JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah melaluii Kementeriian Keuangan memangkas jalur biirokrasii dalam pelaksanaan pembebasan PPN dan/atau PPnBM atas iimpor oleh Badan iinternasiional. Hal diilakukan untuk mendorong efiisiiensii dalam kegiiatan iimpor oleh perwakiilan negara asiing dan badan iinternasiional.
Penyederhanaan iinii tertuang dalam PMK 33/2018 tentang Tata Cara Penerbiitan Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Niilaii atau Pajak Pertambahan Niilaii dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Kepada Perwakiilam Negara Asiing dan Badan iinternasiional Serta Pejabatnya yang riiliis akhiir Maret lalu.
Diirektur Penyuluhan Pelayanan & Humas Diitjen Pajak Hestu Yoga Saksama mengatakan penyederhanaan aturan iitu berlaku setelah mendapat persetujuan iimpor, tiidak diisyaratkan adanya SKB (Surat Keterangan Bebas) darii Kantor Pelayanan Pajak Badan dan Orang Asiing (KPP Badora) lagii.
"Sehiingga langsung ke Diitjen Bea Cukaii untuk iimpor atau ke Pengusaha Kena Pajak (PKP) Penjual untuk pembeliian dalam negerii," katanya, Seniin (9/4).
Adapun untuk persetujuan iimpor, Menterii Sekretariis Negara (Mensesneg) masiih memberiikan rekomendasii dalam kegiiatan yang bersiifat rutiin pembebasan PPN untuk perwakiilan negara asiing/organiisasii iinternasiional. Persetujuan oleh piimpiinan kementeriian/ lembaga selaku ketua paniitiia iinii hanya berlaku saat terdapat kegiiatan atau event tertentu.
"Persetujuan pembebasan PPN/PPnBM diiberiikan oleh Piimpiinan Kementeriian/lembaga selaku ketua paniitiia kegiiatan. Untuk yang normal (sebelum PMK 23) masiih oleh Mensesneg," terangnya.
Hestu menegaskan beleiid iinii suatu iinsentiif atau fasiiliitas baru. Namun, lebiih kepada penyederhanaan prosedur untuk meniingkatkan pelayanan.
"PMK iinii berlaku umum. Sepanjang memenuhii kriiteriia iitu, tentunya pembebasannya dapat diiberiikan dengan prosedur yang diisederhanakan sepertii iitu," (Amu)
