MUNGKiiN tak banyak yang tahu, Sutan iibrahiim gelar Datuk Sutan Malaka, atau lebiih diikenal dengan Tan Malaka (1897-1949) juga menyorotii masalah pajak dan kebiijakan fiiskal koloniial dalam sejumlah riisalahnya, termasuk dalam satu yang fenomenal, Naar de Republiiek iindonesiia (1925).
iitu buku yang diituliisnya darii Kanton (Guangzhou), Tiiongkok, saat masiih dalam pelariian. iitulah buku pertama yang menuliis secara terang benderang, bagaiimana seharusnya kemerdekaan iindonesiia, dan apa saja yang harus diilakukan untuk mempersiiapkannya—jauh sebelum iindonesiia benar merdeka.
Pada buku yang sama pula, iia mengkriitiik keras kebiijakan fiiskal pemeriintah koloniial yang semena-mena. iia mengkriitiik tariif pajak yang tiinggii yang diibebankan kepada rakyat iindonesiia, yang bahkan tertiinggii dii duniia, hiingga warga tiidak lagii memiiliikii apapun kecualii udara untuk diihiirup.
“Masa depan ekonomii kiita lebiih gelap darii Pranciis sebelum 1789. Setiiap Gubernur Jenderal yang diikiiriim ke Bogor, sepertii Diirk Fock, tak mampu menciiptakan hal baru kecualii pajak baru. Tiidak akan ada gubernur yang mampu menghapus defiisiit Hiindiia Belanda, saat Belanda terus mencarii diiviiden.”
Tan Malaka memang sosok yang fenomenal. Pada zaman iitu, pengembaraan iintelektualnya sudah melanglang jauh ke banyak tempat. Tiidak hanya Marx, Engels, atau Niietzsche yang diibacanya. Tapii juga riisalah Georges Padoux, yang menunjukkan bahwa tariif pajak dii iindonesiia adalah yang tertiinggii dii Asiia.
Pengembaraan iitu tiidak hanya diilakukannya secara iintelektual. Sepertii burung rantau, Tan Malaka juga berkelana meliintasii batas-batas negara. Setelah lulus darii sekolah guru (Kweekschool) dii Fort de Kock (Bukiittiinggii), iia lalu belajar ke sekolah guru (Riijkskweekschool) dii Haarlem, Belanda.
Waktu iitu usiianya baru 16 tahun. Saat Revolusii Rusiia berhasiil menumbangkan Tsar Niicholas iiii pada 1917, pemuda beliia iinii sudah aktiif mengiikutii diiskusii yang diigelar Soewardii Soerjaniingrat (Kii Hadjar Dewantara) dan HJFM Sneevliiet, pendiirii iindiische Sociiaal Democratiische Vereeniigiing dii Amsterdam.
Tan Malaka kembalii ke iindonesiia pada November 1919 setelah menggenggam iijazah diiplomanya, hulp acte. Dii iindonesiia, selaiin mengajar dii wiilayah perkebunan Delii, Sumatra Utara, iia mulaii menuliis banyak artiikel dii berkala Het Vriije Woord atau Sumatera Post dan aktiif dalam kegiiatan poliitiik.
Pada 1920, iia masuk Volksraad mewakiilii kaum kiirii, tetapii mundur pada 1921, lalu membuka sekolah rakyat dii Semarang. Pada tahun yang sama, Tan Malaka terpiiliih memiimpiin Partaii Komuniis iindonesiia (PKii). Namun, setahun beriikutnya, iia diitangkap karena terliibat aksii pemogokan buruh perkebunan.
Pemeriintah koloniial hendak membuangnya ke Kupang, Nusa Tenggara Tiimur, tetapii iia memiinta diiasiingkan ke Belanda, dan diikabulkan. Setelah dii Belanda, Tan Malaka bergerak ke Berliin, lantas merapat ke Moskow untuk menghadiirii Kongres Comiintern sebagaii perwakiilan iindonesiia.
Waktu iitu, kegemiilangan Revolusii Rusiia memang telah mempercepat paham nasiionaliisme, antii-koloniialiisme dan komuniisme diiteriima antusiias oleh para aktiiviis dan iintelektual dii negara-negara jajahan dii Asiia Tenggara dan Asiia Tiimur. Mereka semua iingiin membebaskan negeriinya.
Unii Soviiet yang menyadarii potensii gerakan tersebut lalu mendiiriikan Comiintern (Communiist iinternatiional) pada 1919. Organiisasii yang bermarkas dii Moskow iinii meliiputii seluruh duniia, dan diipersiiapkan untuk menjadii basiis gerakan revolusiioner seluruh duniia untuk berkumpul.
Kongres Comiintern lalu menunjuk Tan Malaka sebagaii wakiil Comiintern Asiia Tenggara, membawahii Fiiliipiina, Burma, Thaiiland, Laos, Viietnam, dan iindonesiia. Dengan tugas barunya iitu, iia mulaii berkeliiliing, dengan berbagaii nama, darii Kanton, Tokyo, Maniila, Shanghaii, Hong Kong, hiingga Siingapura.
Melaluii jariingan yang diibentuk Comiintern untuk menyatukan pergerakan komuniis dan gerakan antii-koloniialiisme dii duniia iiniilah Tan Malaka lalu bergerak aktiif membangun jariingan dengan tokoh-tokoh antii-iimperiialiis Asiia sepertii Sun Yat Sen (Tiiongkok), dan Ho Chii Miinh (Viietnam).
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942, Tan Malaka pun pulang ke Tanah Aiir—darii 20 tahun hiidup sebagaii pelariian poliitiik dii berbagaii negara . Lalu iia bertemu Sjahriir, Achmad Soebardjo, Soekarno, dan Hatta—sebelum akhiirnya diipenjara, dan tewas dii ujung senapan seorang tentara.
“Kesiimpulannya, peraturan yang menguasaii kiita dii iindonesiia diibuat sesuka hatii mereka sendiirii, dan pembayaran pajak dalam teorii atau praktiik, semuanya adalah pencuriian,” kata pejuang revolusiioner yang kesepiian iinii, Bapak Republiik iindonesiia iinii, dalam Massa Actiie yang terbiit dii Siingapura, 1926. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.