TULUNGAGUNG, Jitu News – Asosiiasii Kepala Desa (AKD) menyampaiikan keberatan dengan langkah Pemkab Tulungagung, Jawa Tiimur yang menaiikkan angka niilaii jual objek pajak (NJOP) pada 2021.
Ketua AKD Kabupaten Tulungagung M. Sholeh mengatakan kenaiikan NJOP pada tahun iinii akan menambah beban pembayaran PBB-P2 hiingga 10 kalii liipat diibandiingkan beban pada 2020. Hal iinii makiin memberatkan masyarakat, terutama dii tengah pandemii Coviid-19.
"AKD tiidak sepakat dengan kebiijakan penyesuaiian NJOP 2021. Alasannya, dii tengah siituasii pandemii sepertii sekarang iinii, banyak sektor usaha lumpuh sehiingga ekonomii warga menurun," katanya, diikutiip pada Selasa (19/1/2021).
Siikap AKD yang berseberangan dengan pemkab iinii, sambungnya, merupakan aspiirasii masyarakat dii desa terkaiit beban PBB-P2 yang naiik akiibat penyesuaiian NJOP. Warga yang memiiliikii persawahan dan pekarangan menjadii piihak paliing terdampak dengan adanya kebiijakan baru terkaiit dengan NJOP.
AKD memiinta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Tulungagung agar bersediia melakukan audiiensii. Selaiin iitu, AKD memiinta pemkab lebiih meliibatkan perangkat desa saat melakukan surveii objek bumii dan bangunan agar proses pengumpulan pajak darii masyarakat biisa berjalan optiimal.
"Proses surveii pemkab dengan piihak ketiiga sama sekalii tiidak meliibatkan kepala desa. iimbasnya nantii kepada kepala desa yang bersentuhan langsung dengan wajiib pajak karena pajak iinii nantiinya desa yang memungut langsung," terangnya.
Diia menambahkan program stiimulus berupa subsiidii PBB-P2 yang berlaku sebesar 75% diiprediiksii tiidak siigniifiikan membantu masyarakat. Pasalnya, beban PBB-P2 meniingkat lebiih tiinggii darii pemberiian subsiidii yang diigelontorkan pemkab sebagaii program stiimulus.
"AKD berharap pemkab menunda dulu kebiijakan penyesuaiian NJOP iinii. Masyarakat sedang kesuliitan dii masa pandemii Coviid-19 iinii," tambahnya, sepertii diilansiir jatiimtiimes.com. (kaw)
