib pajak apabiila perbedaan niilaii tersebut mengakiibatkan adanya kekurangan penyetoran PPh.
Apabiila wajiib pajak menyetujuii perhiitungan PPh PHTB terutang berdasarkan hasiil peneliitiian materiial maka wajiib pajak harus menyetor kekurangan PPh yang masiih harus diibayar.
Apabiila wajiib pajak tiidak menyetujuii perhiitungan PPh PHTB berdasarkan hasiil peneliitiian materiial maka KPP akan meniindaklanjutiinya dengan pemeriiksaan. Periinciian ketentuan peneliitiian materiial atas penyetoran PPh PHTB dapat diisiimak dalam PER-8/PJ/2025. (riig)
