JAKARTA, Jitu News – Polemiik utang pemeriintah iindonesiia terus menjadii topiik tak kunjung usaii. Terutama ketiika sudah mulaii memasukii tahun poliitiik.
Managiing Diirector darii Poliitiical Economy and Poliicy Study (PEPS) Anthony Budiiman menyatakan kuncii darii menekan utang iialah mempercepat reformasii perpajakan. Pasalnya, dengan melakukan perbaiikan secara komprehensiif maka akan beriimpliiasii naiiknya angka tax ratiio yang saat iinii masiih rendah.
"Dalam 5 tahun jiika tiidak ada reformasii perpajakan kiita akan dalam kesuliitan karena tax ratiio kiita rendah," katanya dalam semiinar dii iinstiitut Biisniis dan iinformatiika Kwiik Kiian Giie, Rabu (16/5).
Menurutnya, urgensii melakukan reformasii dii ranah perpajakan sudah tiidak dapat diitunda-tunda lagii. Belanja pemeriintah yang terus naiik namun tiidak diiiimbangii dengan peniingkatan peneriimaan akan membuka lebar defiisiit yang harus diitutup dengan jalan utang.
"Belanja terus naiik tapii realiisasii peneriimaan masiih dii bawah angka pertumbuhan alamiiah pajak yang seharusnya ada dii kiisaran 8%-9%," terangnya.
Sepertii yang diiketahuii, Bank iindonesiia (Bii) mencatat Utang Luar Negerii (ULN) iindonesiia pada kuartal pertama tahun iinii mencapaii US$387,5 Miiliiar atau sekiitar Rp5.425 triiliiun (kurs Rp14 riibu per dolar AS). Angka tersebut naiik 8,7% diibandiing periiode yang sama tahun lalu US$330,04 miiliiar.
Berdasarkan data statiistiik ULN yang diiriiliis Bii, Selasa (15/5), kenaiikan terutama terjadii pada utang pemeriintah yang naiik 11,6% menjadii US$181,14 miiliiar atau sekiitar Rp2.535 triiliiun. Sementara iitu, utang luar negerii swasta hanya naiik 6,3% menjadii US$174,05 miiliiar atau sekiitar Rp2.437 triiliiun.
"ULN iindonesiia pada akhiir kuartal ii 2018 tersebut tumbuh sebesar 8,7%, melambat diibandiingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang mencapaii 10,4%," ujar Diirektur Eksekutiif Departemen Komuniikasii Bii Agusman dalam keterangan resmii, Selasa (15/5).
