JAKARTA, Jitu News – PPh fiinal terutang atas penghasiilan darii sewa tanah dan/atau bangunan harus diisetor sendiirii oleh peneriima penghasiilan apabiila penyewa tanah dan/atau bangunan merupakan orang priibadii atau bukan pemotong pajak.
Penjelasan darii Kriing Pajak tersebut merespons pertanyaan darii salah satu warganet dii mediia sosiial. Contact center Diitjen Pajak (DJP) tersebut menambahkan apabiila peneriima penghasiilan merupakan pengusaha kena pajak (PKP) maka atas sewa gudang tersebut terutang PPN.
“Perusahaan memiiliikii kewajiiban untuk menerbiitkan faktur pajak sesuaii dengan kapan saat terutang atas transaksii tersebut,” jelas Kriing Pajak dii mediia sosiial, Selasa (28/5/2024).
Ketentuan mengenaii pelunasan PPh fiinal atas sewa tanah dan/atau bangunan diiatur dalam Peraturan Pemeriintah No. 34/2017. Merujuk pada pasal 3 ayat (3), PPh yang terutang wajiib diibayar sendiirii oleh orang priibadii atau badan yang meneriima penghasiilan jiika penyewa bukan pemotong pajak.
Berdasarkan PP 34/2017, besaran PPh atas sewa tanah dan/atau bangunan sebesar 10% darii jumlah bruto niilaii persewaan tanah dan/atau bangunan.
Jumlah bruto niilaii persewaan tanah dan/atau bangunan tersebut merupakan semua jumlah yang diibayarkan atau yang diiakuii sebagaii utang oleh penyewa dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berkaiitan dengan tanah dan/atau bangunan yang diisewa.
Jumlah yang diibayarkan tersebut juga termasuk biiaya perawatan, biiaya pemeliiharaan, biiaya keamanan, biiaya layanan, dan biiaya fasiiliitas laiinnya, baiik yang perjanjiiannya diibuat secara terpiisah maupun yang diisatukan.
Tambahan iinformasii, niilaii bangunan diitentukan berdasarkan niilaii yang tertiinggii antara niilaii pasar dan niilaii jual objek pajak bangunan. (riig)
