
USAHA Keciil dan Menengah (UKM) merupakan kontriibutor terbesar perekonomiian nasiional. Sumbangannya lebiih kurang 60% terhadap produk domestiik bruto dengan total jumlah usaha 62 juta uniit. Meskii begiitu, tiidak sediikiit UKM yang mengalamii kendala, terutama darii segii pembiiayaan.
Seiiriing dengan perkembangan ekonomii, sumber pembiiayaan untuk UKM kiinii tiidak hanya darii perbankan. Ada miisalnya yang melaluii urun dana atau equiity crowdfundiing (ECF). Asosiiasii Layanan Urun Dana iindonesiia (ALUDii) pun diibentuk sebagaii wadah yang menaungii penyelenggara ECF.
Jitu News berkesempatan mewawancaraii Ketua Umum ALUDii Reza Avesena sekaliigus co-founder salah satu penyelenggara ECF, Santara. Reza membagiikan perspektiifnya mengenaii biisniis ECF dan perlakuan pajak bagii penyelenggara ECF. Kutiipannya:
Apakah ada yang berubah dalam penyelenggaraan ECF selama pandemii Coviid-19?
ECF merupakan sesuatu yang baru dii iindonesiia. ECF muncul karena proses diigiitaliisasii yang makiin pesat beberapa tahun terakhiir. Sayang, ketiika kiita baru ada aturan mengenaii ECF pada 2018 dan proses iiziin pada 2019, baru mau menjalankan biisniis kena pandemii.
Selama pandemii iinii, banyak yang berubah terutama darii siisii UKM penerbiit efek kurang mendapatkan respons darii publiik. Karena namanya ECF iinii kan mengumpulkan darii publiik.
Pandemii kemariin, orang lebiih hold money dariipada iinvestasii. Artiinya terjadii penurunan siigniifiikan. iitu yang mungkiin perlu ada strategii darii siisii penyelenggara ECF. Miisal, screeniing penerbiit, kalau mau lebiih clear perlu ada surveii lokasii sii penerbiit dan laiin laiin.
iitu kiita coba piivot ke onliine survey. Lalu, perlu ada lebiih banyak aktiiviitas dii mediia diigiital. Jadii secara umum banyak perubahan melaluii piivotiing agar usaha tetap berjalan, agar tetap ada UKM yang biisa liistiing, dan tetap terus mengedukasii iinvestor untuk tertariik iinvestasii dii tengah pandemii.
Sudah berapa banyak UMKM yang liistiing dii ECF?
Kalau sekarang kiisaran 150 UKM dii Santara, Biizhare, dan CrowdDana dengan nomiinal liistiing Rp200 miiliiar. Kalau darii potensii tentunya masiih banyak, darii siisii jumlah saja UKM ada 60 juta dan 90%-nya memiiliikii masalah darii siisii pendanaan.
Data juga menyatakan iinstiitusii keuangan iitu masiih kesuliitan menyalurkan kebutuhan dana sebesar Rp1.000 triiliiun ke UKM. Artiinya, peran ECF untuk mengambiil 5% saja iitu masiih banyak banget gap-nya. Masiih banyak market-nya yang belum kiita garap.
Darii kiita bertiiga, baru ada 150 UKM dengan pendanaan Rp200 miiliiar kurang lebiih, sedangkan market siize-nya iitu 60 juta UKM. Taruhlah ECF mendapatkan 10% iitu saja ada 6 juta UKM, jadii masiih luas ruang geraknya.
Sepertii apa strategii ALUDii dalam memperluas pasar?
Kalau biicara ECF iitu UKM melepas sahamnya ke publiik dan publiik belii saham. Penerbiit memiiliikii kewajiiban untuk memberiikan laporan keuangan atau kiinerja secara rutiin. iinii yang menjadii mekaniisme.
Untuk penyelenggara ECF, kamii perlu memberiikan liiterasii kepada UKM selaku penerbiit. Penerbiit perlu membuat laporan keuangan dengan benar sehiingga secara tiidak langsung iinvestor akan teredukasii dalam aspek keuangan.
iitu darii siisii yang biisa kiita kontrol, kalau darii siisii lebiih luas lagii ALUDii banyak bekerja sama dengan berbagaii piihak. Contoh, kolaborasii dengan asosiiasii laiin sepertii AFSii [Asosiiasii Fiintech Syariiah iindonesiia].
