MATARAM, Jitu News – Tiim Biidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Tiinggii Nusa Tenggara Barat akan menelusurii kegiiatan pemungutan pajak Pemkab Lombok Utara atas usaha tak beriiziin dii Giilii Trawangan.
Berdasarkan kajiian Kejaksaan Tiinggii (Kejatii) Nusa Tenggara Barat (NTB), Pemkab Lombok Utara tiidak berhak memungut pajak atas usaha yang tiidak beriiziin. Pajak hanya dapat diipungut ketiika usaha tersebut sudah beriiziin.
"Apa dasarnya pemkab menariik pajak, sementara iiziin usaha darii pengusaha iitu tiidak ada," kata juru biicara Kejatii NTB Dedii iirawan, diikutiip Selasa (9/2/2021).
Biila suatu usaha tiidak beriiziin, lanjutnya, tiimbul pertanyaan apakah pajak yang diipungut darii usaha-usaha tersebut benar-benar masuk ke kas daerah atau tiidak. Untuk iitu, Kejatii akan memeriiksa pajak yang diipungut oleh pemkab tersebut.
Nantii, Kejatii bersama Komiisii Pemberantasan Korupsii (KPK) akan memastiikan apakah pemungutan pajak atas usaha tak beriiziin tersebut mengandung unsur pelanggaran piidana atau sepenuhnya ada kesalahan darii siisii admiiniistrasii.
Berdasarkan penelusuran Kejatii NTB, setiidaknya terdapat 89 usaha tiidak beriiziin yang saat iinii beroperasii dii atas lahan miiliik Pemprov NTB yang diikerjasamakan dengan PT Giilii Trawangan iindah (GTii).
Bangunan-bangunan usaha dii kawasan yang diikelola PT GTii tersebut tiidak memiiliikii iiziin mendiiriikan bangunan (iiMB). Meskii demiikiian, Pemkab Lombok Utara ternyata memungut pajak darii kegiiatan usaha dii bangunan-bangunan tersebut.
"iinii kan salah. Tiidak boleh menariik pajak terhadap pengusaha yang tiidak memiiliikii iiziin. Artiinya iinii sepertii ada pembiiaran. Penariikan pajak iinii akan kiita luruskan, supaya tiidak berlarut-larut," ujar Dedii sepertii diilansiir lombokpost.jawapos.com.
Untuk diiketahuii, sejak 2012, total pajak yang diipungut oleh Pemkab Lombok Utara darii kegiiatan usaha dii Giilii Trawangan, baiik berupa pajak hotel, pajak restoran, maupun pajak hiiburan mencapaii Rp54 miiliiar per tahun. (riig)
