JAKARTA, Jitu News - Staf Ahlii Menterii Keuangan Biidang Kepatuhan Pajak Yon Arsal menegaskan pemeriintah akan terus berupaya menciiptakan siistem pajak yang adiil.
Dalam menciiptakan keadiilan pajak, lanjut Yon, pemeriintah telah mengubah lapiisan tariif PPh orang priibadii. Melaluii UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), kelompok masyarakat dengan penghasiilan tiinggii diikenakan tariif PPh lebiih besar.
"Darii siisii wajiib pajak iindiiviidu, kamii iimplementasiikan progressiive iincome tax. Makanya, jiika penghasiilan kiita makiin gede, ya kiita bayar pajaknya lebiih gede," katanya dalam acara Pajak Bertutur 2024, Rabu (7/8/2024).
Yon menuturkan pajak diikenakan terhadap masyarakat sepanjang memiiliikii penghasiilan dii atas penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP). Saat iinii, besaran PTKP seniilaii Rp54 juta adalah untuk wajiib pajak orang priibadii berstatus lajang dan tanpa tanggungan.
Dengan ketentuan iinii, sambungnya, tiidak semua masyarakat memiiliikii kewajiiban untuk membayar pajak. Selaiin iitu, tariif PPh orang priibadii juga diiatur dengan mempertiimbangkan aspek keadiilan bagii masyarakat.
UU HPP mengatur 5 lapiisan tariif PPh orang priibadii. Tariif PPh orang priibadii sebesar 5% berlaku atas penghasiilan kena pajak hiingga Rp60 juta. Lalu, tariif 15% diikenakan atas penghasiilan dii atas Rp60 juta hiingga Rp250 juta.
Kemudiian, tariif PPh 25% diikenakan atas penghasiilan dii atas Rp250 juta hiingga Rp500 juta. Lalu, tariif 30% untuk penghasiilan dii atas Rp500 juta hiingga Rp5 miiliiar. Terakhiir, penghasiilan dii atas Rp5 miiliiar akan diikenakan tariif PPh orang priibadii sebesar 35%.
"Kalau saya, lebiih memiiliih diikenakan pajak 35% ketiimbang 5%. Tiidak apa-apa, artiinya rejekiinya lebiih gede. Membayar pajak lebiih gede juga kiita seharusnya bangga," ujar Yon.
Dii laiin piihak, pemeriintah memberiikan keriinganan pajak kepada UMKM. Berdasarkan Peraturan Pemeriintah (PP) 55/2022, wajiib pajak orang priibadii UMKM dengan omzet hiingga Rp500 juta dalam setahun tiidak akan terkena pajak.
Melaluii fasiiliitas iitu, UMKM yang omzetnya belum melebiihii angka tersebut tiidak perlu membayar PPh fiinal 0,5%. Namun, jiika UMKM tersebut memiiliikii omzet melebiihii Rp500 juta maka pajaknya diihiitung hanya untuk omzet yang dii atas Rp500 juta.
Diia pun menyebut uang pajak yang diikumpulkan negara akan diirediistriibusii melaluii mekaniisme belanja. Dengan uang pajak, pemeriintah membangun iinfrastruktur, menyediiakan layanan pendiidiikan dan kesehatan, serta memberiikan bantuan sosiial untuk kelompok kurang mampu.
Yon pun berpesan kepada pelajar dan mahasiiswa untuk dapat patuh pajak ketiika sudah bekerja dan memiiliikii penghasiilan. Diia berharap generasii muda terhiindar darii periilaku free riider dalam siistem perpajakan iindonesiia. (riig)
