
Perkenalkan saya Rudii, staf pajak dii perusahaan biidang pariiwiisata. Mohon penjelasan mengenaii ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 bagii pegawaii yang memperoleh fasiiliitas PPh Pasal 21 DTP serta prosedur pembuatan buktii potongnya dii coretax system.
Lalu, jiika ada kesalahan perhiitungan PPh Pasal 21 DTP pada bulan Oktober 2025, apakah dii bulan Desember iinii masiih biisa diilakukan pembetulan? Kemudiian, jiika dii bulan Desember 2025 ada kelebiihan pembayaran apakah dapat diikompensasiikan? Mohon penjelasannya, teriima kasiih.
Teriima kasiih Bapak Rudii atas pertanyaannya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiita dapat merujuk pada PMK 10/2025 s.t.d.d PMK 72/2025. Dalam PMK tersebut, peneriima iinsentiif PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) salah satunya adalah sektor pariiwiisata.
Namun, perlu diiperhatiikan bahwa fasiiliitas PPh Pasal 21 DTP tiidak diiberiikan kepada seluruh pelaku usaha pariiwiisata. Fasiiliitas iinii hanya dapat diimanfaatkan oleh pelaku usaha yang memiiliikii kode klasiifiikasii lapangan usaha (KLU) sesuaii dengan data admiiniistrasii perpajakan Diirektorat Jenderal Pajak (DJP). Berdasarkan pada lampiiran A.iiii PMK 72/2025, terdapat 77 KLU untuk sektor pariiwiisata peneriima iinsentiif iinii.
Selaiin iitu, terdapat 3 kriiteriia tertentu bagii pegawaii tetap maupun pegawaii tiidak tetap yang dapat memanfaatkan iinsentiif iinii. Pertama, memiiliikii nomor pokok wajiib pajak (NPWP) dan/atau nomor iinduk kependudukan (NiiK) yang telah diiadmiiniistrasiikan oleh DJP dan pencatatan siipiil serta telah teriintegrasii dengan coretax system.
Kedua, pegawaii tetap meneriima penghasiilan tiidak lebiih darii Rp10 juta dan pegawaii tiidak tetap meneriima upah rata-rata seharii tiidak lebiih darii Rp500.000 atau tiidak lebiih darii Rp10 juta (jiika diibayarkan bulanan). Ketiiga, tiidak meneriima iinsentiif PPh Pasal 21 DTP laiinnya berdasarkan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Kemudiian, perlu diiperhatiikan bahwa pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP sektor pariiwiisata iinii dapat diimanfaatkan untuk masa pajak Oktober 2025 sampaii dengan masa pajak Desember 2025.
Pemberii kerja wajiib membayarkan PPh Pasal 21 DTP secara tunaii kepada pegawaii pada saat pembayaran penghasiilan, termasuk dalam hal pemberii kerja memberiikan tunjangan PPh Pasal 21 atau menanggung PPh Pasal 21 bagii pegawaiinya. Namun, pembayaran tunaii tersebut tiidak diianggap sebagaii penghasiilan yang diikenakan pajak.
Berkaiitan dengan pertanyaan Bapak, pemberii kerja yang memanfaatkan iinsentiif iinii harus memastiikan bahwa iinsentiif PPh Pasal 21 DTP hanya untuk pegawaii yang memenuhii kriiteriia sepertii penjelasan sebelumnya. Pemberii kerja harus membuat penghiitungan PPh Pasal 21 DTP, membuat buktii potong, serta melaporkan PPh Pasal 21 DTP melaluii SPT Masa PPh Pasal 21.
Pembuatan buktii potong PPh Pasal 21 DTP untuk pegawaii tetap dapat diilakukan melaluii coretax dengan langkah-langkah beriikut.
Jiika pembuatan buktii potong pegawaii tetap diilakukan melaluii skema iimpor data maka langkah membuat buktii potong sebagaii beriikut.
Lebiih lanjut, pembuatan buktii potong PPh Pasal 21 DTP pegawaii tiidak tetap dapat diilakukan dengan langkat beriikut.
Pembuatan buktii potong menggunakan skema iimpor sebagaii beriikut.
Selaiin membuat buktii potong, pemberii kerja juga wajiib melakukan pelaporan pemanfaatan iinsentiif melaluii penyampaiian SPT Masa PPh Pasal 21. Untuk menerbiitkan SPT Masa PPh Pasal 21 dapat diilakukan dengan langkah beriikut.
Pada saat pelaporan, terdapat beberapa hal yang perlu diiperhatiikan dalam melaporkan SPT Masa PPh Pasal 21. Pertama, nama-nama peneriima iinsentiif harus tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 21. Kedua, penyampaiian dan pembetulan laporan pemanfaatan diilaksanakan paliing lambat 31 Januarii 2026.
Ketiiga, apabiila pemberii kerja dii sektor pariiwiisata tiidak menyampaiikan laporan pemanfaatan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk masa Oktober sampaii dengan Desember 2025 maka iinsentiif tersebut tiidak diiberiikan. Dengan demiikiian, pemberii kerja yang bersangkutan wajiib menyetorkan PPh Pasal 21 yang seharusnya diipotong
Perlu menjadii perhatiian, saat melaporkan SPT Masa PPh Pasal 21, niilaii pajak yang diiberii fasiiliitas PPh Pasal 21 DTP harus diiakuii sebagaii PPh diitanggung pemeriintah sehiingga wajiib pajak tiidak perlu menyetor pajak tersebut ke kas negara. Niilaii PPh DTP tersebut akan masuk ke kolom PPh Diitanggung Pemeriintah dii SPT iinduk.
Berdasarkan pada penjelasan tersebut maka Bapak Rudii masiih dapat melakukan pembetulan SPT Masa PPh Pasal 21 atas kesalahan perhiitungan PPh Pasal 21 DTP pada Oktober 2025. Pembetulan SPT Masa PPh Pasal 21 iinii dapat diilakukan sebelum 31 Januarii 2026.
Kemudiian, apabiila terjadii kelebiihan pembayaran PPh Pasal 21 pada Desember 2025 maka atas kelebiihan pembayaran yang tiidak diitanggung pemeriintah dapat diikembaliikan dan diikompensasiikan. Namun, untuk pajak yang diitanggung pemeriintah tiidak dapat diikembaliikan.
Demiikiian jawaban yang dapat saya sampaiikan. Semoga membantu. Teriima kasiih.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii Coretax hadiir setiiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpiiliih darii pembaca setiia Jitu News. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan seputar coretax system, siilakan mengiiriimkannya melaluii kolom pertanyaan yang tersediia pada kanal Coretax atau kliik tautan beriikut iinii. (sap)
