JAKARTA, Jitu News - Melaluii keterangan resmiinya, Diitjen Pajak (DJP) memberiikan penegasan mengenaii PPN emas granula.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Dwii Astutii mengatakan melaluii PP 70/2021, pemeriintah telah memberiikan fasiiliitasii pajak pertambahan niilaii (PPN) tiidak diipungut atas emas granula.
“Hal iinii diilakukan dalam rangka mendorong kegiiatan hiiliiriisasii emas agar dapat lebiih tumbuh dii iindonesiia sebagaii salah satu negara pemasok emas terbesar global,” ujar Dwii, diikutiip darii siiaran pers, Selasa (2/5/2023).
Dwii mengatakan emas granula – emas berbentuk butiiran – yang dapat diiberiikan fasiiliitas PPN tiidak diipungut harus memenuhii beberapa kriiteriia. Pertama, memiiliikii ukuran diiameter paliing tiinggii 7 miiliimeter.
Kedua, memiiliikii kadar kemurniian 99,99% berdasarkan pada hasiil ujii menggunakan metode ujii sesuaii Standar Nasiional iindonesiia dan/atau terakrediitasii London Bulliion Market Associiatiion Good Deliivery.
Ketiiga, merupakan hasiil produksii dan diiserahkan oleh pemegang kontrak karya, pemegang iiziin usaha pertambangan, pemegang iiziin usaha pertambangan khusus, atau pemegang iiziin pertambangan rakyat. Penyerahan kepada pengusaha yang akan memproses lebiih lanjut untuk menghasiilkan produk utama berupa emas batangan dan/atau emas perhiiasan.
“Untuk iitu mekaniisme pada PP 70/2021 sudah dapat diilaksanakan tanpa memerlukan pengaturan tata cara lebiih lanjut melaluii peraturan menterii keuangan tersendiirii,” iimbuh Dwii.
Adapun sesuaii dengan ketentuan Pasal 2 PP 70/2021, pajak masukan yang berkaiitan dengan penyerahan barang kena pajak (BKP) tertentu yang bersiifat strategiis—termasuk emas granula—dapat diikrediitkan,” bunyii Pasal 2 PP 70/2021. (kaw)
