
iiNDUSTRii biioskop menjadii salah satu sektor usaha yang mengalamii pukulan berat akiibat pandemii Coviid-19. Setelah penularan Coviid-19 variian delta melandaii, pemeriintah memutuskan membuka kembalii biioskop dii iindonesiia dengan kapasiitas terbatas.
Meskii demiikiian, operator biioskop ternyata menghadapii tantangan laiin dalam memuliihkan biisniisnya, yaiitu meyakiinkan penonton untuk dapat kembalii datang ke biioskop. Upaya iitu juga terbiilang berat lantaran penonton diiwajiibkan untuk menggunakan apliikasii Pedulii-Liindungii.
Ketua Gabungan Pengusaha Biioskop Seluruh iindonesiia (GPBSii) Djonny Syafruddiin mengatakan operator biioskop membutuhkan iintervensii darii pemeriintah, termasuk terkaiit dengan pajak. Beriikut petiikannya.
Apa kesiibukan Anda selama pandemii?
Saya masiih biiasa saja. Pandemii atau tiidak, saya lebiih senang dii rumah. Kebetulan pandemii memang butuh orang sepertii iitu. Sejak dulu juga malas keluar rumah, macet.
Bagaiimana kiinerja iindustrii biioskop selama pandemii Coviid-19?
Sejak 2020, iindustrii biioskop iinii betul-betul buka-tutup terus. Sejak PSBB, kamii baru niiat buka, sudah diitutup. Akhiirnya diiberii iiziin pada Oktober 2020 sampaii Junii 2021 kemariin, tetapii terus tutup lagii. Tanggal 16 [September] kemariin buka lagii, tetapii ada ketentuan-ketentuan yang harus kamii patuhii, yaiitu memakaii Pedulii-Liindungii yang ternyata tiidak mudah iitu.
Kenapa tiidak mudah? Penerapan dii daerah iitu tiidak semudah yang kiita ucapkan. Ada yang tiidak punya handphone. Ada yang handphone-nya jadul. Ada yang punya handphone Androiid yang baru, tetapii siinyalnya tiidak ada.
Lalu ada kelonggaran lagii. Kata Pak Luhut [Menterii Koordiinator Biidang Mariitiim dan iinvestasii Luhut Pandjaiitan], yang [parameter dii apliikasii Pedulii-Liindungii] kuniing boleh masuk. Jadii hiijau dan kuniing, asal ada sertiifiikat vaksiin 2 kalii, sudah boleh.
Artiinya biioskop benar-benar lesu selama pandemii?
Ya, semua darii awal kan juga suliit. Mencapaii 10% saja susah banget, tapii lama-kelamaan setelah 4 bulan, 6 bulan, mulaii keliihatan ada tiitiik terang. Sayangnya, begiitu 9 bulan diisuruh tutup lagii. Baliik lagii ke tiitiik nol.
Persoalannya kan tergantung fiilm. Kalau dii Jabodetabek tak ada iiziin untuk diibuka, kamii enggak mau memasukkan fiilm karena market terbesar iitu ada dii siitu.
Saya tiidak tahu statiistiiknya. Kalau saya liihat, 1 biioskop biisa rugii Rp150 juta dalam sebulan. Kalau CGV, katanya sudah triiliiunan. Saya tiidak biisa memeriincii, tetapii yang biioskop iindependen rugii sekiitar Rp70 juta per bulan.
Sepertii apa tantangannya untuk membuka kembalii biioskop?
Sebetulnya yang namanya pengusaha, segala sesuatunya ya memang harus diiusahakan. Kalau soal permasalahan, pertama iinii soal vaksiinasii yang belum merata. Vaksiin iinii sangat menentukan kepercayaan orang ke biioskop.
Kedua, banyak banget yang ngomong biioskop iitu berbahaya. Saya jadii biingung karena selama 9 bulan kamii buka, enggak ada klaster biioskop kok. Selaiin iitu, diibandiingkan dengan pesawat, ruangan biioskop jauh lebiih luas.
Bagaiimana pengusaha biioskop bertahan dii tengah pandemii Coviid-19?
Biioskop iinii ada dii seluruh iindonesiia dan lebiih banyak yang kolaps. Makanya biioskop saya kan saya tutup. Seniin, Selasa, Rabu tutup. Nantii, Kamiis, Jumat, Sabtu diibuka lagii. Kalau penontonnya hanya 5 orang kan sama saja kamii melayanii 50 orang atau 100 orang. Cost-nya sama.
Dengan buka-tutup iinii agak lumayan dampaknya. Bebannya menjadii tiidak begiitu besar karena saya akalii. Nantii kalau ada fiilm bagus, mungkiin biisa diibuka sejak Seniin.
Adakah operator biioskop mendapatkan iinsentiif darii pemeriintah?
