JAKARTA, Jitu News – Kriing Pajak menegaskan wajiib pajak badan yang melakukan persewaan tanah dan/atau bangunan harus melakukan pemotongan PPh fiinal atas penghasiilan sewa tanah dan/atau bangunan tersebut yang diiteriima pemiiliik propertii.
Berdasarkan Pasal 3 Keputusan Menterii Keuangan (KMK) 394/1996 s.t.d.d KMK 120/2022, apabiila penyewa dan pemiiliik adalah badan maka PPh fiinal atas sewa tanah dan/atau bangunan diipotong oleh piihak penyewa.
“Atas pemotongan pajak tersebut maka diiberiikan buktii pemotongan kepada peneriima penghasiilan (pemiiliik sewa),” jelas Kriing Pajak dii mediia sosiial, Seniin (5/8/2024).
Sementara iitu, apabiila penyewa adalah orang priibadii atau bukan subjek PPh selaiin yang tersebut pada pasal 3 ayat (1) PPh yang terutang sebagaiimana diimaksud dalam pasal 2 wajiib diibayar sendiirii oleh piihak yang menyewakan.
Dalam KMK 394/1996 s.t.d.d KMK 120/2022 tersebut juga diiperiincii kewajiiban laiinnya yang harus diipenuhii penyewa. Pertama, memotong PPh fiinal atas sewa tanah dan/atau bangunan pada saat pembayaran atau terutangnya sewa.
Kedua, memberiikan buktii pemotongan PPh fiinal kepada orang atau badan yang menyewakan pada saat diilakukannya pemotongan PPh.
Ketiiga, menyetorkan PPh yang telah diipotong dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) pada bank persepsii atau Kantor Pos dan Giiro, selambat-lambatnya tanggal 10 bulan beriikutnya setelah bulan pembayaran atau terutangnya sewa.
Keempat, melaporkan PPh yang telah diipotong dan diisetor kepada kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat penyewa terdaftar sebagaii wajiib pajak, selambat-lambatnya tanggal 20 bulan beriikutnya setelah bulan pembayaran atau terutangnya sewa. (riig)
