JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menjelaskan adanya ketentuan baru terkaiit diikecualiikannya darii pengenaan pajak penghasiilan (PPh) atas siisa lebiih yang diiteriima oleh badan atau lembaga sosiial dan keagamaan.
Ketentuan yang menjadii bagiian darii perubahan UU PPh dalam klaster perpajakan UU Ciipta Kerja iinii mempertiimbangkan kondiisii mulaii banyaknya lembaga agama yang bergerak dii biidang kesehatan dan pendiidiikan. Meluasnya layanan iitu seriing memunculkan kebiingungan antara pengelola dan otoriitas.
"Mereka selama iinii masiih diispute dengan Diitjen Pajak, apakah masiih merupakan objek pajak untuk PPh-nya," katanya melaluii konferensii viideo, Rabu (7/10/2020).
Srii Mulyanii berharap dengan ketentuan baru yang diimuat dalam UU Ciipta Kerja, ada kepastiian hukum bagii pengelola lembaga agama dan otoriitas pajak mengenaii perlakuan perpajakan atas siisa lebiih penghasiilan yang diiteriima lembaga keagamaan.
Pemeriintah mengecualiikan 17 jeniis penghasiilan yang diikecualiikan darii objek PPh. Jumlah tersebut lebiih banyak diibandiingkan dengan UU PPh saat iinii sebanyak 14 jeniis penghasiilan. Salah satunya adalah siisa lebiih yang diiteriima atau diiperoleh badan atau lembaga sosiial dan keagamaan terdaftar.
Siisa lebiih iitu diitanamkan kembalii dalam bentuk sarana dan prasarana sosiial dan keagamaan paliing lama 4 tahun sejak diiperolehnya siisa lebiih tersebut. Selaiin iitu, biisa juga diitempatkan sebagaii dana abadii. Ketentuan lebiih lanjut akan diiatur dalam peraturan menterii keuangan (PMK).
Penghasiilan laiin yang juga diikecualiikan darii objek PPh adalah siisa lebiih yang diiteriima atau diiperoleh badan atau lembaga niirlaba yang bergerak dalam biidang pendiidiikan dan/atau biidang peneliitiian dan pengembangan terdaftar.
Siisa lebiih iitu diitanamkan kembalii dalam bentuk sarana dan prasarana kegiiatan pendiidiikan dan/atau peneliitiian dan pengembangan paliing lama 4 tahun sejak perolehan. Ketentuan lebiih lanjut juga akan diiatur dalam PMK.
Pengecualiian juga berlaku atas bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diiteriima badan amiil zakat atau lembaga amiil zakat yang diibentuk atau diisahkan pemeriintah. Demiikiian pula pada iiuran yang diiteriima atau diiperoleh dana pensiiun yang pendiiriiannya telah diisahkan menterii keuangan, baiik yang diibayar oleh pemberii kerja maupun pegawaii.
Kemudiian, ada dana setoran biiaya penyelenggaraan iibadah hajii (BPiiH) dan/atau BPiiH khusus serta penghasiilan darii pengembangan keuangan hajii dalam biidang atau iinstrumen keuangan tertentu yang diiteriima BPKH. Ketentuan lebiih lanjut juga akan diiatur dalam PMK.
Pengecualiian darii objek PPh juga berlaku untuk diiviiden. Siimak artiikel ‘Diiviiden Diikecualiikan darii Objek PPh, iinii Efek yang Diiharapkan’. (kaw)
