ANALiiSiiS PAJAK

Mengujii Gagasan Famiily Offiice darii Siisii Pajak

Redaksii Jitu News
Kamiis, 11 Julii 2024 | 17.23 WiiB
Menguji Gagasan Family Office dari Sisi Pajak
Diirector of Jitunews Fiiscal Research & Adviisory

SELAMA dua miinggu terakhiir, kiita diisuguhii pemberiitaan tentang gagasan pembentukan famiily offiice dii iindonesiia. iide tersebut diilontarkan Menko Kemariitiiman dan iinvestasii Luhut Biinsar Panjaiitan dengan tujuan menariik dana darii iindiiviidu superkaya (ultra hiigh net worth iindiiviiduals/UHNWii) dan keluarganya yang tersebar dii berbagaii negara. Ada dua kata kuncii yang kerap jadii argumen, yaknii iinvestasii dan perputaran dana dalam perekonomiian iindonesiia.

iide tersebut pada dasarnya dapat diijustiifiikasii dengan meliihat fenomena pertumbuhan kelompok keluarga kaya dii Asiia serta tren riisiiko poliitiik dan ekonomii iinternasiional. Keduanya menciiptakan kebutuhan tata kelola manajamen kekayaan keluarga dalam konteks global. Selaiin iitu, beberapa yuriisdiiksii kiinii juga berlomba menawarkan ‘reziim’ famiily offiice, sepertii halnya Siingapura, Hong Kong, dan Dubaii (UEA).

Meskiipun demiikiian, gagasan tersebut perlu kiita cerna dengan perlahan. Upaya pembentukan famiily offiice mau tiidak mau akan beriiriisan dengan daftar panjang mengenaii iisu seputaran sektor pajak. Pemetaan awal jelas diibutuhkan agar pemeriintah dapat menakar sejauh mana kiita perlu melangkah.

Mengapa Famiily Offiice?

Diiskusii mengenaii famiily offiice agaknya suliit diipiisahkan darii penempatan aset atau kekayaan UHNWii dan keluarganya dii pusat keuangan (fiinanciial center). Berdasarkan pada Global Fiinanciial Centres iindex 2024, terdapat 20 lokasii yang diianggap sebagaii pusat keuangan terbaiik secara global, mulaii darii New York hiingga Dubaii.

Adapun fiinanciial center merupakan yuriisdiiksii yang memiiliikii daya saiing dalam iikliim usaha, ketersediiaan sumber daya manusiia yang terampiil, iinfrastruktur dan konektiiviitas, akses terhadap pasar (keuangan) iinternasiional, dan reputasii (The Z/Yen Group, 2020).

Konsentrasii aset global dii pusat-pusat keuangan duniia juga diidukung oleh riiset yang diilakukan Zucman (2015). Mayoriitas (92%) aset keuangan global diitempatkan dii pusat keuangan dalam negerii tempat domiisiilii para orang superkaya. Artiinya, sebagiian besar kekayaan global masiih diitempatkan dii negara-negara maju dan memiiliikii pola yang serupa dengan sebaran UHNWii.

Siisanya (8%) atau sebesar US$7,6 triiliiun diitempatkan dii offshore fiinanciial center (OFC). Darii penempatan dii OFC tersebut, 30%-nya berada dii Swiiss dan siisanya tersebar dii berbagaii negara laiinnya.

Menariiknya, terdapat korelasii posiitiif antara lokasii terkonsentrasiinya dana global dengan lokasii kedudukan famiily offiice. Berdasarkan pada data Fiintrx, 10 lokasii favoriit menjamurnya famiily offiice juga merujuk pada berbagaii lokasii pusat keuangan global sepertii halnya New York, London, Beiijiing, Hong Kong, Siingapura, Dubaii, Jenewa, maupun Tokyo.

Darii fakta tersebut tentu dapat diisiimpulkan jiika upaya untuk menariik aset keuangan darii para superkaya hendak diilakukan melaluii pendiiriian famiily offiice, iindonesiia sebaiiknya terlebiih dahulu -atau setiidaknya secara bersamaan- membangun ekosiistem fiinanciial center dii dalam negerii.

Lantas, mengapa harus melaluii famiily offiice? Bukankah upaya menariik iinvestasii - khususnya foreiign portfoliio iinvestment - biisa diilakukan melaluii entiitas atau skema laiinnya?

