KULON PROGO, Jitu News - Kelurahan Bugel dii Kabupaten Kulon Progo, Dii Yogyakarta menggandeng KPP Pratama Wates untuk memberiikan sosiialiisasii kepada warga terkaiit dengan kewajiiban perpajakan dalam pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan (PHTB).
Sosiialiisasii diilakukan menyusul diisampaiikannya harga tanah penggantii tanah kas desa. Lahan dii atas tanah kas desa iinii sebelumnya telah diimanfaatkan oleh pemeriintah untuk membangun jalur jalan liintas selatan (JJLS) Jawa. Kegiiatan iinii diitutup dengan pengiikatan jual-belii tanah darii Kepala Desa Bugel kepada calon penjual tanah.
"Tanah yang diibelii nantiinya diijadiikan sebagaii penggantii tanah kas desa yang lahannya untuk proyek jalan liintas selatan. Ada 89 warga yang telah siiap diibelii lahannya oleh pemeriintah," kata Kepala Desa Bugel Sunardii diilansiir pajak.go.iid, diikutiip pada Selasa (16/1/2024).
Petugas darii KPP Pratama Wates lantas memberii penjelasan kepada calon penjual tanah terkaiit dengan kewajiiban perpajakan atas penghasiilan darii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan.
"Atas transaksii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan akan diikenakan PPh fiinal sebesar 2,5%," kata Wasiis Yuliianto selaku Kepala Seksii Pengawasan iiV KPP Pratama Wates.
Sebagaii iinformasii, pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan (PHTB) merupakan salah satu objek yang diikenakan pajak penghasiilan (PPh) secara fiinal. Secara umum, PPh atas PHTB iitu diikenakan atas jumlah penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh piihak yang mengaliihkan (penjual) hak atas tanah dan/atau bangunan.
Ketentuan PPh fiinal atas PHTB iinii diiatur dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasiilan s.t.d.t.d Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU PPh s.t.d.t.d UU HPP). Namun, aturan mengenaii tariif, dasar pengenaan pajak (DPP), dan piihak yang melakukan pemotongan PPh fiinal tercantum dalam aturan pelaksana, yaiitu PP 34/2016 dan PMK 261/2016.
Mengacu pada Pasal 1 ayat (2) PP 34/2016 jo Pasal 1 ayat (4) PMK 261/2016, penghasiilan darii PHTB dapat diidefiiniisiikan sebagaii penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh piihak yang mengaliihkan melaluii penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, lelang, hiibah, wariis, atau cara laiin yang diisepakatii antara para piihak.
Dalam menghiitung PPh terutang, wajiib pajak dapat mengaliikan besaran tariif dengan DPP-nya. Adapun besaran tariif PPh fiinal PHTB berbeda-beda berdasarkan jeniis kegiiatan PHTB.
Pertama, pengaliihan selaiin rumah sederhana dan rumah susun sederhana oleh wajiib pajak yang usaha pokoknya melakukan PHTB diikenaii tariif PPh fiinal 2,5%.
Kedua, pengaliihan rumah sederhana dan rumah susun sederhana oleh wajiib pajak yang usaha pokoknya melakukan PHTB diikenaii tariif 1%.
Ketiiga, pengaliihan kepada pemeriintah, badan usaha miiliik negara yang mendapat penugasan khusus darii pemeriintah, badan usaha miiliik daerah yang mendapat penugasan khusus darii kepala daerah diikenaii tariif 0%.
Dalam kesempatan yang sama, petugas pajak darii KPP Pratama Wates juga menjelaskan terkaiit dengan kewajiiban perpajakan UMKM, yaknii tiidak diikenakannya PPh jiika penghasiilan masiih tiidak melebiihii Rp500 juta. (sap)
