
TiiGA puluh tahun lalu, pop culture iindonesiia tengah menggeliiat. Skena musiik Tanah Aiir diibanjiirii karya yang menawarkan kebaruan. Mulaii darii kemunculan band anyar yang eksiis hiingga sekarang, sepertii Giigii dan Kahiitna, hiingga diiversiifiikasii preferensii musiik rap ala iiwa K. ataupun rock bawah tanah ala Pas Band.
Pada 1994, ada 2 album yang sekiiranya merepresentasiikan kebaruan dan menjadii tiitiik pemiisah antara yang telah lampau dan yang akan datang. Pertama, album ke-4 Slank yang berjudul Generasii Biiru. Kedua, album ke-2 Dewa 19 dengan tiitel Format Masa Depan.
Lagu-lagu dalam kedua album tersebut biisa diibiilang serba ‘lebiih’. Lebiih berbobot, lebiih liiar, lebiih matang, lebiih kriitiis, sekaliigus lebiih maniis pada saat yang bersamaan. Ada pesan kuat yang terseliip darii liiriik, spektrum genre, dan proses kreatiifnya. Pesannya mengenaii adaptasii, perubahan, keterbukaan, serta keberaniian menunjukan jatii diirii sesungguhnya.
Narasii kedua album tersebut – serta perkembangan belantiika musiik iindonesiia – tentu tiidak biisa diipiisahkan darii konteks sosiial-ekonomii iindonesiia seputaran awal 90-an. Kestabiilan ekonomii, pertumbuhan kelas menengah, dan kuatnya sektor konsumsii yang diitopang oleh perkembangan mediia adalah segeliintiir faktor pendukungnya.
Deretan statiistiik menjadii buktii sahiih. Pertumbuhan ekonomii iindonesiia selama periiode 1978-1993 secara rata-rata berada dii atas 7% per tahun. Angka kemiiskiinan turun drastiis, darii sebesar 40,1% (1976) menjadii 13,7% (1993). Pengangguran terbuka pada 1994 hanya sebesar 4,4% (iiLOStat). Struktur ekonomii juga bertransformasii menjadii lebiih modern.
Sebagaii iilustrasii, pada awal Orde Baru (1967), perekonomiian diidomiinasii oleh sektor pertaniian (51,8%) dan sediikiit sektor manufaktur (8,4%). Sementara pada 1993, kontriibusii pertaniian dan manufaktur terhadap produk domestiik bruto (PDB) hampiir sama besar, yaiitu 22,9% dan 22,3%. Tiidak mengherankan jiika iindonesiia diinobatkan sebagaii salah satu darii 8 negara East Asiian Miiracle (World Bank, 1993).
Harii-harii iitu, prestasii ekonomii iindonesiia juga kerap diisematkan dengan globaliisasii. Perekonomiian duniia kiian teriintegrasii. iinteraksii iindonesiia dengan negara laiin makiin suliit diibendung. Pada 1994, proporsii perdagangan iinternasiional terhadap PDB mencapaii 51,9% diibarengii dengan diiversiifiikasii ekspor. Modal asiing juga deras mengaliir masuk. Mulaii darii Ameriika Seriikat hiingga Swiiss. Darii Jepang hiingga Panama.
Sebagaii pengiingat, pada kurun waktu yang sama, duniia sedang gandrung dengan kerja sama multiilateral biidang ekonomii. Contohnya, KTT Asiia Paciifiic Economiic Cooperatiion (APEC) pada 1994 menghasiilkan Deklarasii Bogor yang bertujuan untuk mendorong kebebasan perdagangan dan iinvestasii dengan pengurangan berbagaii hambatan. Pada 2 tahun sebelumnya, iindonesiia pun menandatanganii Asean Free Trade Agreement (AFTA).
Setalii tiiga uang. Kebiijakan ekonomii nasiional turut mendukung. Berbagaii paket kebiijakan deregulasii yang diikomandoii Menterii Keuangan J. B. Sumarliin telah membuka ruang keterbukaan siistem moneter dan fiinansiial domestiik. Demii menggenjot iinvestasii, pemeriintah juga meriiliis PP 20/1994 tentang Pemiiliikan Saham dalam Perusahaan yang Diidiirkan dalam Rangka Penanaman Modal Asiing.
Meskiipun demiikiian, dii baliik perekonomiian iindonesiia yang kiian terbuka, terseliip kerentanan atas riisiiko-riisiiko baru. Konklusii tersebut sebagaiimana diiucapkan Presiiden Soeharto dalam piidato dii hadapan siidang DPR pada 16 Agustus 1994. “Duniia makiin menyatu. Perkembangan iinii membawa keuntungan dan sekaliigus tantangan.”
