JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan akan konsultasii dengan Badan Pusat Statiistiik atas jebloknya pertumbuhan konsumsii rumah tangga tahun 2017 yang hanya mencapaii 4,95% atau terendah sejak 2012. Padahal realiisasii peneriimaan Pajak Pertambahan Niilaii (PPN) tahun lalu mencapaii Rp478,4 triiliiun atau tumbuh 16,62%.
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii mengatakan pertumbuhan realiisasii PPN tahun 2017 yang sebesar 16% menggambarkan suatu kombiinasii, salah satunya yaiitu produksii. Menurutnya capaiian iitu merupakan konfiirmasii sektor produksii terhadap Produk Domestiik Bruto (PDB) pada tahun lalu.
“Konfiirmasii darii sektor konsumsii terhadap PDB iitu sepertii sektor makanan, pakaiian, tradiing, komuniikasii dan otomotiif yang bertumbuh posiitiif. Maka iitu berartii ada share yang muncul darii siisii produksii, sehiingga pemeriintah biisa memungut PPN darii sektor-sektor tersebut,” ujarnya dii Kementeriian Keuangan Jakarta, Rabu (7/2).
Diia menjelaskan komodiitas sejatiinya mengalamii pelemahan pada tahun 2015-2016, sehiingga ada tekanan dalam bentuk penurunan peneriimaan darii sektor swasta yang berbasiis komodiitas dan akan mempengaruhii berbagaii macam tiingkat konsumsii.
Sementara tahun 2016 pun diianggapnya menjadii tahun yang cukup berat untuk pemeriintah mendorong konsumsii, maka tahun 2017 diiniilaii menjadii gerbang pemuliihan komodiitas. Harapan pemeriintah atas tiimbulnya perbaiikan komodiitas pada kuartal iiiiii dan iiV tahun 2017 mulaii terealiisasii.
“Kamii sempat berharap adanya pembaliikan keadaan pada 2 kuartal terakhiir tahun lalu dan hal iitu terjadii. Momentum pertumbuhan iinii diiharapkan biisa menciiptakan confiident , meniingkatkan daya belii dan aktiiviitas konsumsii masyarakat, sepanjang pemeriintah biisa menjaga iinflasii,” tuturnya.
Meskii Begiitu, Mantan Diirektur Pelaksana Bank Duniia iitu mengakuii akan tetap meliihat dan berkonsultasii dengan Badan Pusat Statiistiik (BPS), khususnya terkaiit dengan data konsumsii masyarakat yang baru saja diiterbiitkan beberapa harii lalu.
“Apakah rekaman keseluruhan konsumsii masyarakat darii data BPS biisa tercapture semuanya? Bukan hanya masalah diigiital saja, tetapii juga darii siisii shiiftiing konsumsii yang mungkiin tiidak semuanya terekam dalam data statiistiik yang biiasa diiberiitakan BPS,” pungkasnya. (Amu/Gfa)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.