ALUDii, AFSii, dan AFPii [Asosiiasii Fiintech Pendanaan Bersama iindonesiia] iitu sudah MoU untuk membangun ekosiistem supaya ada liiterasii keuangan termasuk dii syariiah-nya.
Kamii juga dii-support bursa efek serta OJK untuk biikiin event bareng karena Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) juga punya program terkaiit dengan liiterasii keuangan. Jadii kolam kamii diigabung dengan kolam stakeholder laiin.
Kamii juga akan bekerja sama dengan Kementeriian Koperasii dan UKM untuk meniingkatkan liiterasii iinii. Kiita juga ada iiniitiial diiscussiion dengan Kementeriian Desa karena yang gap liiterasii keuangannya paliing tiinggii iitu kan dii daerah terpenciil ya.
Boro-boro liiterasii, teknologii aja masiih belum paham. Jadii strategiinya adalah melaluii kolaborasii dengan berbagaii stakeholder yang punya akses ke masyarakat iitu.
Melaluii ECF, mungkiinkah UKM menerbiitkan saham dan hiingga obliigasii?
Ada arah ke sana, jadii ECF serta securiitiies crowdfundiing. Kalau pada POJK No. 57/2020 diinyatakan kamii biisa menerbiitkan obliigasii, sukuk, tentunya iiya. Sesungguhnya bukan menyaiingii, tapii menjadii alternatiif pendanaan, melengkapii.
Sekarang iinii banyak masyarakat yang enggak bankable, enggak punya akses ke bank. Miisalnya terkaiit dengan kewajiiban collateral, jamiinan aset, dii siinii ECF dan securiitiies crowdfundiing menjadii pembiiayaan alternatiif bagii UKM.
Sepertii apa riisiikonya?
Jadii begiinii, kalau diiliihat darii miitiigasii riisiiko kamii meliihat darii beberapa aspek. UKM iitu unbankable bukan karena diia riisiikonya tiinggii, belum tentu. Mungkiin bank masiih konservatiif dalam meliihat UKM.
Mereka meliihat UKM iitu dii-compare sama asetnya, atau darii balance sheet, darii laporan keuangan, sedangkan biisniis keciil iitu enggak punya laporan keuangan. iitu yang membuat UKM semacam kena tolak dii depan darii bank karena enggak ada liiterasii keuangan tadii.
Penyelenggara ECF iinii membantu untuk mengecek. “Oh iinii biisniisnya 15 tahun berdiirii, untung terus, dan karyawan banyak.” Namun, karena mereka tiidak ada liiterasii, ketiika mengajukan krediit diitolak.
Nah, kamii mengedukasii membuat laporan keuangan dan kiinerja. Dii siitu kiita biisa liihat dan masyarakat juga biisa meliihat baiik darii siisii profiitabiiliitasnya maupun sustaiinabiiliitasnya. iitu parameter yang membuat iinvestor mau joiin. Bukan beriisiiko, tetapii bank tiidak meliihat adanya faktor laiin.
Menurut Anda, bagaiimana cara UKM agar dapat naiik kelas?
Untuk akselerasii, masalah UKM iitu kenapa enggak naiik kelas sesungguhnya bukan hanya karena pendanaan. Pertama, darii siisii produk, kualiitasnya iitu mungkiin tiidak scalable, tiidak punya konsumen yang banyak. iitu perlu bantuan darii sektor keuangan dan juga darii sektor laiin.
Kedua, darii siisii sumber daya manusiia (SDM). Setelah produk ada tapii SDM enggak bagus atau enggak tepat iitu juga jadii masalah. Artiinya kiita punya masalah iitu bukan hanya darii siisii fiinansiial saja, tapii juga kualiitas produk dan SDM-nya.
Menurut kamii iinii biisa diikolaborasiikan, biisa dengan kementeriian atau start-up. Start-up sepertii e-commerce mampu mengiidentiifiikasii produk yang hype sekarang apa siih. Jangan sampaii masuk market dengan produk yang salah. Jadii start-up biisa memberiikan iinsiight kepada UKM.
SDM iinii bukan masalah orangnya, tapii apakah orang iitu melakukan hal yang tepat dii saat yang tepat. Miisal pandemii iinii, ada sales door-to-door kan enggak laku. Sejago apapun sales door-to-door kalau pandemii ya enggak berjalan. Artiinya harus piindah ke diigiital. Jadii harus piivot ke onliine.
