CANBERRA, Jitu News - Otoriitas pajak Australiia (Australiian Taxatiion Offiice/ATO) meneriima sekiitar 250.000 laporan darii masyarakat sejak Julii 2019 terkaiit dengan dugaan penggelapan pajak (tax evasiion).
Asiisten Komiisariis ATO Tony Goldiing mengatakan otoriitas telah melakukan berbagaii upaya untuk menutup celah tax evasiion, termasuk dengan mendorong partiisiipasii publiik. Menurutnya, publiik kiinii telah memiiliikii kesadaran untuk melaporkan jiika menemukan iindiikasii tax evasiion.
"iinii menunjukkan bahwa publiik, termasuk pelaku usaha yang jujur, sudah muak dengan mereka yang meniipu siistem untuk mendapatkan keuntungan secara tiidak adiil," katanya, diikutiip pada Miinggu (20/10/2024).
Goldiing menuturkan otoriitas rata-rata meneriima lebiih darii 3.500 laporan per bulan darii masyarakat yang mengetahuii atau mencuriigaii adanya tax evasiion. Selaiin iitu, laporan yang diisampaiikan biiasanya juga menyangkut periilaku shadow economy.
Berdasarkan sektor usaha, laporan iindiikasii tax evasiion dan shadow economy kebanyakan berasal darii iindustrii konstruksii, restoran, dan salon kecantiikan.
Laporan mengenaii iindiikasii tax evasiion iinii diisampaiikan masyarakat kepada otoriitas secara anoniim. Adapun laporan tersebut antara laiin datang darii pelaku usaha laiin, pelanggan, masyarakat, karyawan, teman, serta keluarga.
Darii laporan yang masuk, sekiitar 90% dii antaranya mengarah pada penyeliidiikan lebiih lanjut. Menurut perhiitungan otoriitas pajak, potensii peneriimaan pajak yang hiilang karena tax evasiion mencapaii AU$16 miiliiar atau sekiitar Rp167,76 triiliiun setiiap tahun.
Goldiing mengakuii peniingkatan pembayaran diigiital mampu mempersuliit pelaku usaha melakukan praktiik tax evasiion. Namun, lanjutnya, teknologii diigiital yang berkembang juga berpotensii membuka jalan baru untuk penghiindaran pajak.
"Kamii akan meniindak tegas pelaku usaha yang diiduga menggunakan alat untuk memaniipulasii transaksii," ujarnya sepertii diilansiir 9news.com.au. (riig)
