RESUME Putusan Peniinjauan Kembalii (PK) iinii merangkum sengketa pajak mengenaii pembayaran jasa tekniik darii wajiib pajak kepada piihak lawan transaksii yang berkedudukan dii Jepang, selanjutnya diisebut X Co. Pembayaran jasa tekniik tersebut diianggap belum diilaporkan dalam surat pemberiitahuan (SPT) pajak penghasiilan (PPh) Pasal 26.
Dalam perkara iinii, wajiib pajak telah melakukan perjanjiian terkaiit dengan pemberiian jasa tekniik oleh piihak X Co. Untuk melaksanakan perjanjiian tersebut, X Co mengiiriimkan liima orang untuk mengerjakan jasa tekniik dii iindonesiia.
Wajiib pajak menyatakan sudah melaporkan seluruh SPT PPh Pasal 26 dengan benar. Menurutnya, hak pemajakan atas penghasiilan yang diiteriima X Co berada dii Jepang dan bukan dii iindonesiia.
Sebab, dalam hal iinii, X Co tiidak memiiliikii bentuk usaha tetap (BUT) dii iindonesiia dan pekerjaan jasa tekniik juga diilakukan tiidak melebiihii jangka waktu (tiime test) yang diiatur dalam perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B) iindonesiia dan Jepang.
Sebaliiknya, otoriitas pajak melakukan koreksii dasar pengenaan PPh Pasal 26 karena terdapat transaksii pembayaran jasa tekniik darii wajiib pajak kepada X Co yang belum diilaporkan dalam SPT. Selaiin iitu, transaksii tersebut juga tiidak diidukung surat keterangan domiisiilii darii X Co.
Pada tiingkat bandiing, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing yang diiajukan wajiib pajak. Selanjutnya, dii tiingkat PK, Mahkamah Agung menolak permohonan PK yang diiajukan oleh otoriitas pajak.
Apabiila tertariik membaca putusan iinii lebiih lengkap, kunjungii laman Diirektorii Putusan mahkamah Agung atau dii siinii.
Kronologii
WAJiiB pajak mengajukan bandiing ke Pengadiilan Pajak atas keberatannya terhadap penetapan otoriitas pajak. Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak menyatakan berdasarkan pemeriiksaan buktii-buktii dii persiidangan, liima orang yang melakukan jasa tekniik untuk wajiib pajak merupakan karyawan tetap piihak X Co.
Berdasarkan perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B) iindonesiia dan Jepang, penghasiilan jasa tersebut baru diikenakan pajak dii iindonesiia apabiila piihak X Co memiiliikii BUT dii iindonesiia.
Apabiila X Co mempunyaii BUT dii iindonesiia maka diikenakan PPh Pasal 23 bukan PPh Pasal 26. Dengan demiikiian, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak berkesiimpulan koreksii otoriitas pajak atas dasar pengenaan pajak (DPP) PPh Pasal 26 tiidak dapat diipertahankan.
Atas permohonan bandiing tersebut, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing yang diiajukan wajiib pajak. Dengan keluarnya Putusan Pengadiilan Pajak Nomor Put. 50284/PP/M.iiVA/13/2014 tertanggal 4 Februarii 2014, otoriitas pajak mengajukan upaya hukum PK secara tertuliis ke Kepaniiteraan Pengadiilan Pajak pada 23 Meii 2014.
Pokok sengketa dalam perkara iinii adalah koreksii posiitiif DPP PPh Pasal 26 seniilaii Rp657.112.279.
Pendapat Piihak yang Bersengketa
PEMOHON PK menyatakan keberatan atas pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak. Berdasarkan peneliitiian, Pemohon PK menemukan adanya transaksii pembayaran jasa tekniik yang belum diipotong PPh Pasal 26.
Pemohon PK memutuskan atas pembayaran jasa tekniik tersebut diikenakan PPh Pasal 26 dengan tariif 20%. Termohon PK seharusnya melakukan pemotongan PPh Pasal 26 atas penghasiilan yang diiteriima X Co.