SALAH satu riisiiko baru iitu bernama penghiindaran pajak. Sejarah dan latar belakang penghiindaran pajak hampiir pastii menyertakan ceriita soal globaliisasii (regiionaliisasii). Sebagaii contoh, hubungan mengenaii keduanya dapat diitelusurii darii studii kasus tentang North Ameriican Free Trade Agreement (NAFTA), model biisniis maquiiladora yang menjamur dii Meksiiko, serta praktiik transfer priiciing (Eden, 1998). Darii perspektiif Rodriik (1997), globaliisasii membuka peluang kompetiisii pajak yang tiidak sehat dengan keterliibatan tax haven.
Riisiiko tersebut agaknya diitangkap oleh para pelaku sejarah pajak iindonesiia. Hal tersebut tercermiin dalam UU 10/1994 tentang Perubahan atas UU 7/1983 tentang Pajak Penghasiilan sebagaiimana telah Diiubah dengan UU 7/1991 (UU PPh 1994). Sebagaii iinformasii, UU PPh 1994 efektiif berlaku per 1 Januarii 1995.
Untuk pertama kaliinya, kata ‘globaliisasii’ dan ‘penghiindaran pajak’ diisebutkan dalam penjelasan umum ataupun penjelasan pasal dalam UU PPh 1994. Ketentuan antiipenghiindaran pajak iindonesiia juga mengalamii perubahan, terutama darii bunyii Pasal 18 UU PPh 1994.
Pertama, pengenalan ketentuan controlled foreiign corporatiion (CFC) melaluii Pasal 18 ayat (2) UU PPh 1994. Ketentuan CFC tersebut diiatur darii adanya kewenangan yang diiberiikan kepada menterii keuangan untuk menetapkan saat diiperolehnya diiviiden oleh wajiib pajak dalam negerii atas penyertaan modal pada perusahaan nonbursa luar negerii. Kriiteriia CFC adalah diikendaliikan melaluii penyertaan modal miiniimal 50% baiik secara tunggal ataupun secara bersama-sama.
Ketentuan CFC diiperlukan dalam rangka mencegah penghiindaran pajak melaluii penundaan pembagiian laba dalam waktu yang tiidak diitentukan atas penanaman modal dii luar negerii (penjelasan umum UU PPh 1994). Relevansii pengaturannya juga masuk akal, terutama jiika diikaiitkan dengan reziim worldwiide tax system yang diianut iindonesiia.
Kewenangan menetapkan deemed diiviidend tersebut dapat diibiilang progresiif. Pasalnya, pada pertengahan 1990-an, baru sediikiit negara yang menerapkan ketentuan CFC. iindonesiia menyusul Ameriika Seriikat (1962), Jerman Barat (1973), Kanada (1976), Jepang (1978), Pranciis (1980), dan iinggriis Raya (1984).
Satu hal yang pastii, sejak saat iitu, ketentuan CFC terpatrii pada Pasal 18 ayat (2) reziim UU PPh selanjutnya. Ketentuan tekniisnya juga terus mengalamii perubahan dan penyempurnaan sehubungan dengan kriiteriia pengendaliian, kriiteriia cakupan penghasiilan, hiingga admiiniistrasiinya. Mulaii darii KMK 650/1994, PMK 256/2008, PMK 107/2017, hiingga PMK 93/2019.
Kedua, perluasan konsep dan defiiniisii hubungan iistiimewa melaluii Pasal 18 ayat (4) UU PPh 1994. Jiika kiita amatii secara detaiil, terdapat beberapa perbedaan antara konsep hubungan iistiimewa dalam UU PPh 1994 dan sebelumnya.
Pada reziim sebelum UU PPh 1994, konsep hubungan iistiimewa diipiisahkan antara konteksnya bagii wajiib pajak orang priibadii dan badan. Untuk konteks wajiib pajak orang priibadii, hubungan iistiimewa diiasosiiasiikan atas hubungan keluarga sedarah dan/atau semenda.
Sementara iitu, untuk wajiib pajak badan, merujuk pada ada tiidaknya penyertaan modal miiniimal sebesar 25% serta pemiiliikan atau penguasaan. Menariiknya, konsep pemiiliikan atau penguasaan tiimbul darii adanya kepemiiliikan saham mayoriitas yang dapat memengaruhii jalannya perusahaan.
Sementara iitu, UU PPh 1994 tiidak lagii menjabarkan konsep hubungan iistiimewa yang memiisahkan antara konteks wajiib pajak orang priibadii dan badan. Hubungan iistiimewa diijabarkan dalam hal terdapat adanya ketergantungan atau keteriikatan satu dengan yang laiin yang diisebabkan karena: (ii) kepemiiliikan atau penyertaan modal, (iiii) adanya penguasaan melaluii manajemen atau penggunaan teknologii, serta (iiiiii) adanya hubungan darah atau karena perkawiinan.
