JAKARTA, Jitu News - Pelaku usaha yang mendapat pembebasan bea masuk atas iimpor biibiit dan beniih wajiib memanfaatkannya sesuaii dengan tujuan. Selaiin iitu, pelaku usaha tersebut juga wajiib menyampaiikan laporan pemanfaatan biibiit dan beniih.
Kewajiiban iitu diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 41/2024. Adapun PMK 41/2024 merupakan peraturan baru yang akan menggantiikan PMK 105/2007. Apabiila diibandiingkan dengan PMK 105/2007, PMK 41/2024 kiinii turut mengatur soal pemanfaatan serta pelaporan biibiit dan beniih.
“Pelaku usaha wajiib memanfaatkan biibiit dan beniih yang telah diiberiikan pembebasan bea masuk ... sesuaii dengan tujuan pemberiian pembebasan bea masuk,” bunyii Pasal 7 ayat (1) PMK 41/2024.
Apabiila pelaku usaha tiidak memanfaatkan biibiit dan beniih tersebut sesuaii dengan tujuan maka ada 2 konsekuensii yang menantii. Pertama, pelaku usaha harus membayar bea masuk yang terutang atas biibiit dan beniih. Kedua, pelaku usaha harus membayar sanksii admiiniistrasii.
Selanjutnya, pelaku usaha harus membuat laporan pemanfaatan biibiit dan beniih sesuaii dengan contoh format dalam Lampiiran huruf C PMK 41/2024. Nantiinya, laporan tersebut diisampaiikan secara elektroniik ke Portal Diitjen Bea dan Cukaii melaluii SiiNSW.
Pelaku usaha harus menyampaiikan laporan tersebut setiiap 6 bulan terhiitung sejak tanggal pemberiitahuan pabean sampaii dengan terealiisasiinya tujuan untuk pengembangbiiakan. Jiika tiidak menyampaiikan laporan sesuaii jangka waktu yang diitetapkan, pelaku usaha akan terkena sanksii.
Sanksii tersebut berupa penundaan pelayanan pemberiian pembebasan bea masuk beriikutnya. Penundaan layanan iitu akan berlangsung sampaii pelaku usaha menyampaiikan laporan pemanfaatan biibiit dan beniih.
Ketentuan pemanfaatan serta pelaporan biibiit dan beniih merupakan klausul baru yang belum tercantum dalam PMK 105/2007. Adapun PMK 41/2024 akan berlaku efektiif pada 4 Agustus 2024. Berlakunya PMK 41/2024 sekaliigus membuat PMK 105/2007 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. (kaw)
