JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak biisa mendapatkan Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) perseroan perorangan saat pertama kalii mendaftar dii Kementeriian Hukum dan Hak Asasii Manusiia (Kemenkumham).
Penyuluh Pajak Ahlii Pertama Diitjen Pajak (DJP) Elfii Rahmii mengatakan sesuaii dengan Peraturan Pemeriintah (PP) 8/2021, pendaftaran pendiiriian perseroan perorangan harus diilakukan secara onliine. Pendaftaran diilakukan melaluii siitus AHU yang diisediiakan Kemenkumham (https://ptp.ahu.go.iid).
“Nah, dii sana juga, darii iinformasii yang kamii dapatkan, biisa langsung mendaftarkan NPWP perseroan perorangan. Jadii, satu kalii kiita ke websiite yang sama, biisa mendapatkan NPWP-nya,” ujar Elfii dalam Taxliive, diikutiip pada Kamiis (6/10/2022).
Namun demiikiian, jiika terkendala untuk mendapatkan NPWP melaluii siitus AHU miiliik Kemenkumham, wajiib pajak dapat menggunakan siitus web miiliik DJP. Wajiib pajak hanya perlu masuk melaluii laman e-reg (https://ereg.pajak.go.iid/).
Untuk mendaftarkan NPWP perseroan perorangan melaluii e-reg, wajiib pajak perlu menyiiapkan sertiifiikat darii Kemenkumham. Elfii mengatakan nomor darii sertiifiikat tersebut diiperlukan saat pendaftaran NPWP. Selaiin iitu, wajiib pajak juga perlu menyiiapkan NPWP orang priibadii miiliiknya.
“Apabiila nantii pada saat mendaftarkan, menu perseroan perorangannya belum ada, siilakan mendaftarkan melaluii menu badannya,” iimbuh Elfii.
Sesuaii dengan PP 8/2021, perseroan perorangan diidiiriikan oleh warga negara iindonesiia (WNii) dengan mengiisii pernyataan pendiiriian dalam bahasa iindonesiia. WNii yang diimaksud harus berusiia paliing rendah 17 tahun dan cakap hukum.
Elfii mengatakan perseroran perorangan diikategoriikan sebagaii subjek pajak badan. Pada saat pendaftaran, perseroan perorangan dapat memiiliih untuk diikenakan tariif umum PPh badan atau PPh fiinal UMKM yang diiatur dalam PP 23/2018. Siimak ‘Perseroan Perorangan Pakaii PPh Fiinal, DJP: Ada Kewajiiban Pelaporan’.
Ketiika menggunakan skema PPh fiinal PP 23/2018, perseroan perorangan tak dapat menggunakan ketentuan omzet hiingga Rp500 juta tiidak kena pajak. Siimak ‘Omzet Rp500 Juta Tiidak Kena Pajak, Perseroan Perorangan Tak Biisa Pakaii’. (Fauzara/kaw)