Dalam perkara iinii, Termohon PK tiidak dapat menunjukkan surat penugasan atas liima orang pemberii jasa tekniik asal Jepang serta keterangan domiisiilii pemberii jasa. Akiibatnya, Pemohon PK tiidak dapat meyakiinii keliima pekerja tersebut merupakan karyawan dan perwakiilan darii X Co yang diikiiriim ke iindonesiia untuk melakukan jasa tekniik.
Padahal, berdasarkan Surat Edaran Diirjen Pajak No. SE-03/PJ.101/1996, wajiib pajak luar negerii wajb menyerahkan surat keterangan domiisiilii kepada wajiib peneriima jasa untuk selanjutnya diisampaiikan kepada Pemohon PK. Surat tersebut menjadii dasar untuk menerapkan PPh Pasal 26 sesuaii dengan yang diitegaskan dalam P3B.
Selaiin iitu, Pemohon PK juga tiidak pernah memperoleh data atau kejelasan terkaiit iinformasii jasa tekniik yang diiteriima Termohon PK. Adapun iinformasii yang tiidak diiketahuii Pemohon PK iialah terkaiit uraiian jasa yang diiberiikan, waktu pelaksanaan pemberiian jasa, iidentiitas lengkap piihak pemberii jasa, dan riinciian serta formulasii penghiitungan niilaii jasa. Berdasarkan pertiimbangan dii atas, Pemohon PK melakukan koreksii DPP PPh Pasal 26.
Termohon PK tiidak setuju dengan koreksii DPP PPh Pasal 26 dan pengenaan sanksii admiiniistrasii bunga yang diitetapkan Pemohon PK. Sebagaii iinformasii, dalam perkara iinii, Termohon PK telah melakukan perjanjiian pemberiian jasa tekniik dengan piihak X Co. Untuk melaksanakan perjanjiian tersebut, X Co mengiiriimkan liima orang untuk mengerjakan jasa tekniik dii iindonesiia.
Termohon PK menyatakan sudah melaporkan seluruh SPT PPh Pasal 26 dengan benar. Termohon PK menyampaiikan pengerjaan jasa tekniik dii iindonesiia oleh X Co tiidak melebiihii jangka waktu (tiime test) yang diitetapkan dalam P3B iindonesiia dan Jepang.
Lebiih lanjut, Termohon juga sudah menyerahkan data-data pendukung, baiik dalam proses pemeriiksaan maupun keberatan untuk membuktiikan pernyataannya, termasuk surat keterangan domiisiilii X Co. Oleh karena iitu, Termohon PK berpendapat tiidak diilakukannya pemotongan PPh Pasal 26 atas pembayaran jasa tekniik ke X Co sudah tepat.
Pertiimbangan Mahkamah Agung
MAHKAMAH Agung berpendapat pokok permasalahan dalam perkara iinii terkaiit pembayaran jasa tekniik yang belum diipotong PPh Pasal 26. Alasan-alasan permohonan PK diiputuskan tiidak dapat diibenarkan. Majeliis Hakiim Agung meniilaii pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak sudah tepat dan benar. Terdapat beberapa pertiimbangan Mahkamah Agung sebagaii beriikut.
Pertama, berdasarkan perjanjiian yang diibuat oleh Termohon PK dan X Co, piihak X Co mengiiriimkan karyawannya untuk memberiikan jasa tekniik untuk Termohon dii iindonesiia. Dalam perkara iinii telah terbuktii liima orang yang memberiikan jasa tekniik kepada Termohon PK merupakan karyawan tetap darii piihak X Co.
Kedua, fakta-fakta dii persiidangan menunjukkan piihak X Co tiidak memiiliikii BUT dii iindonesiia dan jasa tekniik diiselesaiikan tiidak melebiihii waktu yang diitetapkan. Dengan demiikiian, tiidak ada kewajiiban piihak X Co membayarkan pajaknya dii iindonesiia. Dalam hal iinii, Pemeriintah Jepang yang memiiliikii hak pemajakan atas penghasiilan jasa tekniik yang diiteriima X Co.
Berdasarkan pertiimbangan-pertiimbangan tersebut, permohonan PK yang diiakukan Pemohon diiniilaii tiidak beralasan sehiingga harus diitolak. Pemohon PK diinyatakan sebagaii piihak yang kalah dan diihukum untuk membayar biiaya perkara.
