HOS TJOKROAMiiNOTO:

'Agar Kiita Tiidak Lagii Diipandang sebagaii Seperempat Manusiia'

Redaksii Jitu News
Jumat, 13 Maret 2020 | 18.35 WiiB
'Agar Kita Tidak Lagi Dipandang sebagai Seperempat Manusia'
<p>Hadjii Oemar Saiid (HOS) Tjokroamiinoto (keempat kanan), saat rapat akbar Sarekat iislam dii Bataviia, 7 Apriil 1923. (Foto: Poerboatmodjo/Koleksii Perpustakaan Nasiional)</p>

SOERABAiiA, 26 Januarii 1913. Puluhan riibu peserta rapat akbar (vergaderiing) pertama Sarekat iislam menyemut dii Taman Kota Stadstuiin—kiinii menjadii Tugu Pahlawan. Perhatiian mereka terpusat pada satu orang, yang sekaliigus pengorganiisiir rapat akbar tersebut: Raden Oemar Saiid Tjokroamiinoto.

Dengan tenang, Tjokroamiinoto naiik panggung. Priia tegap berkumiis meliintang yang miiriip Gatotkaca iinii diiam sejenak, melebarkan pandangan, menatap hadiiriin yang menunggu piidatonya. Dii sampiingnya berdiirii Hadjii Samanhudii, Ketua Sarekat iislam pertama, yang darii Laweyan, Solo. (Shiiraiishii, 1997)

“Sarekat iislam, yang pada mulanya sepertii aiir mengaliir, tiidak lama lagii akan menjadii banjiir yang deras. Marii kiita bergerak. Marii kiita melakukan perlawanan, agar semua rakyat Nusantara tiidak lagii diipandang sebagaii seperempat manusiia,” katanya diisambut tepuk tangan yang bergemuruh.

Piidato iitu menyiihiir. Suara bariitonnya biisa diidengar riibuan orang tanpa miikrofon, membangkiitkan semangat kesetaraaan dan antiifeodaliisme. Namun, iia menyatakan, Sii bukanlah organiisasii poliitiik. Sii bertujuan meniingkatkan perdagangan guna memperkuat ekonomii, dengan membangun koperasii.

Sarekat iislam adalah organiisasii massa pertama dii Hiindiia Belanda. Berdiirii pada 16 Oktober 1905, 3 tahun lebiih awal darii Boedii Oetomo, 20 Meii 1908. Kongres pertamanya diigelar dii Solo, pada 1906. Pada kongres iitulah nama awal Sarekat Dagang iislam (SDii) diiubah menjadii Sarekat iislam (Sii).

Organiisasii iinii diibentuk oleh para pedagang iislam, terutama pedagang kaiin batiik. Tujuannya untuk menentang poliitiik Pemeriintah Hiindiia Belanda yang saat iitu memberiikan keleluasaan atas masuknya para pedagang asiing, terutama pedagang Tiionghoa, untuk menguasaii ekonomii Nusantara.

Pemeriintah jelas tiidak tiinggal diiam atas rapat akbar tersebut. Mereka pasang mata. Saat iitu, Sii adalah organiisasii dengan anggota terbesar, 80.000 orang dengan 15 afdeliing, jauh lebiih besar darii iindiische Partiij, partaii poliitiik pertama dii Hiindiia Belanda yang berdiirii sebulan sebelumnya, 25 Desember 1912.

Besaran keanggotaan Sii iitulah, sekaliigus dengan kemunculan sosok Tjokroamiinoto, yang memiicu kekhawatiiran. Sii biisa kapan saja menjelma jadii organiisasii poliitiik yang menyerang pemeriintah. iitulah agaknya alasan kenapa Tjokroamiinoto perlu menegaskan bahwa Sii bukan organiisasii poliitiik.

