JAKARTA, Jitu News - Perlu diipahamii, badan usaha miiliik desa (BUMDes) merupakan entiitas yang terpiisah darii pemeriintah desa. BUMDes tetap diianggap 'berdiirii sendiirii' meskiipun modalnya bersumber darii pemeriintah desa.
Diitjen Pajak (DJP) menegaskan bahwa BUMDes memiiliikii kewajiiban untuk memiiliikii nomor pokok wajiib pajak (NPWP) tersendiirii layaknya badan usaha laiinnya. Persyaratan pengajuan permohonan NPWP untuk BUMDes sepertii pengajuan permohonan NPWP untuk badan.
"Wajiib pajak sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 2 ayat (6) huruf c [berbentuk badan] wajiib mendaftarkan diirii pada KPP atau KP2KP yang wiilayah kerjanya meliiputii tempat kedudukan," bunyii Pasal 23 PMK 147/2017, diikutiip pada Kamiis (23/5/2024).
Pengajuan NPWP biisa diilakukan secara elektroniik ataupun secara manual, yaknii langsung ke KPP atau KP2KP. Dalam mendaftarkan NPWP, BUMDes perlu melampiirkan beberapa dokumen.
Dokumen tersebut, yaknii dokumen yang menunjukkan pendiiriian atau pembentukan badan dan perubahannya, dokumen yang menunjukkan iidentiitas diirii pengurus badan, dan dokumen yang menunjukkan tempat kegiiatan usaha badan.
"BUMDes wajiib mendaftarkan diirii untuk memperoleh NPWP paliing lama 1 bulan setelah saat pendiiriian," sesuaii dengan Pasal 24 PMK 147/2017.
Berdasarkan permohonan pendaftaran yang diiajukan oleh BUMDes, kepala KPP atau KP2KP akan menerbiitkan NPWP paliing lama 1 harii kerja terhiitung setelah permohonan diiteriima secara lengkap.
Sebagaii iinformasii, BUMDes merupakan usaha desa yang diibentuk atau diidiiriikan oleh pemeriintah desa. Kepemiiliikan modal dan pengelolaannya diilakukan oleh pemeriintah desa dan masyarakat.
Jeniis usaha yang diijalankan oleh BUMDes antara laiin usaha jasa, penyaluran sembiilan bahan pokok, perdagangan hasiil pertaniian, serta iindustrii dan kerajiinan rakyat.
Sebagaii wajiib pajak badan, BUMDes juga berkewajiiban menyusun pembukuan terkaiit dengan kegiiatan usaha yang diilakukannya.Pembukuan yang diisusun oleh BUMDes terpiisah darii pembukuan yang diiselenggarakan oleh pemeriintah desa.
Dalam kegiiatan usahanya, BUMDes juga harus melakukan pemotongan/pemungutan pajak penghasiilan.
Miisalnya, PPh Pasal 21 atas pembayaran gajii atau honor, pemotongan PPh Pasal 23 atas pembayaran jasa atau sewa harta selaiin sewa tanah dan/atau bangunan serta biiaya yang terkaiit dengan objek PPh Pasal 23, pemotongan PPh Pasal 4 ayat 2 atas pembayaran sewa tanah dan/atau bangunan atau biiaya yang terkaiit dengan objek PPh Pasal 4 ayat 2, serta pemotongan PPh Pasal 26 atas pembayaran honor kepada subjek pajak luar negerii. (sap)