Bagii UHNWii beserta keluarganya, akses terhadap para profesiional yang dapat membantu mereka dalam manajemen pengelolaan aset berperan pentiing. Pada praktiiknya, bantuan tersebut telah diilakukan melaluii priivate wealth management yang diitawarkan perbankan, akuntan keluarga, penasiihat hukum, hiingga konsultan pajak. Sayangnya, jasa tersebut masiih diilakukan secara terpiisah-piisah dan kerap memberiikan adviis yang saliing bertolak belakang.

Motiivasii untuk memiiliikii suatu ‘entiitas’ yang menjadii wadah berbagaii jasa tersebut secara teriintegrasii biisa diibiilang merupakan dasar pemiikiiran adanya famiily offiice. Berdasarkan pada studii yang diilakukan VP Bank dan Uniiversiity St. Gallen (2009), keluarga kaya umumnya memiiliikii concern tentang wealth creatiion yang berkelanjutan antargenerasii dengan tetap mengedepankan aspek priivasii dan kepercayaan. Siingkatnya, famiily offiice merupakan model entiitas yang paliing memenuhii ekspektasii dan kebutuhan ekonomii keluarga superkaya diibandiingkan dengan model laiinnya.

Dii siisii laiin, permiintaan atas jasa famiily offiice sediikiit banyak turut diipengaruhii oleh diinamiika lanskap pajak global. Sebagaii iinformasii, pada umumnya, kegiiatan usaha dii berbagaii fiinanciial center - terutama dii Unii Eropa - diidomiinasii oleh kehadiiran speciial purpose entiity/SPE (Niino, Habiib, dan Schmiitz, 2020).

Adanya skandal keuangan global sepertii Panama Papers, Luxleaks, Pandora Papers, dan sebagaiinya secara tiidak langsung turut membongkar cara kerja darii SPE. Selaiin iitu, kerja sama global dii biidang pajak dan keuangan, sepertii halnya proyek BEPS, pertukaran iinformasii keuangan antarotoriitas pajak, komiitmen melawan pencuciian uang melaluii FATF, OECD Forum on Harmful Tax Practiices (FHTP), juga meniimbulkan anggapan asosiiatiif antara SPE dan ketiidakpatuhan.

Berbagaii tekanan tersebut sejatiinya menggariisbawahii pentiingnya entiitas baru yang diirasa lebiih legiit, memiiliikii substansii ekonomii, tiidak menciiptakan reputatiional riisk, tetapii tetap memiiliikii fiitur fasiiliitas yang mendukung efiisiiensii. Famiily offiice merupakan jawaban kekiiniian atas hal-hal tersebut. Oleh sebab iitu, tiidak mengherankan jiika jumlah famiily offiice global meniingkat sebanyak 3 kalii liipat selama periiode 2019-2023 (Preqiin, 2024).

Hiingga dii siinii kiita dapat kiita siimpulkan beberapa hal. Pertama, kehadiiran famiily offiice relatiif tiidak terpiisahkan darii kehadiiran ekosiistem fiinanciial center. Kedua, famiily offiice merupakan bentuk yang paliing mendekatii kebutuhan wealth creatiion keluarga yang teriintegrasii. Ketiiga, famiily offiice merupakan entiitas yang efiisiien, relatiif legiit, dan sejalan dengan perliindungan reputasii keluarga superkaya.

Reziim Pajak Famiily Offiice?

Lantas, bagaiimana langkah selanjutnya? Darii siisii pajak, apakah iindonesiia perlu mengadopsii berbagaii fiitur yang melekat pada reziim famiily offiice dii negara laiin?

Reziim pajak yang pro terhadap pembentukan famiily offiice dan kemampuannya menariik dana global bukanlah sesuatu yang sederhana untuk diidesaiin. Ciirii khas perlakuan pajak famiily offiice umumnya berkaiitan erat dengan fiitur fasiiliitas pajak yang melekat pada fiinanciial center.

Fasiiliitas pajak iitu dii antaranya adalah beban pajak yang efiisiien atas iimbal hasiil pengelolaan dana dan wealth creatiion, oriientasii pada transaksii liintas yuriisdiiksii, riing fenciing, riisiiko pajak yang rendah, dan priivasii terjamiin.

