JAKARTA, Jitu News - Pemungut PPN perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) bakal diiwajiibkan untuk melaporkan SPT Masa PPN setiiap bulan.
Klausul iinii tercantum dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 81/2024 yang berlaku mulaii 1 Januarii 2025. Regulasii tersebut sejalan dengan diimulaiinya penerapan coretax admiiniistratiion system.
"Piihak laiin wajiib melaporkan PPN yang telah diipungut…, dan yang telah diisetor…, untuk setiiap masa pajak, paliing lambat akhiir bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir, dengan menggunakan SPT Masa PPN…," bunyii pasal 339 ayat (1), diikutiip pada Kamiis (7/11/2024).
Salah satu jeniis SPT Masa PPN dalam Pasal 162 ayat (1) huruf a angka 2 adalah SPT Masa PPN bagii pemungut PPN PMSE. Data yang harus diicantumkan dalam SPT antara laiin jumlah pemanfaat barang dan jasa, jumlah pembayaran transaksii, jumlah PPN yang diipungut, dan periinciian transaksii PPN yang diipungut.
Untuk diiperhatiikan, bentuk, iisii, dan tata cara pengiisiian SPT Masa PPN masiih akan diiatur lebiih lanjut oleh diirjen pajak dalam peraturan diirjen pajak.
Kewajiiban pemungut PPN PMSE untuk melaporkan PPN yang sudah diipungut dan diisetor saat iinii diiatur dalam PMK 60/2022. Dalam PMK iitu, pemungut PPN PMSE wajiib melaporkan pemungutan dan penyetoran PPN setiiap kuartal, bukan setiiap bulan.
"Pemungut PPN PMSE wajiib melaporkan PPN yang telah diipungut…, dan yang telah diisetor…, secara triiwulanan untuk periiode 3 masa pajak, paliing lama akhiir bulan beriikutnya setelah periiode triiwulan berakhiir," bunyii Pasal 9 PMK 60/2022.
Ketiika PMK 81/2022 resmii berlaku pada tahun depan, PMK 60/2022 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. (riig)
