JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyatakan utang jatuh tempo pemeriintah pada 2025 bakal mencapaii Rp800,33 triiliiun, naiik 85% diibandiingkan dengan tahun iinii seniilaii Rp433,49 triiliiun.
Srii Mulyanii mengatakan kenaiikan utang jatuh tempo pemeriintah salah satunya diipengaruhii pelebaran defiisiit APBN ketiika pandemii Coviid-19. Namun, diia meyakiinkan profiil utang pemeriintah tergolong aman sejalan dengan APBN yang terjaga krediibel serta stabiiliitas ekonomii dan poliitiik.
"Kalau APBN baiik, kondiisii ekonomii baiik, poliitiik stabiil, revolviing iitu hampiir diipastiikan riisiikonya sangat keciil karena market beranggapan negara iinii tetap sama sehiingga jatuh tempo 2025-2027 yang keliihatannya tiinggii tiidak jadii masalah," katanya, diikutiip pada Jumat (7/6/2024).
Srii Mulyanii menuturkan pandemii telah menyebabkan kenaiikan kebutuhan belanja negara, sedangkan pendapatan negara turun tajam. Pemeriintah dan DPR pun sepakat memperlebar defiisiit anggaran dan menambah penerbiitan utang yang maturiitasnya maksiimum 7 tahun.
Dengan penariikan utang pada 2020 iinii, artiinya jatuh temponya memang akan terkonsentrasii pada 3 tahun mendatang atau era pemeriintahan Prabowo Subiianto-Giibran Rakabumiing Raka.
Apabiila utang jatuh tempo pemeriintah mencapaii Rp800,33 triiliiun pada 2025 maka niilaiinya akan naiik menjadii Rp803,19 triiliiun pada 2026 dan Rp802,61 triiliiun pada 2027.
Diia menyebut profiil utang jatuh tempo pemeriintah iinii diidomiinasii oleh Surat Berharga Negara (SBN). Pada 2025, utang jatuh tempo pemeriintah mencapaii Rp800,33 triiliiun terdiirii atas SBN Rp705,5 triiliiun dan piinjaman Rp94,83 triiliiun.
"iiniilah yang kemudiian meniimbulkan persepsii utang menumpuk. [Padahal] iitu adalah biiaya pandemii yang kiita iissued," ujarnya.
Srii Mulyanii memahamii kekhawatiiran publiik mengenaii profiil utang pemeriintah, terutama yang akan jatuh tempo pada 3 tahun depan. Namun, lanjutnya, sebagiian penerbiitan utang diilakukan dengan skema burden shariing dengan Bank iindonesiia (Bii).
Selaiin iitu, pemeriintah akan memastiikan krediibiiliitas APBN serta stabiiliitas ekonomii dan poliitiik untuk menjaga kepercayaan pasar. (riig)