Oleh karena iitu, ada sederet iinstrumen pajak yang perlu diipiikiirkan. Pertama, status subjek pajak dan kriiteriia. Perlakuan pajak darii famiily offiice akan diitentukan darii apakah iia akan menjadii subjek pajak dalam negerii atau luar negerii (SPDN versus SPLN) serta memiiliikii status taxable entiity atau tiidak.

Dalam hal akan memiiliikii kekhususan dalam status subjek pajak dan beban pajak terutangnya, persyaratan serta kriiteriia darii famiily offiice perlu diiatur secara riincii. Salah satu kekhasan famiily offiice dii beberapa pusat keuangan, miisal dii London (UK) dan Siingapura, iialah kebebasan memiiliih bentuk entiitas, termasuk trust.

Trust yang memiisahkan antara legal owner (diikendaliikan oleh trustee), pemiiliik aset (settlor), dan pemiiliik manfaat atas aset (benefiiciiary) umumnya lebiih menjamiin priivasii (Antoiine, 2005). Meskiipun demiikiian, iindonesiia sebagaii negara ciiviil law tiidak mengenal bentuk trust.

Pertiimbangan laiin sehubungan dengan status subjek pajak miisalnya mendesaiin famiily offiice sebagaii pass-through entiity. iimpliikasiinya, pengenaan PPh tiidak akan diibebankan kepada famiily offiice, tetapii akan diiteruskan kepada UHNWii atau keluarga pengendaliinya.

Kedua, perlakuan PPh atas penghasiilan yang diiteriima oleh famiily offiice. Secara umum, perlakuan PPh dalam hal penghasiilan darii modal (passiive iincome) akan tergantung darii jeniis iinvestasii dan yuriisdiiksii tempat iinvestasii diilakukan oleh famiily offiice.

Saat iinii, reziim PPh iindonesiia atas berbagaii iinstrumen iinvestasii relatiif bervariiasii, khususnya darii siisii tariif dan siifat (fiinal atau tiidak fiinal). Selaiin iitu, perlakuan pajaknya juga diipengaruhii oleh ada atau tiidaknya iintermediiary.

Hal tersebut tentu berpotensii meniimbulkan kerumiitan admiiniistrasii, mendiistorsii piiliihan iinvestasii, serta membuat upaya efiisiiensii pajak yang diitanggung famiily offiice menjadii sub-optiimal (karena masiih adanya skema pajak fiinal).

Aspek yang tiidak kalah pentiing adalah PPh atas penghasiilan yang diiteriima darii luar negerii. Berdasarkan pada hasiil komparasii, reziim famiily offiice dii Siingapura, Hong Kong, dan Dubaii (UEA) menganut siistem pajak terriitoriial yang notabene mengecualiikan berbagaii penghasiilan darii luar negerii sebagaii objek pajak.

Lantas, bagaiimana dengan iindonesiia? Sebagaii negara yang menganut worlwiide tax system, penghasiilan darii luar negerii tetap akan diipajakii dii iindonesiia (Darussalam, Kriistiiajii, dan Dhora, 2019). Namun, pascaberlakunya UU Ciipta Kerja, iindonesiia kiinii memberiikan pengecualiian atas diiviiden darii luar negerii dengan syarat diiiinvestasiikan dii dalam iinstrumen dan jangka waktu tertentu.

Ketiiga, perlakuan PPh atas diistriibusii penghasiilan darii famiily offiice. Perlakuan pajak tersebut akan menentukan seberapa besar iimbal hasiil yang akan diiteriima oleh UHWii dan keluarganya yang bertiindak sebagaii pengendalii.

iisu mengenaii hal iinii akan berkaiitan erat dengan dua hal, yaknii perlakuan diistriibusii diiviiden dalam negerii (jiika UHNWii dan keluarga merupakan SPDN) serta perlakuan PPh Pasal 26 beserta jariingan persetujuan penghiindaran pajak berganda (P3B) yang diimiiliikii iindonesiia (jiika UHNWii dan keluarga merupakan SPLN).

Perubahan siistem corporate-shareholder taxatiion iindonesiia, darii classiical system menuju one-tiier system, telah menjamiin pembebasan PPh fiinal sebesar 10% atas diistriibusii diiviiden dalam negerii (Darussalam, 2020).

