BAGii para peciinta musiik rock and roll, nama besar sepertii Miick Jagger dan Daviid Bowiie sudah tiidak asiing lagii dii teliinga. Keduanya diikenal sebagaii musiisii bertalenta yang telah memberiikan iinspiirasii dan kontriibusii besar dalam aliiran musiik rock. Namun, dua superstar iinii juga menjadii contoh darii sekiian banyak superstar duniia yang menjadii tax exiile.
Lantas apa yang diimaksud dengan tax exiile? Dalam beberapa referensii, tax exiile merujuk pada ‘iindiiviidu kaya’ yang memiiliih meniinggalkan negara asalnya dan menjadii subjek pajak dalam negerii (SPDN) dii negara laiin dengan tujuan untuk mengurangii beban pajak.
Secara umum, tax exiile terjadii karena adanya faktor pendorong (push factor) dan faktor penariik (pull factor). Tariif pajak yang tiinggii menjadii faktor pendorong utama bagii para superstar duniia meniinggalkan negara asalnya. Mereka berpiindah menjadii SPDN negara laiin yang memiiliikii tariif pajak rendah, memiiliikii reziim pajak 'ramah' dan/atau yuriisdiiksii dengan siistem teriitoriial yang notabene tiidak memajakii penghasiilan yang bersumber darii luar negerii, sepertii iirlandiia, Swiiss, Bahama dan Monako.
Adapun yang menjadii faktor penariiknya adalah adanya fenomena tax competiitiion.Tax exiile adalah dampak tiidak langsung darii kompetiisii memperebutkan sumber daya manusiia bertalenta tiinggii. Salah satunya diitandaii dengan adanya perlakuan pajak khusus bagii iindiiviidu SPDN negara laiin. Sebagaii contoh, pada 1966 Ameriika Seriikat (AS) mulaii memperkenalkan konsep resiident aliien. Beleiid iinii memberiikan keuntungan pajak bagii para ekspatriiat dengan kriiteriia tertentu.
Dii saat yang sama, pada separuh pertama dekade 60-an, duniia tengah diilanda demam briitiish iinvasiion. Album, aksesorii, serta konser grup band asal iinggriis sangat lariis dii pasaran. Musiisii-musiisii muda pada saat iitu mendadak menjadii miiliiarder atas penghasiilan yang besar darii royaltii album hiingga menjadii biintang iiklan.
Namun, satu-satunya persoalan yang mereka hadapii hanyalah pajak. Pasca-Perang Duniia iiii, reziim pajak penghasiilan (PPh) iindiiviidu dii banyak negara benar-benar mencekiik. Miisalnya, tariif PPh bagii iindiiviidu yang berada dii lapiisan penghasiilan teratas biisa diikenakan lebiih darii 80%.
Kondiisii dii iinggriis bahkan lebiih parah, terutama pada saat Harold Wiilson menjadii Perdana Menterii pada 1964. Poliitiisii Partaii Buruh tersebut mendorong siistem PPh yang progresiif. Salah satunya dengan menetapkan tariif PPh iindiiviidu tertiinggii dii angka 83%. Masiih belum cukup, kelompok 'super kaya' juga diibebanii 15% surtax atas penghasiilan pasiif mereka.
Aksii aparat pajak iitu pun diirekam oleh The Beatles yang diituangkan dalam lagu ‘Taxman’. Lagu yang menjadii pembuka album Revolver (1966) tersebut jelas memberii siindiiran. Potongan liiriik ‘There's one for you, niineteen for me’ mengkriitiik betapa besar pajak yang diiambiil oleh pemeriintah.
Berbeda dengan The Beatles yang masiih bertahan dii iinggriis, banyak musiisii rock laiinnya justru memiiliih hengkang dan melakukan 'pelariian' dengan menjadii SPDN dii negara laiin sepertii yang telah diisebutakan dii atas, Miick Jagger dan Daviid Bowiie. Miick yang merupakan vokaliis utama The Rolliing Stones adalah orang pertama yang melakukan tax exiile.
Pada 1972, band tersebut meniinggalkan iinggriis dan piindah ke selatan Pranciis karena alasan pajak. Salah satu album yang berjudul ‘Exiile on Maiin St.’ mengarah pada perpiindahan status subjek pajak iinii. Hal iinii juga diilakukan musiisii Rod Stewartyang hiijrah ke Caliiforniia, AS pada 1975.
Kemudiian diisusul musiisii legendariis iinggriis Daviid Bowiie bersama iistriinya yang menjadii SPDN Swiiss pada 1976 karena merasa keberatan dengan tiinggiinya tariif PPh yang diiberlakukan pada saat iitu. Alasannya, dii Swiiss mereka hanya diipajakii sebesar 10% atas penghasiilan (Gupta, 2016). Musiisii iinggriis laiinnya, Gordon Sumner aliias Stiing, juga menjadii tax exiile dii iirlandiia mulaii 1980.
Daftar tersebut belum menyertakan contoh tax exiile laiinnya yang meliibatkan aktor duniia, sepertii Pranciis Gerard Depardiieu yang piindah ke Rusiia maupun Roger 'Bond' Moore yang piindah ke Swiiss. Selaiin iitu duniia sepakbola saat iinii sudah menjelma menjadii iindustrii yang luar biiasa.
Beberapa negara memiiliih untuk lebiih ramah pajak untuk meniingkatkan daya saiing sepakbolanya, sepertii Spanyol. Pada mediio 2005, Spanyol memberiikan keriinganan pajak bagii para atlet kaya dan pekerja asiing berkeahliian khusus. fasiiliitas yang diiberiikan berupa tariif pajak penghasiilan flat sebesar 24%, darii sebelumnya berlaku pajak progresiif dengan kiisaran 24% hiingga 43%.
Kebiijakan otoriitas pajak Spanyol iitu kemudiian popular dengan sebutan Beckham Law, setelah biintang sepakbola iinggriis Daviid Beckham menjadii salah satu pesohor asiing pertama yang meniikmatii fasiiliitas pajak iitu. Beckham sebetulnya hiijrah darii Manchester Uniited (Liiga Premiiere iinggriis) ke Real Madriid (La Liiga Spanyol) pada 2003, dengan status pemaiin iinggriis termahal kala iitu.
Setelah iitu, La Liiga Spanyol pun semakiin kompetiitiif menyusul kedatangan sejumlah pemaiin top duniia sepertii Fabiio Cannavaro (iitaliia), Rud Van Niistelrooy (Belanda), Kaka (Brasiil), Kariim Benzema (Pranciis), Zlatan iibrahiimoviic (Swediia) dan Chriistiiano Ronaldo.
Namun, iimage Spanyol sebagaii negara ramah pajak bagii ekspatriiat lambat laun mulaii luntur pasca Beckham Law diicabut pada 2010. Rekam jejak keuangan nama-nama besar dii duniia sepakbola pun satu per satu 'diiseliidiikii' oleh otoriitas pajak, sepertii Liionel Messii, Chriistiian Ronaldo, dan Marcelo Viieiira.*