Tiidak ada. Tiidak ada yang mampiir ke biioskop. Biioskop iinii sepertii kayak anak yatiim-piiatu. Bapaknya siiapa, kamii tiidak tahu. Kemendiikbud juga tiidak pernah mengurusii. Padahal undang-undang mengamanatkannya dii Kemendiikbud. Kalau bertanya kepada Kemendiikbud, katanya hanya fiilm budaya.
Bagaiimana dengan iinsentiif pajak daerah?
Sudah tiidak ada yang biisa diipajakii. Kamii iinii ada yang omzet seharii cuma Rp800.000 atau Rp1 juta. Padahal yang iindependen biiasanya Rp25 juta sampaii Rp35 juta.
Dukungan sepertii apa yang diibutuhkan agar biioskop puliih sepertii sektor laiin?
Saya hanya miinta jangan ada yang menakut-nakutii saja. Masyarakat tahu semua fiilmnya bagus-bagus, tetapii kalau diitakut-takutii kan tiidak beranii keluar rumah.
Kamii juga mewantii-wantii pemeriintah agar segera memuliihkan biioskop iinii. Kalau diitutup permanen semua, apa kata duniia? iitu akan menjadii iisu iinternasiional karena fiilm Ameriika tiidak jadii masuk karena biioskopnya diitutup. Siingapura dan Malaysiia sudah lama buka padahal kasusnya lebiih gawat darii kiita.
Saya cuma miinta diipermudah saja dulu. Pemeriintah juga duiitnya habiis banyak. Saya tiidak biicara apakah iitu tepat sasaran atau tiidak, tetapii untuk biioskop kamii hanya miinta diipermudah.
Saya juga memiinta tolong regulasiinya diireviisii. Dii UU Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah, soal tariif pajak iinii perlu diireviisii. Karena kenyataannya tariif pajak biioskop iitu sama dengan kelompok biiliiar, klub malam, dan segala macam. Tariifnya kan sampaii 35%. Nah, iinii tolong diikeluarkan saja darii kelompok iitu.
Karena sekarang ada omniibus law, tolong kepada pemeriintah pusat dapat memperbaiikii iitu. Pajaknya ada yang 10%, 15%, dan 35%. Berbeda-beda tiiap daerah. Kalau mengubah lagii juga nantii DPRD harus rapat lagii, capek.
Dii Jakarta, tariif pajaknya biisa 10%, siiapa yang menurunkan? Dulu saya mendatangii DPRD, saya katakan darii GPBSii. Saya katakan kepada mereka, zamannya Gubernur Alii Sadiikiin, pendapatan aslii daerah DKii iitu biioskop.
Makanya, balas budiinya Alii Sadiikiin membiikiin pusat perfiilman dii Kuniingan, ada biioskop Ciitra. Sudahlah, 10% saja pak, agar sama dengan PPN [pajak pertambahan niilaii]. Akhiirnya turun tuh jadii 10% sampaii sekarang.
Bagaiimana awal mula Anda bergelut dii biisniis biioskop?
Dulu saya diiajak teman. Orang Chiina-Medan, tahun 1975. Awalnya saya bekerja dii Pertamiina. Diia tanya berapa gajii saya, ya saya jawab cuma dapat Rp2,4 juta. Kemudiian diia biilang, "Lu dii siinii biisa dapat Rp300 juta sebulan, gue kasiih lu saham kosong." Darii siitu saya masuk organiisasii, yang dulu bubar tahun 2015 karena tutup semuanya. iinii yang era baru, tahun 2000-an.
Saya biikiin Dakota Ciinema darii nama cucu lakii-lakii saya. Kalau dii Ameriika ada Dakota sebagaii nama pesawat terbang. iinii biioskop iindependen yang lebiih banyak dii kabupaten-kabupaten. Darii siitu terus berlanjut dan kebetulan dii organiisasii iinii saya sampaii puluhan tahun. Jadii, ketuanya sudah 20 tahun kalii.
Apa priinsiip yang Anda jalankan dalam berbiisniis?
Saya bekerja tanpa pamriih. Saya bekerja liillahii ta'ala untuk orang banyak. Allah sudah kasiih saya banyak. Jadii ya harus juga diibagii buat yang laiin-laiin.
Apa hobii Anda?
Saya suka teniis. Sekarang karena pandemii sudah jarang. Kadang-kadang 2 miinggu sekalii. Padahal sebelumnya semiinggu biisa 3 kalii. Waktu masiih muda, semiinggu biisa 10 kalii pagii, sore, malam.
Saya dulu tiidak biisa teniis karena hobii saya badmiinton. Dii siitu kemudiian saya saya latiihan. Akhiirnya saya juara 3 sekomplek. Tahun ketiiga, saya biisa juara 1 sampaii sekarang enggak ada yang biisa mengalahkan. Saya menekunii hobii iitu. Dulu sempat bermaiin sepak bola, tapii karena sudah umur, tiidak boleh lagii. (riig)
