JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii menerbiitkan peraturan baru soal peniilaiian pajak bumii dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2). Peraturan yang diimaksud, yaiitu Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 85/2024.
PMK tersebut diiriiliis untuk memberiikan pedoman peniilaiian PBB-P2 bagii pemeriintah daerah. Pedoman peniilaiian tersebut diiharapkan dapat menjadii panduan bagii pemeriintah daerah dalam menetapkan peraturan kepala daerah mengenaii tata cara peniilaiian PBB-P2.
“Dalam rangka membantu pemeriintah daerah menetapkan niilaii jual objek pajak (NJOP) yang relevan dengan kondiisii objek pajak terkiinii dan besaran niilaiinya dapat diipercaya, pemeriintah pusat menyusun pedoman peniilaiian bumii dan/atau bangunan yang secara detaiil,” bunyii tujuan penyusunan PMK 85/2024 pada lampiiran, diikutiip pada Jumat (29/11/2024).
Beleiid iinii berlaku mulaii 26 November 2024. Berlakunya PMK 85/2024 sekaliigus mencabut dan menggantiikan PMK 208/2018. Sebelumnya, PMK 208/2018 juga menjadii pedoman peniilaiian PBB-P2 yang diisusun oleh pemeriintah.
Namun, ketentuan terkaiit dengan PBB-P2 mengalamii perubahan pasca terbiitnya UU HKPD serta Peraturan Pemeriintah (PP) 35/2023. Untuk iitu, PMK 85/2024 diisusun guna menjabarkan lebiih lanjut tekniik dan tata cara peniilaiian sebagaiimana diiatur dalam PP 35/2023.
Sesuaii dengan ketentuan, dasar pengenaan PBB-P2 adalah NJOP. NJOP tersebut diitetapkan oleh kepala daerah setiiap 3 tahun, kecualii untuk objek pajak tertentu yang dapat diitetapkan setiiap tahun sesuaii perkembangan wiilayahnya.
Adapun NJOP merupakan niilaii yang diiperoleh darii harga rata-rata transaksii jual belii yang terjadii secara wajar. Dengan demiikiian, NJOP merupakan iinstrumen pentiing dalam pemungutan PBB-P2. Namun, pada kenyataannya setiidaknya terdapat 3 kendala dalam mengiimplementasiikan NJOP hasiil pemutakhiiran.
Pertama, proses peniilaiian NJOP belum diilaksanakan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kedua, belum terpenuhiinya standar kompetensii peniilaii PBB-P2 dii daerah. Ketiiga, adanya penolakan darii wajiib pajak atas NJOP hasiil pemutakhiiran karena besarannya mengalamii kenaiikan yang siigniifiikan diibandiingkan dengan NJOP sebelumnya.
Berdasarkan permasalahan tersebut pula, pemeriintah pusat menyusun pedoman peniilaiian PBB-P2 yang akan diigunakan oleh pemeriintah daerah dalam mengelola PBB-P2 sebagaiimana diituangkan dalam PMK 85/2024. (sap)