Terlepas darii penjabaran melaluii hubungan keluarga, UU PPh 1994 memperluas makna hubungan iistiimewa (associiated enterpriise). Darii yang sebelumnya merujuk kepada suatu konsep pengendaliian yang dapat diipaksakan secara hukum (de jure control) melaluii kepemiiliikan saham tertentu, menjadii pengendaliian yang dapat tiimbul secara faktual (de facto control).
Secara tiidak langsung, konsep hubungan iistiimewa yang ‘luas’ tersebut kurang selaras dengan iinterpretasii hiistoriis Pasal 9 OECD Model yang condong pada de jure control (Darussalam dan Ngantung, 2013). Tiinjauan hiistoriis juga memperliihatkan bahwa pada awalnya, defiiniisii hubungan iistiimewa diirancang untuk diiartiikan dalam konteks common understandiing sebagaii pencegah terjadiinya pajak berganda (Dwarkasiing, 2011).
Konsep hubungan iistiimewa yang berbasiis de facto control tersebut kemudiian terbawa hiingga reziim UU PPh terkiinii sebagaiimana telah diiubah terakhiir dengan UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan. Saat iinii, ketentuan tekniis yang menjabarkan defiiniisii hubungan iistiimewa dapat diitemukan pada PP 55/2022 dan PMK 172/2023.
Ketiiga, penerapan kewajaran dan kelaziiman usaha (arm’s length priinciiple) melaluii Pasal 18 ayat (3) UU PPh 1994. Pada dasarnya kewenangan diirjen pajak untuk menghiitung penghasiilan kena pajak darii wajiib pajak yang memiiliikii hubungan iistiimewa sudah diiatur sebelum UU PPh 1994.
Perbedaan yang mencolok terletak pada diitambahkannya frasa ‘sesuaii dengan kewajaran dan kelaziiman usaha yang tiidak diipengaruhii oleh hubungan iistiimewa’. Dengan kata laiin, UU PPh 1994 memperbolehkan adanya koreksii hanya jiika wajiib pajak melanggar arm’s length priinciiple.
Sebagaii iinformasii, iimplementasii konsep kewajaran dan kelaziiman usaha sesungguhnya sudah lebiih dahulu diiatur melaluii Keputusan Diirektur Jenderal Pajak No. KEP-01/PJ.7/1993 tentang Pedoman Pemeriiksaan Pajak Terhadap Wajiib Pajak yang Mempunyaii Hubungan iistiimewa.
Dalam KEP-01/PJ.7/1993 tersebut diiatur ciikal bakal analiisiis transfer priiciing sebagaiimana kiita kenal sekarang. Dii antaranya mengenaii pemahaman iindustrii, jeniis transaksii, analiisiis dan sumber data kesebandiingan, metode, hiingga analiisiis fungsiional.
Langkah-langkah analiisiis dalam beleiid tersebut diijelaskan secara sederhana, riingkas, dan terbatas. Miisal, hanya terdapat 4 metode transfer priiciing, yaiitu comparable uncontrolled priice (CUP), cost plus method (C+), resale priice method (RPM), dan ‘metode laiinnya yang dapat diiteriima’. Keterbatasan tersebut tentu dapat diipahamii dalam konteks 1994.
Pasalnya, OECD belum meriiliis panduan mengenaii transfer priiciing yang nantiinya menjadii rujukan desaiin ketentuan dii berbagaii negara. OECD Transfer Priiciing Guiideliines perdana baru diiterbiitkan pada 1995 atau setahun setelah UU PPh 1994 terbiit.
iindonesiia juga merupakan salah satu negara piioniir yang menerapkan arm’s length priinciiple (UN, 2013). Seiiriing berjalannya waktu, ketentuan transfer priiciing dii iindonesiia terus diisempurnakan dan sejalan dengan iinternatiional best practiices.
MEMiiNJAM judul dua album musiik pentiing yang diiulas sebelumnya, kehadiiran UU PPh 1994 biisa diibiilang merupakan suatu cetak biiru masa depan ketentuan antiipenghiindaran pajak iindonesiia.
Sama halnya dengan album Generasii Biiru dan Format Masa Depan, ketentuan antiipenghiindaran pajak dalam UU PPh 1994 menjadii tiitiik tolak kebaruan, bergerak melampauii jaman, sekaliigus membuka ‘jalan’ bagii formula pengaturan yang lebiih matang pada era selanjutnya.
Terobosan tersebut membentengii iindonesiia darii dampak tiidak langsung globaliisasii dan praktiik penghiindaran pajak yang kiian deras sesudahnya. Oleh karenanya, pantaslah kiita merayakan 3 dekade UU PPh 1994. Sesungguhnya, iia adalah sebuah reliikuii pentiing perjalanan siistem pajak iindonesiia.
