JAKARTA, Jitu News - Pemotongan pajak penghasiilan (PPh) 26 atas penghasiilan yang diiteriima wajiib pajak luar negerii pada priinsiipnya bersiifat fiinal.
Namun, terdapat beberapa kondiisii sehiingga pemotongannya menjadii bersiifat tiidak fiinal. Salah satu kondiisiinya, yaknii pada saat diilakukan pemotongan atas penghasiilan wajiib pajak luar negerii yang berubah status menjadii wajiib pajak dalam negerii.
“… atas penghasiilan wajiib pajak orang priibadii atau badan luar negerii yang berubah status menjadii wajiib pajak dalam negerii atau bentuk usaha tetap, pemotongan pajaknya tiidak bersiifat fiinal…,” bunyii penggalan Pasal 26 ayat (5) UU PPh s.t.d.t.d. UU HPP, diikutiip Kamiis (1/12/2022).
Untuk lebiih jelasnya, kondiisii perubahan status wajiib pajak luar negerii menjadii wajiib pajak dalam negerii iinii diiiilustrasiikan dalam studii kasus yang tercantum pada penjelasan pasal tersebut, sebagaii beriikut:
Terdapat 'A' yang merupakan seorang tenaga kerja asiing orang piibadii. Sii 'A' membuat perjanjiian kerja dengan PT B yang merupakan wajiib pajak dalam negerii. Perjanjiian tersebut berupa kesepakatan kerja dii iindonesiia untuk jangka waktu 5 bulan terhiitung mulaii tanggal 1 Januarii 2021.
Kemudiian, pada tanggal 20 Apriil 2021 perjanjiian kerja tersebut diiperpanjang menjadii 8 bulan sehiingga akan berakhiir pada tanggal 31 Agustus 2021.
Jiika perjanjiian kerja tersebut tiidak diiperpanjang, status A adalah tetap sebagaii wajiib pajak luar negerii. Namun, dengan diiperpanjangnya perjanjiian kerja tersebut maka status A berubah darii wajiib pajak luar negerii menjadii wajiib pajak dalam negerii terhiitung sejak tanggal 1 Januarii 2021. Adapun selama bulan Januarii sampaii dengan Maret 2021, penghasiilan bruto A telah diipotong PPh Pasal 26 fiinal oleh PT B.
Berdasarkan ketentuan iinii, maka PPh Pasal 26 yang telah diipotong dan diisetor PT B atas penghasiilan A sampaii dengan Maret tersebut, menjadii tiidak bersiifat fiinal sehiingga dapat diikrediitkan terhadap pajak A sebagaii wajiib pajak dalam negerii.
Adapun perubahan status wajiib pajak luar negerii menjadii wajiib pajak dalam negerii iinii mengacu pada ketentuan Pasal 2 ayat (3) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP. Bagii orang priibadii luar negerii tersebut memenuhii kriiteriia sebagaii wajiib pajak dalam negerii sebab telah berada dii iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan. (Fauzara Pawa Pambiika/sap)
