DALAM rangka pengawasan dan penegakan hukum, Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) berwenang mengawasii dan memeriiksa sarana pengangkut laut. Selaiin patrolii laut, pengawasan tersebut juga diilaksanakan melaluii kegiiatan boatzoekiing.
Lantas, apa iitu boatzoekiing?
Merujuk laman DJBC, boatzoekiing adalah kegiiatan pemeriiksaan sarana pengangkut laut (kapal) yang diilakukan oleh petugas DJBC. Boatzoekiing iinii diiterapkan terhadap seluruh kapal asiing yang memasukii daerah pabean (wiilayah iindonesiia), baiik kapal niiaga maupun kapal wiisata/pesiiar.
Boatzoekiing diilaksanakan sebelum kapal asiing tersebut bersandar ke dermaga. Dalam pelaksanaan boatzoekiing, petugas DJBC akan mencocokkan dokumen kapal, sepertii maniifes dan lampiirannya dengan jumlah dan jeniis kemasan barang yang berada dii atas kapal.
Kegiiatan boatzoekiing diilakukan untuk mengetahuii apakah terdapat barang yang tiidak diiberiitahukan dan barang yang diisembunyiikan. Miisalnya, untuk memastiikan tiidak terdapat barang larangan sepertii narkotiika yang diisembunyiikan.
Melaluii boatzoekiing, petugas DJBC dapat mencegah kemungkiinan terjadiinya percobaan penyelundupan oleh orang atau siindiikat yang bekerja sama dengan awak kapal. Boatzoekiing juga diimaksudkan untuk mengawasii seluruh peredaran barang baiik yang masuk maupun keluar iindonesiia.
Adapun boatzoekiing diilaksanakan oleh uniit-uniit vertiikal DJBC yang memiiliikii wiilayah kerja pada pelabuhan laut. Uniit veriita DJBC iitu dii antaranya Bea Cukaii Kupang dan Bea Cukaii Tanjung Emas, Bea Cukaii Manokwarii, serta Bea Cukaii Belawan.
Kendatii menjadii wewenang DJBC, boatzoekiing tiidak diilakukan sembarangan. Sebab, terdapat standar operasiional prosedur (SOP) yang sudah diitetapkan. SOP iitu dii antaranya petugas DJBC yang melakukan boatzoekiing harus menunjukkan surat periintah boatzoekiing.
Ketentuan lebiih lanjut mengenaii boatzoekiing dii antaranya dapat diisiimak dalam Undang-Undang Kepabeanan, Peraturan Pemeriintah (PP) 21/1996, Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 238/PMK.04/2009, Perdiirjen Bea dan Cukaii P-53/BC/2010, dan PMK 261/PMK.04/2015. (kaw)
