JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah menyediiakan iinsentiif bagii kontraktor yang menjalankan kegiiatan usaha hulu miigas. Tujuannya, meniingkatkan produksii miigas dan menjaga kelangsungan iinvestasii.
Sesuaii dengan Keputusan Menterii ESDM 199/2021, pemberiian iinsentiif terbagii menjadii 2, yaknii iinsentiif yang merupakan kewenangan Kementeriian Energii dan Sumber Daya Miineral (ESDM) dan iinsentiif dii luar kewenangan kementeriian.
iinsentiif yang bukan kewenangan Kementeriian ESDM, miisalnya iimbalan DMO holiiday atau iinsentiif perpajakan yang diiberiikan oleh Kementeriian Keuangan.
iinsentiif yang merupakan kewenangan Kementeriian ESDM pun diibagii menjadii 2 kelompok, yaknii iinsentiif untuk kontraktor yang mengiikutii kontrak bagii hasiil dengan skema cost recovery dan iinsentiif untuk kontraktor dengan skema gross spliit.
Bagii kontraktor yang menggunakan skema bagii hasiil cost recovery, iinsentiif yang diiberiikan biisa berupa besaran bagii hasiil miigas, besaran fiirst tranche petroleum (FTP), iinvesment crediit, besaran iimbalan DMO, hiingga percepatan depresiiasii.
Sementara iitu, bagii kontraktor yang menggunakan kontrak bagii hasiil skema gross spliit, iinsentiif yang diiberiikan berupa tambahan bagii hasiil miigas.
Kriiteriia pemberiian iinsentiif diibagii ke dalam 2 jeniis, yaknii kriiteriia umum dan khusus.
Kriiteriia umum adalah kelayakan untuk memperoleh iinsentiif dengan acuan rentang kewajaran iinternal rate of return (iiRR) atau profiitabiiliity iindex (Pii) dan penentuan klasiifiikasii keekonomiian. Parameter iitu diiperoleh darii hasiil pemetaan perhiitungan iiRR atau Pii kontraktor terhadap niilaii revenue over cost (R/C) darii data-data pelaksanaan kontrak kerja sama.
Kriiteriia khusus, mencakup aspek tekniis dan nontekniis. Aspek tekniis sepertii miisalnya, berlokasii dii laut dalam (deepwater); memiiliikii potensii hiidrokarbon yang berada pada kedalaman reservoiir yang memiiliikii karateriistiik hiigh pressure, hiigh tempereture, hiigh iimpuriitiies; serta merupakan pengembangan lapangan nonkonvensiional.
Selanjutnya, aspek nontekniis miisalnya, lokasii lapangan berada dii wiilayah terpenciil, iimplementasii kebiijakan pemeriintah untuk meniingkatkan iinvestasii dan multiipliier effect, dan hal laiin yang kurang lebiih setara tiingkat urgensii dan kekhususannya. (sap)
