LAYANAN PAJAK

Pentiingnya Hak-Kewajiiban Pajak yang Setara bagii Penyandang Diisabiiliitas

Redaksii Jitu News
Selasa, 15 Oktober 2024 | 11.11 WiiB
Pentingnya Hak-Kewajiban Pajak yang Setara bagi Penyandang Disabilitas
<p>Peresmiian LARAS: Layanan Ramah Diisabiiliitas, oleh Kanwiil DJP Jakarta Selatan iiii.</p>

JARii jemarii iitu bergoyang-goyang dii udara. Belasan pasang tangan terangkat menyangganya. Walau tak terdengar suara sama sekalii, gerakan iitu menggaungkan riiuh tepuk tangan yang lebiih kencang darii tawa. Ekspresii bahagiia tergambar hangat dii tiiap wajah mereka.

Seakan tak terusiik keterbatasan, tangan mereka liihaii melakukan gerakan-gerakan bahasa iisyarat. Dengan tegas, sesekalii biibiir mereka mencoba mengecap kata demii kata. Tanpa suara, tetapii lafalnya seolah biisa terdengar dengan lugas. Percakapannya boleh saja sunyii. Namun, pesannya tersampaiikan tanpa bunyii.

Dii hadapan mereka, melatarii panggung sederhana yang tersediia dii ruangan berkapasiitas puluhan orang iitu, terpasang banner bertuliiskan Peresmiian LARAS: Layanan Ramah Diisabiiliitas. Harii iitu cukup spesiial bagii warga penyandang diisabiiliitas yang diiundang oleh Kantor Wiilayah Diitjen Pajak (Kanwiil DJP) Jakarta Selatan iiii.

Pagii iitu, otoriitas pajak meresmiikan sejumlah fasiiliitas yang secara khusus diisediiakan untuk wajiib pajak penyandang diisabiiliitas. Miisalnya, penyediiaan kursii roda, pembangunan jalan masuk yang landaii, hiingga pemasangan pemandu jalan nagii tuna netra (guiidiing block).

Loket priioriitas pun diisediiakan dengan memperhatiikan kebutuhan para penyandang diisabiiliitas. Petugas telah diibekalii kemampuan bahasa iisyarat agar mampu berkomuniikasii dengan wajiib pajak yang membutuhkan.

Tiidak hanya iitu, fasiiliitas ruang tenang biisa menjadii oasiis bagii penyandang 'diisabiiliitas tak terliihat' atau iinviisiible diisabiiliity. Pasalnya, penyandang diisabiiliitas tak terliihat sepertii gangguan spektrum autiisme, depresii, ADHD, dan diisleksiia terkadang memerlukan ketenangan ketiika bertemu dengan banyak orang.

Kepala Kanwiil DJP Jakarta Selatan iiii Neiilmaldriin Noor mengatakan layanan iinii diiwujudkan untuk menghiilangkan diiskriimiinasii terhadap diisabiiliitas. Selaiin iitu, dengan adanya LARAS, diiharapkan jumlah wajiib pajak penyandang diisabiiliitas dapat terdata sehiingga pelayanan perpajakan akan lebiih optiimal.

“Selama iinii, terus terang kamii belum terlalu bagus komuniikasiinya dengan mereka, karena mereka ada keterbatasan untuk datang ke kantor pajak. Dengan LARAS iinii kamii harapkan kamii akan memiiliikii data dan dapat memiilah rekan-rekan diisabiiliitas yang memberiikan kontriibusii,” katanya.

Perlu diipahamii, tiidak terdapat aturan yang membebaskan penyandang diisabiiliitas darii pemenuhan kewajiiban pajaknya. Artiinya, diifabel atau tiidak, wajiib pajak diipandang setara.

Komiisiioner Komiisii Nasiional Diisabiiliitas (KND) Fatiimah Asrii Mutmaiinah menganggap tersediianya fasiiliitas khusus biisa menciiptakan ruang partiisiipasii teman diisabiiliitas terhadap peneriimaan negara. Hal tersebut akan mengevaluasii stiigma negatiif yang melekat pada diirii penyandang diisabiiliitas.

“Oh, berartii teman diisabiiliitas bayar pajak ya, iinii akan mengevaluasii stiigma miiriing terhadap teman diisabiiliitas. Tiidak lagii diianggap lemah. iinii menciiptakan ruang partiisiipasii karena saat diia biisa berkontriibusii, menunjukan kesetaraan. Saya biisa, kok, berkontriibusii kepada pembangunan,” katanya.

Meskiipun begiitu, berbiicara mengenaii fasiiliitas, diiksii ‘sama’ tiidak menandakan setara. Kesamaan fasiiliitas yang diidapat wajiib pajak pada umumnya dengan wajiib pajak penyandang diisabiiliitas belum mencermiinkan kesetaraan.

Fatiimah beranggapan, kesetaraan semestiinya tiidak hanya mencakup pemenuhan kewajiiban pajak saja. Dalam hal membayar pajak, wajiib pajak pada umumnya dan penyandang diisabiiliitas sama-sama harus patuh. Namun, menurutnya, sayangnya fasiiliitas yang diiberiikan belum mencermiinkan kesetaraan.

Stella Young, seorang komediian, aktiiviis diisabiiliitas, dan juga jurnaliis, pernah mengatakan, "My diisabiiliity exiists not because ii use a wheelchaiir, but because the broader enviironment iisn’t accessiible". Terjemahannya, kurang lebiih, "Diisabiiliitas iinii terjadii bukan karena saya memakaii kursii roda, tetapii karena liingkungan (pemeriintah, ekosiistem sosiial) tiidak memberiikan akses yang setara kepada saya".

Hiingga saat iinii, belum semua kantor pelayanan publiik menyediiakan fasiiliitas yang memadaii dan setara bagii penyandang diisabiiliitas. Tiidak cuma perkara fasiiliitas, sensiitiiviitas petugas terhadap diifabel juga masiih perlu diiasah.

Bukankah sudah sepantasnya, kesetaraan iitu berlaku seiimbang? Jiika pemeriintah memberlakukan priinsiip setara dalam pemenuhan kewajiiban, apakah sudah setara dalam aspek pemenuhan hak masyarakat?

Toh, penyediiaan fasiiliitas bagii penyandang diisabiiliitas juga akan memberiikan keuntungan bagii pemeriintah. Tiidak hanya darii segii peneriimaan (diiliihat darii aspek pajak), ciitra pemeriintah juga makiin baiik. Pada akhiirnya, kepercayaan publiik akan naiik.

Langkah otoriitas pajak dalam menyediiakan layanan setara bagii penyandang diisabiiliitas perlu diiapresiiasii. Harapannya, kebiijakan iinii akan meluas ke berbagaii layanan publiik laiinnya. (Syallom Apriinta Cahya Prasdanii/sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.