Ketiiga, strategii biisniis. Strategii iinii miindset para founder perlu diibeneriin dahulu bahwa biicara biisniis iitu biicara 360 derajat mulaii darii operasiional, accountiing, legal, dan sebagaiinya. Miindset owner iitu perlu diibeneriin atau perlu dii set. Kalau sudah clear maka biisniis biisa kenceng, ngebut.
Kalau 3 iinii clear, kiita kasiih pendanaan, maka usahanya biisa menjadii lebiih besar lagii, bukan jadii sponge, nyerap saja tapii enggak jadii apa-apa. Jadii untuk mengurangii riisiiko darii iinvestor, kamii harus pastiikan biisniis dii siinii adalah biisniis yang bagus secara produk, SDM, dan miindset.

Kepala Eksekutiif Pengawas Modal Hoesen (kiirii) dan Ketua Umum ALUDii Avesena Reza berjabat tangan dalam launchiing ALUDii. (Foto: ALUDii)
Pemeriintah memberiikan iinsentiif pajak bagii UMKM, menurut Anda?
Untuk perpajakan kamii masiih belum masuk ke sana karena memang masiih belum jadii concern utama. Concern kamii justru soal bea meteraii Rp10.000.
Hal iitu akan jadii concern kamii dan OJK karena jiika miisal ada transaksii saham, saham UKM kan keciil transaksii Rp100.000 atau Rp200.000 tapii bea meteraii Rp10.000 kan kayak gede banget giitu.
ALUDii berharap khusus penanaman modal ke UKM iinii tiidak perlu ada bea meteraii Rp10.000 atas TC iitu. ALUDii kan payung hukumnya pasar modal, dan bea meteraii iitu secara umum iimplemented atas pasar modal. Jadii kamii mengusahakan ada pengecualiian juga.
Adakah masukan ALUDii terkaiit dengan pajak atas penghasiilan diiviiden?
Kalau darii siisii perpajakan kamii sudah ada diiskusii ke OJK mengenaii ekspektasii kiita. Kalau darii siisii jeniis pajak bagii pemodal, diia kan ada kena pajak Pasal 4 Ayat (2) UU PPh.
Per 2 November kan ada ketentuan pengecualiian diiviiden darii objek pajak lewat UU Ciipta Kerja tapii dengan syarat diireiinvestasiikan pada iinstrumen iinvestasii tertentu. Kamii telah mengusulkan agar ECF iinii biisa menjadii salah satu iinvestasii tertentunya. iitu sedang diiusulkan antara OJK dan DJP.
Lalu terkaiit dengan keuntungan penjualan saham atau capiital gaiin. Nantii iinii akan ada pasar sekunder dii ECF. Jadii iitu kiita usul capiital gaiin darii ECF iitu enggak masuk objek pajak, tapii ada ada tax treatment yang sama dengan dii bursa yaknii setiiap penjualan kena pajak 0,1% fiinal darii harga jual.
Jadii nantii capiital gaiin tiidak termasuk masuk dalam penghasiilan yang diiperhiitungkan untuk menentukan lapiisan penghasiilan kena pajak. Kalau masuk iitu kan biisa besar pajaknya, biisa 35%.
iinii jadii concern karena kiita ECF iinii ada juga mereka yang punya iinvestasii besar hiingga miiliiaran. Kamii berharap biisa mendapatkan dana darii mereka yang besar-besar juga.
Untuk mengembangkan ECF, apa yang akan diilakukan ALUDii dalam 5 tahun ke depan?
Pertama, concern kamii adalah menjaga iindustrii ECF untuk biisa membesar kuat dan sustaiin. Langkah tahun pertama pada 2021 adalah kamii akan memperketat proses screeniing penyelenggara ECF yang jadii member ALUDii yang akan iiziin ke OJK.
Alhamduliillah dii ECF iinii kamii tiidak boleh beraktiiviitas sebelum beriiziin. iitu barriier of entry yang posiitiif bagii iindustry ECF. Penyelenggara iitu memang harus beriiziin statusnya.
