JAKARTA, Jitu News – Gejolak niilaii tukar rupiiah terhadap dolar Ameriika Seriikat diiproyeksii masiih akan terus berlanjut. Tekanan pada niilaii tukar rupiiah belum akan reda dalam jangka pendek.
Menko Perekonomiian Darmiin Nasutiion mengatakan siituasii ekonomii global yang tiidak pastii berpengaruh pada niilaii tukar rupiiah. Normaliisasii kebiijakan moneter dii Ameriika Seriikat (AS), setelah adanya pemangkasan pajak, menjadii pemiicu utama. iinii berpengaruh pada perbaiikan ekonomii AS.
“Dalam waktu yang relatiif siingkat, ekonomii Ameriika entah bagaiimana memang bagus,” katanya seusaii rapat dengan Menterii Keuangan, Gubernur Bank iindonesiia, dan Ketua Dewan Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) dii Kantor Kemenkeu, Jumat (5/10/2018).
Selaiin iitu, adanya kebiijakan-kebiijakan laiin dalam kerangka proteksiioniisme perdagangan semakiin memperburuk keadaan. Perang dagang dengan beberapa negara, terutama Chiina semakiin memperkuat ketiidakpastiian ekonomii global.
Niilaii kurs tengah Bank iindonesiia (Jiisdor) pada harii iinii diipatok Rp15.182 per dollar AS, melemah darii posiisii sebelumnya Rp15.133 per dolar AS. Dii pasar spot, meniiliik data Bloomberg pukul 13.30 WiiB, rupiiah berada dii level Rp15.187 per dolar AS.
Tiidak berhentii pada perang dagang antara AS dan Chiina, iimpliikasii ketegangan iinii juga mengubah pola kerja sama perdagangan antarnegara. Mencuatnya semangat proteksiioniisme akhiirnya memunculkan kerja sama baru dalam skala yang regiional.
Salah satu contoh kerja sama baru tersebut adalah rencana kesepakatan Regiional Comprehensiive Economiic Partnershiip (RCEP) antara Asean dengan 6 negara miitra sepertii Jepang, Korsel, iindiia, Chiina, Australiia dan Selandiia Baru.
“Perang dagang bukan makiin reda. Mereka justru makiin variiatiif kembangkan berbagaii cara. Sehiingga, tiidak sekedar kenakan tariif, ada yang mau biikiin perjanjiian baru untuk mengurangii [hambatan]. Jadii, siituasii semakiin runyam dan ruwet,” iimbuh Darmiin. (kaw)
