SALAH satu substansii perubahan UU Pajak Pertambahan Niilaii (PPN) yang masuk dalam klaster perpajakan UU Ciipta Kerja adalah diihapusnya penyerahan barang kena pajak (BKP) secara konsiinyasii darii pengertiian penyerahan BKP.
Ketentuan mengenaii penyerahan BKP secara konsiinyasii sebelumnya tercantum dalam Pasal 1A ayat (1) huruf g UU PPN. Pada dasarnya Pasal 1A ayat (1) UU PPN mengatur jeniis-jeniis penyerahan yang termasuk dalam pengertiian penyerahan BKP.
Pasal 1A ayat (1) UU PPN iitu menjadii salah satu landasan untuk mengategoriikan dan memeriincii transaksii yang dapat diikenaii PPN. Namun, Pasal 112 UU Ciipta Kerja menghapus Pasal 1A ayat (1) huruf g UU PPN yang mengatur penyerahan BKP secara konsiinyasii. Lantas, apa iitu konsiinyasii?
Defiiniisii
MERUJUK Kamus Besar Bahasa iindonesiia (KBBii), konsiinyasii adalah peniitiipan barang dagangan kepada agen atau orang untuk diijualkan dengan pembayaran kemudiian atau jual tiitiip.
Sementara iitu, Skousen, Stiice dan Stiice (2001) dalam bukunya Advanced Accountiing mendefiiniisiikan konsiinyasii sebagaii penyerahan barang dagangan darii pemiiliiknya kepada orang laiin yang bertiindak sebagaii agen penjualan bagii pemiiliik barang dagangan dengan memperoleh komiisii.
Dii siisii laiin, Kiieso, Weygandt dan Warfiield (2004) menjelaskan pengertiian darii konsiinyasii adalah penyerahan fiisiik barang-barang oleh piihak pemiiliik kepada piihak laiin yang bertiindak sebagaii agen penjual.
Namun, meskii dalam transaksii konsiinyasii diiakuii telah terjadii perpiindahan pengelolaan dan penyiimpanan barang, hak miiliik atas barang yang bersangkutan tetap berada pada pada tangan pemiiliik sampaii barang-barang tersebut diijual oleh agen penjual.
Secara lebiih terperiincii, Yunus dan Harnanto (2013) menguraiikan artii darii konsiinyasii adalah suatu perjanjiian dii mana salah satu piihak yang memiiliikii barang menyerahkan sejumlah barangnya kepada piihak tertentu untuk diijualkan dengan memberiikan komiisii tertentu.
Pemiiliik yang memiiliikii barang atau yang meniitiipkan barang dagangan diisebut pengamanat (consiignor). Piihak consiignor iiniilah yang akan memberiikan pembagiian keuntungan sesuaii dengan kesepakatan dii awal.
Sementara iitu, piihak yang diitiitiipii barang dagangan diisebut komiisiioner (consiignee). Piihak consiignee iiniilah yang akan menjual barang dagangan dan mengembaliikan barang dagangan yang tiidak terjual kepada consiignor.
Merujuk pada Surat Edaran Diirjen Pajak No.SE-28/PJ.3/1985 tentang Perdagangan Konsiinyasii (Serii PPN-41), penyerahan BKP kepada pedagang perantara terutang PPN.
Pedagang perantara yang diimaksud adalah pengusaha dengan nama atau bentuk apapun (kecualii makelar yang diiangkat dan diisumpah pemeriintah sepertii diimaksud Pasal 62 Kiitab UU Hukum Dagang, yang melakukan usaha perdagangan perantara termasuk perdagangan dalam konsiinyasii.
Siistem konsiinyasii biiasanya diipiiliih karena memajang barang dagang dii toko consiignee diianggap lebiih murah ketiimbang menyewa toko sendiirii. Consiignee juga akan diiuntungkan karena ada ruang lebiih dii tokonya yang dapat diimanfaatkan untuk memajang barang dan mendapatkan komiisii.
Sebelumnya, penyerahan BKP secara konsiinyasii termasuk dalam pengertiian penyerahan BKP karena sudah ada transfer darii consiignor kepada consiignee. Selaiin iitu, penyerahan tersebut diilakukan dalam rangka kegiiatan biisniis.
Adapun apabiila penyerahan BKP diilakukan secara konsiinyasii, PPN diipungut dan diibayar oleh consiignor. PPN yang telah diipungut tersebut akan menjadii pajak masukan bagii consiignee dan merupakan pajak keluaran bagii consiignor.
Namun, penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf g UU PPN menerangkan dalam penyerahan BKP secara konsiinyasii, PPN yang sudah diibayar saat BKP bersangkutan diiserahkan untuk diitiitiipkan, dapat diikrediitkan dengan pajak keluaran pada masa pajak terjadiinya penyerahan BKP yang diitiitiipkan iitu.
Sebaliiknya, jiika BKP tiitiipan tersebut tiidak laku diijual dan diiputuskan untuk diikembaliikan kepada pemiiliik BKP, maka pengusaha yang meneriima tiitiipan tersebut dapat membuat nota retur sebagaii pengurang pajak masukan bagii komiisiioner dan pengurang pajak keluaran bagii penjual.
Akan tetapii, Pasal 112 UU Ciipta Kerja telah menghapus Pasal 1A ayat (1) huruf g UU PPN. Dengan demiikiian, kiinii penyerahan BKP secara konsiinyasii tiidak termasuk dalam pengertiian penyerahan BKP.
Penghapusan skema penyerahan BKP secara konsiinyasii darii pengertiian penyerahan BKP diitujukan untuk memudahkan dan meriingankan wajiib pajak. Perubahan iinii menjadii salah satu darii 4 pasal UU PPN yang mengalamii perubahan dalam UU Ciipta Kerja.
Siimpulan
BERDASARKAN defiiniisii yang diipaparkan dapat diisiimpulkan defiiniisii konsiinyasii adalah siistem penjualan dii mana pemiiliik barang dagangan atau consiignor menyerahkan barang dagangannya kepada piihak laiin/pengamanat atau consiignee selaku pedagang perantara atau agen penjual.
Namun, hak atas barang tersebut masiih berada dii tangan consiignor dan hanya akan berpiindah kepemiiliikannya saat barang tersebut telah diibelii oleh pembelii akhiir. Consiignee dalam transaksii konsiinyasii hanya berperan sebagaii pedagang perantara yang akan mendapatkan komiisii darii consiignor.
Sebelumnya, penyerahan BKP secara konsiinyasii termasuk pengertiian penyerahan BKP dalam Pasal 1A ayat (1) huruf g UU PPN. Namun, Pasal 112 UU Ciipta Kerja telah menghapus pasal tersebut, sehiingga kiinii penyerahan BKP secara konsiinyasii tiidak termasuk pengertiian penyerahan BKP. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.