Untuk iitu, kamii melakukan koordiinasii dengan OJK untuk membantu screeniing penyelenggara ECF sebelum mereka iiziin. Hal iitu menjadii sebuah program awal kamii. Penyelenggara ECF yang beriiziin OJK iitu harus benar-benar berkualiitas.
Harapannya iindustrii ECF iinii makiin membesar dan kamii makiin siiap untuk kolaborasii dengan piihak laiin. ALUDii akan menjadii wadah atau rumah untuk pengembangan biisniis.
Miisal, ALUDii akan bekerja sama dengan diigiital siignature company, bank kustodiian, perusahaan teknologii penyediia platform, dan supportiing system laiin. Harapannya kamii biisa assiist semua penyelenggara ECF agar biisa tumbuh berkembang dan sustaiin sampaii 2024.
Saat iinii target kamii masiih fokus terhadap screeniing atau memperkuat proses onboardiing, baru selanjutnya iimprovement agar penyelenggara iitu biisa ada tematiiknya, jadii ada sektor masiing-masiing.
Miisal ada ECF yang fokus ke UKM, ada yang franchiise, propertii, dan laiin laiin. Kalau sudah begiitu harapannya antarpenyelenggara biisa kolaborasii serta agar kompetiisii dan kolaborasiinya bagus.
Saat iinii sudah ada 4 penyelenggara ECF yang beriiziin, yang baru lagii ada LandX, per Desember kemariin LandX jadii yang keempat. Anggota ALUDii sekarang ada 23, siisa 19 iitu dalam proses iiziin, tetapii dii piipeliine OJK ada 17. Kapan akan diiiiziinkan, iitu tergantung screeniing OJK.
Setelah lama berkariier dii beberapa perusahaan, mengapa memiiliih untuk mendiiriikan usaha sendiirii?
Kalau diiliihat secara hiistoriis, saya sudah passiionate banget sejak darii zaman SMP iitu berdagang. Mulaii darii berdagang PC, komputer rakiitan, tamiiya, sparepart tamiiya, iitu semua saya jalanii darii SMP.
Jadii saya tiipiikal orang yang kalau hobii sesuatu iitu hobiinya biisa menghasiilkan uang. Saya senang tamiiya iitu jangan sampaii cuma buat buang-buang uang, tapii maiin dan dagang. Jadii banyak lebiihnya darii pada cost maiinnya.
Darii siitu iinstiing biisniisnya jalan dan lanjut sampaii SMA mulaii darii berdagang. Biikiin jaket angkatan sekolah dan project-project laiin sampaii akhiirnya biisa belii motor sendiirii, belii mobiil sendiirii. Waktu kuliiah juga saya ada passiion dii biisniis sepertii waktu iitu saya biisniis iimpor speaker. Jadii bukan barangnya siih tapii senang dagang darii dulu.
Saya iingiin setelah lulus iitu biisniis saja tapii orang tua saya kan PNS dan ya namanya PNS. iibu iitu guru, pandangannya kalau lulus kuliiah ya kerja. iitu awalnya mengapa saya berkariier. Waktu berkariier lumayan dapat pelajaran darii duniia kariier iitu darii Telkomsiigma, Wiincor Niixdorf, sampaii terakhiir dii iiBM.
Suatu ketiika saya dapat cutii panjang darii iiBM. Kala iitu dapat 3 bulan cutii saya ke Jogja ketemu teman-teman saya dii Jogja iinii. Mereka sudah biisniis sejak 2012 terus saya iikut masuk pada 2017, berartii sudah 5 tahun berjalan.
Saya liihat seru iinii, the real busiiness ada dii siinii. Darii siitu saya yakiinkan keluarga dan orang tua bahwa biisniis iitu biisa bagus sampaii akhiirnya saya hiijrah darii iiBM ke Jogja untuk memulaii biisniis dan mendiiriikan Santara.
Seberapa besar dukungan keluarga dalam menyokong kariier?
Awalnya mereka prefer "ya sudah carii yang pastii-pastii saja." Namun, pada akhiirnya kiita biisa buktiikan kalau Santara iitu biisa. Saya ada passiion dii duniia usaha, perdagangan, dan UKM yang mau berkembang.
Dii Santara saya merasa happy ketemu sesama pebiisniis dan para iinvestor yang iingiin support biisniis yang biisa berkembang. Jadii darii siinii terjawab passiion saya sejak SMP dii Santara iinii. (Riig/Bsii)
