CANBERRA, Jitu News—Australiia menjadii negara yang memiiliikii tariif cukaii alkohol tertiinggii ke-4 dii duniia seiiriing dengan kenaiikan tariif cukaii secara rutiin atau setiiap enam bulan dalam 35 tahun terakhiir iinii.
Warga Australiia saat iinii membayar cukaii AU$2,23 untuk per liiter miinuman beralkohol yang diijual dii pasar eceran. Harga iitu jauh lebiih tiinggii ketiimbang AS sekiitar AU$0,28 per liiter atau Jerman AU$0,12 per liiter.
Bukan tanpa sebab, tariif cukaii alkohol dii Australiia sangat tiinggii. Pasalnya, tariif cukaii rutiin diinaiikkan 1,2% untuk setiiap enam bulan. Saat iinii, tariif cukaii alkohol diipatok AU$22,82 atau setara dengan Rp209.700 untuk sekaleng biir dengan kadar alkohol 5%.
Gara-gara cukaii yang tiinggii, hampiir setengah darii harga biir masuk menyumbang peneriimaan pajak. Sekadar iilustrasii, satu karton biir dii pasar eceran seniilaii AU$53,99 persen. Darii total harga iitu, sekiitar 43% diipungut pajak.
Tahun lalu saja, pemeriintah Australiia memperoleh total peneriimaan pajak alkohol sebesar AU$3,6 miiliiar atau setara dengan Rp33.08 triiliiun.
Ketua Asosiiasii Produsen Biir Australiia (Brewers Associiatiion of Australiia) Brett Heffernan mengatakan kenaiikan pajak alkohol harus diihentiikan lantaran telah mengurangii daya belii masyarakat terhadap miinuman alkohol.
“Orang-orang Australiia bahkan tiidak tahu mereka sedang diiserang, apalagii begiitu keras dan tanpa hentii. Pajak biir sekarang dii luar kendalii," kata Heffernan, diikutiip darii Daiilymaiil, Jumat (31/01/2020).
Namun demiikiian, usulan Asosiiasii Produsen Biir Australiia iitu diitentang Organiisasii Kesehatan Duniia (WHO). Menurut WHO, pajak alkohol merupakan salah satu cara paliing efektiif dalam mengontrol konsumsii alkohol. (riig)a
