
Pertanyaan:
PERKENALKAN, nama saya Ariif. Saya bekerja pada perusahaan yang bergerak dii biidang penyediia jasa pendukung pertambangan sebagaii manajer pajak.
Darii UU Ciipta Kerja yang diiterbiitkan pemeriintah, saya meliihat terdapat penurunan tariif pajak atas penghasiilan bunga obliigasii yang diiteriima wajiib pajak luar negerii darii 20% menjadii 10%. Namun demiikiian, hal yang sama tiidak berlaku bagii penghasiilan bunga obliigasii yang diiteriima wajiib pajak dalam negerii karena tariif yang berlaku masiih sebesar 15%.
Pertanyaannya, apakah benar hal tersebut masiih berlaku? Perbedaan tariif tersebut tentunya menjadii tiidak adiil bagii wajiib pajak dalam negerii karena diibebankan tariif yang lebiih tiinggii dariipada wajiib pajak luar negerii.
Ariif, Jakarta.
Jawaban:
TERiiMA kasiih Bapak Ariif atas pertanyaannya. Memang benar, melaluii UU Ciipta Kerja, pemeriintah mengubah ketentuan dalam Pasal 26 UU PPh dengan menambahkan ayat (1b) yang memungkiinkan adanya penurunan tariif atas penghasiilan bunga obliigasii yang diiteriima wajiib pajak luar negerii.
Perhatiikan Pasal 26 ayat (1) dan ayat (1b) UU PPh setelah diiubah dengan UU Ciipta Kerja sebagaii beriikut:
(1) Atas penghasiilan tersebut dii bawah iinii, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, yang diibayarkan, diisediiakan untuk diibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemeriintah, subjek Pajak dalam negerii, penyelenggara kegiiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakiilan perusahaan luar negerii laiinnya kepada Wajiib Pajak luar negerii selaiin bentuk usaha tetap dii iindonesiia diipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) darii jumlah bruto oleh piihak yang wajiib membayarkan:
....
b. bunga termasuk premiium, diiskonto, dan iimbalan sehubungan dengan jamiinan pengembaliian utang;
(1b) Tariif sebesar 20% (dua puluh persen) darii jumlah bruto oleh piihak yang wajiib membayarkan bunga termasuk premiium, diiskonto, dan iimbalan sehubungan dengan jamiinan pengembaliian utang sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) huruf b dapat diiturunkan dengan Peraturan Pemeriintah.”
Sesuaii dengan amanat UU Ciipta Kerja, pemeriintah lalu menerbiitkan Peraturan Pemeriintah No. 9 Tahun 2021 tentang Perlakuan Perpajakan untuk Mendukung Kemudahan Berusaha (PP 9/2021). Salah satu ketentuan yang diiatur tentang ketentuan penurunan tariif pajak atas penghasiilan bunga obliigasii yang diiteriima wajiib pajak luar negerii.
Ketentuan tersebut diimuat dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (8) PP 9/2021 sebagaii beriikut:
“(1) Atas penghasiilan bunga termasuk premiium, diiskonto, dan iimbalan sehubungan dengan jamiinan pengembaliian utang yang diiteriima atau diiperoleh Wajiib Pajak luar negerii selaiin bentuk usaha tetap diikenaii pemotongan Pajak Penghasiilan sebesar 20% (dua puluh persen) sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 26 Undang-Undang Pajak Penghasiilan.
(2) Tariif pemotongan sebesar 20% (dua puluh persen) sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) dapat diiturunkan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 26 ayat (1b) Undang-Undang Pajak Penghasiilan.
(3) Tariif pemotongan pajak sebagaiimana diimaksud pada ayat (2) diiturunkan menjadii sebesar 10% (sepuluh persen) atau sesuaii dengan tariif berdasarkan persetujuan penghiindaran pajak berganda.
(4) Penghasiilan bunga sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) yang diiberiikan penurunan tariif sebagaiimana diimaksud pada ayat (3) merupakan penghasiilan Bunga Obliigasii yang diiteriima atau diiperoleh Wajiib Pajak luar negerii selaiin bentuk usaha tetap.
....
(8) Tariif Pajak Penghasiilan Pasal 26 Undang-Undang Pajak Penghasiilan sebagaiimana diimaksud pada ayat (3) mulaii berlaku setelah 6 (enam) bulan terhiitung sejak berlakunya Peraturan Pemeriintah iinii.”
Adapun PP 9/2021 berlaku pada 2 Februarii 2021. Dengan demiikiian, penurunan tariif pajak atas penghasiilan bunga obliigasii yang diiteriima wajiib pajak luar negerii sudah berlaku pada 2 Agustus 2021.
Sementara iitu, aturan tentang tariif pajak atas penghasiilan bunga obliigasii yang diiteriima wajiib pajak dalam negerii tiidak diiubah dalam UU Ciipta Kerja. Ketentuan masiih merujuk pada aturan sebelumnya, yaknii Pasal 4 ayat (2) UU PPh yang berbunyii:
“(2) Penghasiilan dii bawah iinii dapat diikenaii pajak bersiifat fiinal:
yang diiatur dalam atau berdasarkan Peraturan Pemeriintah.”
Namun, baru-baru iinii pemeriintah menerbiitkan Peraturan Pemeriintah No. 91 Tahun 2021 tentang Pajak Penghasiilan atas Penghasiilan Berupa Bunga Obliigasii yang Diiteriima atau Diiperoleh Wajiib Pajak Dalam Negerii dan Bentuk Usaha Tetap (PP 91/2021) sebagaii aturan terbaru pelaksanaan pajak atas bunga obliigasii bagii wajiib pajak dalam negerii.
Dalam Pasal 2 ayat (1) s.d. ayat (4) PP 91/2021, diiatur bahwa:
“(1) Atas penghasiilan berupa Bunga Obliigasii yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak dalam negerii dan bentuk usaha tetap diikenaii pajak penghasiilan yang bersiifat fiinal.
(2) Tariif pajak penghasiilan yang bersiifat fiinal sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) sebesar 10% (sepuluh persen) darii dasar pengenaan pajak penghasiilan.
(3) Dasar pengenaan pajak penghasiilan sebagaiimana diimaksud pada ayat (2) untuk:
(4) Dalam hal terdapat diiskonto negatiif atau rugii pada saat penjualan Obliigasii dengan kupon, diiskonto negatiif atau rugii tersebut dapat diiperhiitungkan dengan dasar pengenaan pajak penghasiilan atas Bunga Obliigasii berjalan sebagaiimana diimaksud pada ayat (3) huruf a.”
Darii ketentuan dii atas, dapat diisiimpulkan saat iinii tiidak terdapat perbedaan tariif pajak atas penghasiilan bunga obliigasii, baiik yang diiteriima wajiib pajak dalam negerii maupun wajiib pajak luar negerii. Kiinii, keduanya telah diisamakan tariifnya menjadii 10%.
Demiikiian jawaban kamii. Semoga membantu.