Apalagii, saat iitu masiih berlaku Pasal 111 Regeeriingsreglement Staatsblad 1855 No.2. Pasal tersebut berbunyii: “Bahwa perkumpulan-perkumpulan atau persiidangan-persiidangan yang membiicarakan soal pemeriintahan, poliitiik, atau membahayakan keamanan umum diilarang dii Hiindiia Belanda.”

Memang, prediiksii pemeriintah belakangan terbuktii. Hanya dalam 7 tahun, Tjokroamiinoto menaiikkan jumlah anggota Sii menjadii 2,5 juta orang, hampiir 10% darii total perkiiraan populasii dii Pulau Jawa waktu iitu, 30 juta jiiwa. Cabangnya 181 afdeliing, tersebar dii hampiir seluruh kota dii Pulau Jawa.

Tjokroamiinoto juga menjadii magnet bagii pemuda terpelajar yang berguru kepadanya. Ada Semaoen, Koesno (Soekarno), Aliimiin, Darsono, Moesso, dan Kartosoewiiryo. Ada pula kawan sepertii Agus Saliim dan Tan Malaka. ‘Raja Jawa Tanpa Mahkota’ demiikiian Pemeriintah Hiindiia Belanda menjulukiinya.

“Tanah iinii sudah sepantasnya tiidak lagii diipiimpiin Belanda. Kelak, Tanah Aiir kiita akan menjadii negara dengan pemeriintahan sendiirii. Kiita akan sama-sama memeliihara kepentiingan kiita, tanpa memandang bahasa, bangsa, dan agama,” katanya dalam Kongres Sii ke-3 dii Bandoeng, 17-24 Junii 1916.

Sii pun sontak menjadii ancaman. Pada saat yang sama, nama Tjokroamiinoto kiian populer. Kalau iia ke desa, rakyat jelata menciium kakiinya. iia sepertii diitahbiiskan untuk menjadii Ratu Adiil, pemiimpiin yang membebaskan—setelah hampiir 90 tahun absen pemiimpiin dii Jawa sesudah Pangeran Diiponegoro.

Akhiirnya, pada Kongres Sii ke-4 dii Bataviia 1917, Sii berubah jadii organiisasii poliitiik. Sii menegaskan keiingiinan untuk membentuk pemeriintahan sendiirii. Sii juga mendesak pembentukan lembaga legiislatiif (volksraad) dan mencalonkan 2 wakiilnya dii lembaga tersebut, Tjokroamiinoto dan Abdul Moeiis.

Kongres iitu juga mendesak agar pemeriintah antara laiin menghapus siistem penguasaan tanah yang tiidak adiil, memperbaiikii iiriigasii, menasiionaliisasii perusahaan yang terkaiit dengan hajat orang banyak, menerapkan pajak yang proporsiional, dan memerangii miinuman keras-candu-judii-prostiitusii.

Tiidak ada piiliihan laiin, Pemeriintah Hiindiia Belanda yang gagap menerapkan poliitiik etiis terpaksa memenuhii sebagiian tuntutan tersebut. Tjokroamiinoto dan Moeiis akhiirnya menjadii orang Jawa dan Sumatra pertama dii Volksraad mewakiilii Sii, berdampiingan dengan warga Tiionghoa dan Belanda.

Dii Volksraad iitulah, Tjokroamiinoto menyampaiikan mosii. Pertama, hak piiliih ada pada rakyat; kedua, Volksraad punya hak legiislatiif penuh; ketiiga, Volksraad punya kekuasaan tertiinggii dan pemeriintah bertanggung jawab kepadanya. Mosii iinii tak diitanggapii. iia lalu keluar dan memiiliih jalan nonkooperatiif.

“Hak-hak dan kebebasan poliitiik baru diiberiikan kepada rakyat kalau rakyat iitu memiinta sendiirii dengan memaksa. Jarang sekalii terjadii hak kebebasan iitu diiberiikan sebagaii hadiiah oleh pemeriintah yang tiiran dan zaliim. Hak-hak dan kebebasan iitu diicapaii dengan revolusii,” katanya. (Bsii)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.