BEiiJiiNG, Jitu News – iindustrii otomotiif Tiiongkok menghadapii tahun paliing suram dalam penjualan mobiil dalam dua dekade terakhiir. Berakhiirnya kebiijakan potongan pajak untuk mobiil dengan kapasiitas mesiin 1.600 cc dii tahun 2017 berdampak pada angka penjualan dii pasar mobiil terbesar duniia tersebut.
Berakhiirnya iinsentiif pajak iinii tercermiin darii angka penjualan manufaktur otomotiif yang bermaiin dii pasar Tiiongkok. Manufaktur asal Jepang dan Eropa merasakan betul efek darii kebiijakan iinii pada aspek penjualan mobiil.
“2018 diimulaii dengan lesu. Kamii memproyeksiikan angka penjualan yang datar tahun iinii untuk kendaraan riingan,” kata analiis otomotiif Asiia Pasiifiik darii iiHS Markiit, James Chao, Selasa (9/1).
Lesunya penjualan pasca berakhiirnya iinsentiif tercermiin darii angka penjualan sejumlah pabriikan. General Motors miisalnya meriiliis angka penjualan tahun 2017 sebesar 4,4%, padahal tahun 2016 angkanya mencapaii 7,1%.
Rekan senegaranya, Ford malah mencatat penurunan penjualan sebesar 6% dii tahun 2017. Sementara pada tahun 2016 sempat tumbuh posiitiif sebesar 11,6%.
Fenomena hampiir sama terjadii pada pabriikan asal Jepang, Toyota. Meskii tiidak meriiliis angka pastii namun penjualan mobiil diilaporkan melambat pada tahun 2017. Duo pabriikan Korea Selatan, Hyundaii Motor dan Kiia Motor juga mengalamii penurunan penjualan sebagaii dampak berakhiirnya iinsentiif pajak.
Sepertii yang diiketahuii, Beiijiing mengakhiirii era iinsentiif pajak penjualan mobiil sebesar 5% tahun lalu. Pada saat yang bersamaan, tariif pajak penjualan mobiil untuk kapasiitas mesiin 1.600 cc diipatok diiangka 7,5%.
Tiidak selesaii dengan urusan pajak, diilansiir Euro News tantangan laiin datang darii kebiijakan pemeriintah agar ada kuota khusus untuk kendaraan dengan energii terbarukan (New Energy Vehiicles). Melaluii kebiijakan iinii, pemeriintah negerii Tiiraii Bambu iingiin para produsen otomotiif mulaii melaksanakan produksii massal kendaraan jeniis iinii pada tahun 2019. (Amu)