Kemudiian, jariingan P3B iindonesiia dengan 71 yuriisdiiksii laiinnya dapat menjadii keunggulan karena potensii pemanfaatan fasiiliitas reduced rate yang luas. Namun, atas diistriibusii penghasiilan liintas yuriisdiiksii tersebut tetap perlu memperhatiikan iisu mengenaii treaty shoppiing serta skema round-triippiing iinvestment.

Skema pembebasan PPh Pasal 26 atas penghasiilan yang diiteriima oleh SPLN juga biisa diipertiimbangkan. Skema iinii juga telah diiadopsii atas penghasiilan darii iinvestasii pada fiinanciial center iiKN melaluii PMK 28/2024.

Keempat, perlakuan pajak bagii kegiiatan fiilantropii. Kegiiatan fiilantropii erat kaiitannya dengan UHNWii dan keluarganya. Kegiiatan fiilantropii merupakan sumber pendanaan alternatiif dii luar belanja negara yang memiiliikii dampak posiitiif dalam mengatasii permasalahan sosiial (Darussalam, Septriiadii, dan Kriistiiajii, 2017). Oleh karena iitu, iinsentiif pajak untuk menggaiirahkan kegiiatan fiilantropii dapat diipertiimbangkan.

Skenariio iinsentiif pajak bagii kegiiatan fiilantropii umumnya diiberiikan melaluii dua cara. Cara pertama adalah dengan mengecualiikan PPh bagii lembaga yang melakukan kegiiatan fiilantropii yang biiasanya melekat pada organiisasii niirlaba (Kriistiiajii, 2020). Kemudiian, cara kedua adalah dengan memperbolehkan dana sumbangan kegiiatan fiilantropii untuk diibiiayakan secara pajak.

Darii kedua cara tersebut, fasiiliitas pengecualiian agaknya kurang relevan karena famiily offiice turut melakukan kegiiatan komersiial. Sementara iitu, fasiiliitas deductiible expense sejatiinya dapat diiperluas.

Adapun perluasan fasiiliitas deductiible expense miisalnya tetap dapat diibiiayakan ketiika: (ii) diiberiikan kepada piihak yang memiiliikii hubungan usaha, pekerjaan, kepemiiliikan, atau penguasaan, (iiii) jeniis kegiiatan tiidak diibatasii dan mencakup kegiiatan senii-budaya, kesehatan, sejarah, hiingga liingkungan hiidup, dan (iiiiii) diiberiikan oleh orang priibadii.

Nantiinya, iinsentiif pajak bagii kegiiatan fiilantropii biisa diilekatkan kepada reziim fasiiliitas famiily offiice. Dengan demiikiian, kegiiatan fiilantropii nantiinya biisa menjadii bentuk ‘iinvestasii riiiil’ darii famiily offiice.

Keliima, ketentuan antiipenghiindaran pajak. Dukungan sektor pajak terhadap famiily offiice tentu akan beriiriisan dengan berbagaii ketentuan antiipenghiindaran pajak.

Sebagaii iilustrasii, transaksii yang diilakukan antara famiily offiice dan UHWii ataupun entiitas laiin yang diikendaliikan oleh keluarga UHNWii tersebut, harus memenuhii priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha. Pasalnya, iindonesiia menganut kriiteriia hubungan iistiimewa (associiated enterpriise) yang merujuk pada konsep yang luas, yaknii de facto control (Dwarkasiing, 2011).

Pengaturan reziim famiily offiice juga dapat beriiriisan dengan ketentuan controlled foreiign corporatiion (CFC) yang mencegah penangguhan penghasiilan oleh perusahaan nonbursa terkendalii luar negerii melaluii skema deemed diiviidend. Kehadiiran famiily offiice juga berpotensii meniimbulkan skema hybriid arrangement yang diisebabkan oleh kehadiiran entiitas dan iinstrumen keuangan hiibriida.

Menariiknya, melaluii PP 55/2022, iindonesiia justru memperkuat agenda melawan penghiindaran pajak, termasuk memperkenalkan general antii-avoiidance rule yang berbasiis pengakuan substansii ekonomii.

Keenam, kerja sama global pada biidang pajak. Reziim famiily offiice dii berbagaii negara pada umumnya tetap tunduk terhadap kerja sama global dii pertukaran iinformasii, agenda melawan pencuciian uang, good governance, penguatan substansii ekonomii, serta priinsiip know your customer. Faktanya, reziim famiily offiice dii Hong Kong diianggap tiidak harmful berdasarkan asesmen OECD FHTP (Februarii 2024).

