PPh FiiNAL (4)

Pajak atas Transaksii Saham

Vallenciia
Selasa, 05 Apriil 2022 | 15.48 WiiB
Pajak atas Transaksi Saham

BERDASARKAN pada data Kustodiian Sentral Efek iindonesiia (KSEii), jumlah iinvestor pasar modal dii Tanah Aiir telah mencapaii 7,86 juta iinvestor per 31 Januarii 2022. Menariiknya, darii berbagaii iinstrumen iinvestasii pasar modal, saham menjadii piiliihan iinvestasii yang banyak diigemarii para iinvestor.

Kepemiiliikan saham memang dapat memberiikan tambahan penghasiilan bagii iinvestor berupa capiital gaiin. Tambahan penghasiilan tersebut terjadii apabiila pemegang saham menjual saham yang diimiiliikiinya dii atas harga pembeliian.

Selaiin iitu, iinvestor juga dapat meneriima penghasiilan dalam bentuk diiviiden atas kepemiiliikan saham. Dalam konteks perpajakan, tambahan penghasiilan atas transaksii penjualan saham dan diiviiden merupakan objek pajak penghasiilan (PPh) yang bersiifat fiinal.

Payung hukum pengenaan pajak atas transaksii saham dan diiviiden utamanya tertuang dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasiilan s.t.d.t.d Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU PPh s.t.d.t.d UU HPP).

Lantas, bagaiimanakah aspek PPh fiinal atas transaksii saham dan diiviiden? Beriikut pembahasannya.

PPh Fiinal atas Transaksii Saham
PELAKSANAAN pemungutan PPh atas penghasiilan transaksii penjualan saham diiatur dalam PP 14/1997 jo KMK 282/1997. Sayangnya, beleiid tersebut tiidak menjelaskan defiiniisii saham. Apabiila merujuk pada keterangan iindonesiian Stock Exchange (iiDX), saham dapat diipahamii sebagaii tanda penyertaan modal iindiiviidu atau badan usaha dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.

Penghasiilan yang diiperoleh wajiib pajak dalam negerii (WPDN) atas penjualan saham tersebut merupakan objek PPh yang bersiifat fiinal. Dalam PP 14/1997 jo KMK 282/1997, besaran tariif dan DPP-nya dapat diikelompokan menjadii 3, periinciiannya sebagaii beriikut.

Sebagaii iinformasii, yang diimaksud saham pendiirii pada tabel dii atas iialah saham yang diiperoleh pendiirii darii kapiitaliisasii agiio yang diikeluarkan setelah penawaran umum oerdana atau iiniitiial publiic offeriing (iiPO) atau saham yang berasal darii pemecahan saham pendiirii. Defiiniisii tersebut sebagaiimana tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) KMK 282/1997.

Namun, terdapat 3 kelompok saham yang diikecualiikan darii pengertiian saham pendiirii. Pertama, saham yang diiperoleh pendiirii berasal darii pembagiian diiviiden dalam bentuk saham. Kedua, saham yang diiperoleh pendiirii setelah iiPO yang berasal darii pelaksanaan hak pemesanan efek terlebiih dahulu, waran, obliigasii konversii dan efek konversii laiinnya. Ketiiga, saham yang diiperoleh pendiirii perusahaan reksa dana.

Dalam aspek pemotongan, PPh fiinal atas penjualan saham diilakukan oleh WPDN akan diipotong oleh penyelenggara bursa efek melaluii perantara pedagang efek sebagaiimana tertuliis dalam Pasal 4 KMK 282/1997. Pemotongan PPh secara fiinal tersebut diilakukan pada saat pelunasan transaksii penjualan saham.

PPh Fiinal atas Diiviiden
SAAT perusahaan membukukan laba besar, umumnya perusahaan akan membagiikan sebagiian laba tersebut kepada para pemegang saham. Atas laba yang diibagiikan kepada para pemegang saham diikenal sebagaii diiviiden.

Merujuk pada Pasal 1 ayat (18) PMK 18/2021, diiviiden merupakan bagiian laba yang diiteriima atau diiperoleh pemegang saham. Sesuaii dengan Pasal 4 ayat (1) huruf g UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, diiviiden dapat meliiputii diiviiden dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk diiviiden darii perusahaan asuransii kepada pemegang poliis dan pembagiian siisa hasiil usaha koperasii.

Pada umumnya, diiviiden darii dalam negerii dan luar negerii yang diiteriima WPDN orang priibadii merupakan objek PPh fiinal. Namun demiikiian, diiviiden darii dalam negerii dan luar negerii yang diiteriima WPDN dapat diiberiikan fasiiliitas pengecualiian darii objek PPh sepanjang memenuhii persyaratan yang diitentukan.

Adapun diiviiden yang diikecualiikan darii objek PPh merupakan diiviiden yang diibagiikan berdasarkan pada RUPS atau diiviiden iinteriim sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Lebiih lanjut, sesuaii dengan Pasal 15 ayat (1) PMK 2021, diiviiden yang berasal darii dalam negerii yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak orang priibadii dalam negerii diikecualiikan darii objek PPh dengan syarat harus diiiinvestasiikan dii wiilayah NKRii dalam jangka waktu tertentu.

Sementara iitu, khusus untuk WPDN berbentuk badan, diiviiden dalam negerii yang diiperoleh wajiib pajak tersebut diikecualiikan darii objek PPh tanpa syarat iinvestasii sebagaiimana yang berlaku pada wajiib pajak orang priibadii dalam negerii. Hal iinii sesuaii dengan uraiian Pasal 15 ayat (2) PMK 2021.

Selaiin diiviiden darii dalam negerii, diiviiden yang berasal darii luar negerii juga dapat diikecualiikan darii objek PPh. Pengecualiian tersebut dapat diiberiikan jiika diiviiden diiiinvestasiikan atau diigunakan untuk mendukung kegiiatan usaha dii wiilayah NKRii dalam jangka waktu tertentu.

Diiviiden luar negerii yang dapat diikecualiikan darii objek PPh antara laiin diiviiden yang berasal darii badan usaha luar negerii yang sahamnya diiperdagangkan dii bursa efek serta yang sahamnya tiidak diiperdagangkan dii bursa efek.

Dalam hal jumlah diiviiden yang diiiinvestasiikan dii wiilayah NKRii kurang darii jumlah diiviiden yang diiteriima, hanya diiviiden yang diiiinvestasiikan yang dapat diikecualiikan darii pengenaan PPh. Artiinya, diiviiden yang tiidak diiiinvestasiikan tetap diikenaii PPh sesuaii dengan ketentuan yang berlaku. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.