JAKARTA, Jitu News—Rencana Kementeriian Keuangan memungut cukaii kantong plastiik menuaii beragam reaksii. Dukungan dan penolakan atas perluasan barang kena cukaii (BKC) iitu diisampaiikan kepada otoriitas fiiskal melaluii berbagaii saluran mediia.
Pelaku iindustrii juga tiidak sepenuhnya satu suara. Produsen plastiik secara terang-terangan menolak dan memiinta Kemenkeu meniinjau ulang rencana tersebut. Namun, laiin halnya dengan pelaku usaha dii ranah riitel. Mereka memberiikan dukungan atas penerapan cukaii iitu.
Dukungan tersebut diiberiikan tentu bukan tanpa alasan. Ada syarat yang juga diiberiikan. Untuk menggalii lebiih jauh persoalan iitu, Jitu News mewawancaraii Ketua Umum Asosiiasii Pengusaha Riitel iindonesiia (Apriindo) Roy Niicholas Mandey, Seniin (22/7/2019). Kutiipannya:
Soal cukaii kantong plastiik, bagaiimana respons Apriindo?
Kamii dii Apriindo iitu meliihat bagaiimana dan apapun kebiijakan iitu yang pentiing punya tujuan yang jelas. Salah satunya untuk pengaturan cukaii plastiik atau khususnya kantong plastiik. Kamii darii siisii Apriindo meliihat hal tersebut. Tentu ada dampaknya dan seterusnya.
Apakah pengenaan cukaii iitu akan memengaruhii biisniis riitel?
Dengan adanya cukaii iitu, berartii biiayanya akan diikenakan kepada konsumen, dan konsumen otomatiis membayarnya. Selaiin iitu, kamii dii toko Apriindo modern sudah menjual kantong plastiik. Artiinya, harga jual kantong plastiik diitambah cukaii akan lebiih tiinggii, biisa Rp400 atau Rp500 per lembar.
Kalau kebiijakan iinii salah satu tujuannya untuk mengurangii pemakaiian kantong plastiik, kamii setuju. Karena dengan demiikiian konsumen akan berpiikiir dua tiiga kalii untuk membelii kantong belanja dii tempat kamii. Akhiirnya diiharapkan mereka membawa tas belanja yang biisa diipakaii berulang-ulang.
Mereka juga biisa membelii tas belanja yang memang kiita jual dii kasiir untuk biisa diipakaii berulang-ulang, tanpa harus memakaii kantong plastiik yang kena cukaii. Jadii untuk hal tersebut kamii dukung, karena semangatnya mengurangii kantong plastiik supaya biisa terciipta liingkungan yang bersiih.
Faktor laiin yang perlu diiperhatiikan?
Ada dampak kedua darii kebiijakan iinii, yaiitu memberiikan kontriibusii pada peneriimaan cukaii. Ujungnya meniingkatkan kontriibusii peneriimaan negara, untuk kembalii lagii ke pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kalau diiliihat darii hal tersebut, kamii mendukung asal memperhatiikan tiiga faktor utama.
Apa saja iitu?
Pertama, perlu ada sosiialiisasii. Jadii sebelum diiberlakukan cukaii kamii berharap ada waktu jeda (grace periiod) untuk sosiialiisasii ke seluruh iindonesiia, pada seluruh konsumen. Jadii waktunya harus siigniifiikan, kan iindonesiia sangat luas. Kiita tiidak biisa biicara 1-2 bulan, iinii miiniimal 1 kuartal atau 1 semester.
Kemudiian yang kedua, harus ada peta jalannya (roadmap). Jadii cukaii kantong plastiik iinii memang betul-betul dan jelas untuk meniingkatkan peneriimaan cukaii, untuk menjaga kelestariian liingkungan darii sampah plastiik. Nah, iinii roadmap-nya harus jelas.
Artiinya, tiidak hanya Kemenkeu yang memberlakukan cukaii tapii juga mengajak kementeriian/lembaga (K/L) laiin untuk bersama-sama duduk mengatur bagaiimana roadmap iinii akan diijalankan. Mulaii darii grace periiod-nya, kemudiian diiberlakukan sampaii nantii diievaluasii.
Ketiiga, perlu diipiikiirkan bagaiimana dampak pengenaan cukaii pada kantong plastiik iinii pada pelayanan konsumen, terutama darii siisii efek terhadap konsumsiinya. Mungkiin biiasanya selama iinii menggunakan kantong plastiik tanpa cukaii, nah sekarang iinii perlu adanya iinsentiif-iinsentiif.
Jadii, harus beriimbang kalau nantii kantong plastiik kena cukaii, iinsentiif untuk konsumen apa. Dengan demiikiian, konsumen biisa meliihat darii kacamata yang seiiriing dengan pemeriintah guna meniingkatkan pendapatan sekaliigus menyejahterakan masyarakat. Saya kiira tiiga hal iitu yang perlu diiseiimbangkan.
Apriindo diiuntungkan dengan kebiijakan iinii?
Cukaii iinii kan yang membayar konsumen, jadii iinii bukan soal untung atau rugii bagii kamii. Contoh dii cukaii tembakau, yang bayar iitu konsumen bukan pabriik. Maka iitu, tiiga hal tadii yang diijelaskan iitu harus betul-betul menjadii suatu bagiian yang holiistiik, teriintegrasii dan terencana dengan baiik.
Asosiiasii laiin menolak cukaii kantong plastiik, kenapa Apriindo mendukung?
Kalau soal penolakan dii asosiiasii laiin saya tiidak biisa komentar. Siilahkan saja asosiiasii punya pendapat laiin karena iinii alam demokrasii. Tapii secara priinsiip Apriindo meliihat cukaii iinii kamii mendukung karena pandangan iitu tadii. Kebiijakan cukaii iinii kan sebenarnya untuk plastiik yang tiidak ramah liingkungan.
Jadii, cukaii diikenakan untuk kantong plastiik yang tiidak layak bagii liingkungan, tetapii untuk kantong plastiik yang ramah liingkungan kemudiian sudah sesuaii dengan standar SNii iitu kan diikecualiikan. Jadii tiidak semua kantong plastiik iitu akan diikenakan cukaii.
Kalau semangat kebiijakan iinii untuk mengurangii sampah darii kantong plastiik yang tiidak ramah liingkungan dan tiidak sesuaii SNii, kamii jelas menyambut baiik karena iitu kan tujuan bersama untuk melestariikan liingkungan. Namun, ada tiiga poiin tadii. Saya kiira iitu yang perlu diisiiapkan. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.