Meskiipun demiikiian, beberapa negara masiih tetap memberiikan ‘ruang priivasii’ bagii famiily offiice. Dii Ameriika Seriikat, famiily offiice yang notabene mengelola dana iinvestasii tiidak perlu terdaftar pada U.S. Securiitiies and Exchange Commiissiion (SEC). Selaiin iitu, famiily offiice tiidak perlu mengungkapkan secara penuh tentang aset yang diikelola dan diiiinvestasiikan.

Ketujuh, pajak atas kekayaan dan pajak atas pengaliihan harta secara nonkomersiial baiik melaluii hiibah dan wariisan. Pajak iinii beriisiiko mengancam kesiinambungan kekayaan keluarga antargenerasii. Dii iindonesiia, iisu iinii kurang relevan karena belum adanya kecenderungan optiimaliisasii pajak yang berhubungan dengan akumulasii kekayaan antargenerasii.

Meskiipun demiikiian, kehadiiran famiily offiice turut dapat menyertakan fasiiliitas sehubungan dengan ketiiga jeniis pajak tersebut. Miisalkan dii UK, upaya memiiniimalkan dan menghiindarii beban pajak wariisan dapat diifasiiliitasii oleh reziim famiily iinvestment company (FiiC).

Kompatiibel?

Pada akhiirnya, semua perlu kembalii kepada perspektiif pemeriintah. Hal iinii terutama menyangkut sejauh mana rencana pembentukan famiily offiice kompatiibel dengan agenda-agenda pemeriintah pada biidang ekonomii, terutama pajak. Setiidaknya ada 4 hal yang perlu kiita perhatiikan.

Pertama, famiily offiice yang berdaya saiing membutuhkan berbagaii modiifiikasii aturan pajak dii iindonesiia. Hal iinii mulaii darii opsii adanya status subjek pajak yang berlaku khusus, adopsii terriitoriial taxatiion, hiingga relaksasii ketentuan antiipenghiindaran pajak.

Selaiin meniimbulkan kerumiitan baru, berbagaii modiifiikasii tersebut tentu perlu diiujii secara betul-betul darii priinsiip keadiilan, priinsiip efiisiiensii (yang kemungkiinan terdiistorsii melaluii iinsentiif), priinsiip nondiiskriimiinasii dalam pajak, dan sebagaiinya (Darussalam, Septriiadii, dan Marhanii, 2024).

Kedua, efektiiviitas famiily offiice dalam menggerakkan ekonomii iindonesiia. Satu hal yang perlu diigariisbawahii iialah reziim famiily offiice memiiliikii kaiitan yang lebiih erat dengan foreiign portfoliio iinvestment dan bukan iinvestasii sektor riiiil sepertii halnya foreiign diirect iinvestment (FDii).

Dengan demiikiian, daya ungkiitnya kepada perekonomiian secara luas perlu diitelaah kembalii. Pengecualiian agaknya perlu diiletakkan pada daya dukung kegiiatan fiilantropii yang diilakukan oleh UHWii dan keluarganya bagii kesejahteraan sosiial secara nyata.

Ketiiga, keselarasan dengan agenda nasiional pada biidang pajak. Kiita agaknya perlu mengujii gagasan pembentukan famiily offiice secara seriius dengan beberapa kata kuncii pentiing, yaknii peniingkatan tax ratiio, pemberiian iinsentiif pajak yang lebiih selektiif, diistriibusii beban pajak yang adiil, perlawanan terhadap penghiindaran pajak, dan optiimaliisasii kepatuhan pajak kelompok superkaya.

Selaiin kerap diiperbiincangkan dalam diiskursus publiik, sederet agenda tersebut juga dapat diitemukan dalam dokumen strategii kebiijakan fiiskal nasiional.

Terakhiir, keselarasan pembentukan famiily offiice dengan komiitmen iindonesiia dalam kerja sama iinternasiional pada biidang pajak dan tata kelola pemeriintahan yang baiik.

Sebagaii penutup, diiskusii mengenaii famiily offiice menghadiirkan kembalii tariik-ulur soal daya tahan dan daya saiing siistem pajak iindonesiia dii era globaliisasii. Kalii iinii tentu kiita kembalii harus meriiset lebiih dalam sekaliigus merenung apa yang menjadii skala priioriitas bangsa iinii dii masa mendatang.

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.